Part 20: Anyelir, Saya Rindu

375 46 34
                                        

Happy reading!

****
Anye menyeret langkah kakinya berat, ia berjalan seorang diri matanya sudah sangat berat ingin segera tidur. Hampir setiap hari ia pulang larut malam dari cafe bang Jery. Untungnya besok hari sabtu jadi Anye bisa tidur sampai siang. Membayangkan Kasur Anye jadi tidak sabar ingin segera membaringkan badannya di atas Kasur.

Jujur saja Anye juga tidak mau capek-capek bekerja seperti ini tapi mau bagaimana lagi ia butuh uang. Tapi Anye juga merasa betah di tempat kerjanya karena ia bisa mendapatkan teman baru dan pengalaman baru menghadapi pelanggan dengan berbagai karakter.

Anye tiba-tiba menghentikan langkahnya kala matanya melihat sebuah mobil yang terpakir di depan kosannya. Anye kenal dengan mobil itu ia tidak mungkin salah. Memang mobil seperti itu tidak hanya ada satu tapi Anye hafal betul dengan plat nomor yang tertera di sana.

Dengan ragu Anye kembali melangkahkan kakinya tinggal beberapa meter lagi Anye sampai dan benar saja ini memang mobil Rayan. Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikirannya saat ini. Malam-malam begini untuk apa Rayan datang kemari? Saat ini waktu sudah menunjukan hampir pukul 11 malam.

Dengan langkah gontai Anye membuka pagar kosannnya dan benar saja Rayan sudah duduk di bangku yang di sediakan di depan kamar Anyelir. Jantung Anye berdetak keras saat ini, rasa kantuk dan lelah yang tadi di rasakannya seakan menguap ke udara setelah melihat keberadaan Rayan di depannya.

Nafas Anye berhenti sejenak saat pandangan mereka bertemu, bibir Anye langsung kelu dan kakinya membeku tidak mau bergerak dari tempatnya.

Anye menarik nafasnya perlahan mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan ia harus tetap tenang. Tidak bisa di pungkiri ia merasa senang saat ini bisa bertemu dengan pria itu.

Rayan berdiri dari duduknya dan menghampiri Anyelir yang sepertinya tidak ada niat beranjak dari posisinya.

"Apa kabar?" Rayan yang pertama kali membuka suara. Ditatapnya gadis di depannya ini dengan perasaan rindu.

"Baik" Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Anyelir. Anye tidak tahu harus seperti apa saat ini sikapanya kepada Rayan.

"Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu." Sorot mata Rayan tidak pernah berpaling dari Anyelir. Anye lemah ditatap seperti itu oleh Rayan.

"Sudah malam sebaiknya kamu pulang." Tapi bukannya mengiyakan kalimat Rayan, Anye malah seperti mengusir Rayan.

Bukan apa-apa tapi memang saat ini sudah terlalu larut malam Anye tidak mau menganggu penghuni kost lain. Apalagi ia bersama laki-laki, tidak etis rasanya seorang perempuan membawa laki-laki ke dalam kamar kostnya malam-malam begini.

"Saya sudah menunggu 3 jam disini."
Anye bisa melihat raut lelah yang ditunjukan Rayan. Mendengar Rayan sudah menunggunya selama 3 jam membuat Anye tidak tega.

"30 menit" Rayan berkata dengan tegas, ia menarik nafasnya "Saya janji hanya 30 menit saya butuh waktu kamu."

Anye tidak mampu menolak melihat Rayan memohon seperti ini. Raut wajah Rayan saat ini sangat lelah nada bicaranya terdengar sangat frustasi. Anye jadi tidak tega menolak.

Anye memang lemah jika berhadapan dengan Rayan, sebarapa kerasnya ia mencoba untuk mengabaikan pria itu tapi hati kecilnya tidak demikian.

****

Di taman dekat kosan Anye-lah saat ini ke-dua manusia itu duduk bersisian. Hanya ada suara bising kendaraan karena di depan taman tersebut merupakan jalan raya.
Anyelir dan Rayan duduk bersisian di bangku taman di bawah temaran lampu-lampu taman yang berpendar.

Anyelir sengaja membawa Rayan ke tempat ini karena tidak mungkin mereka mengobrol di depan kosan Anye. Apalagi sekarang sudah larut malam bisa-bisa ia mendapat komplain dari penghuni kostan lain.

Anye sejak tadi mengarahkan pandangannya lurus ke depan, ia bahkan tidak sekalipun melirik ke sampingnya. Anye memang sengaja tidak mau melihat ke arah Rayan karena dia tahu sejak tadi Rayan terus mengamatinya laki-laki itu tidak pernah memalingkan pandangannya dari Anye.

Anye menarik nafasnya panjang dia sudah menunggu Rayan berbicara namun pria itu sejak tadi belum mengucapkan sepatah katapun. Karena tidak tahan dengan suasana canggung seperti ini akhirnya Anye bertanya, "Ada apa kamu menemui saya."

"Saya tadi pergi ke rumahmu tapi adik kamu bilang kamu sudah tidak tinggal di sana." Rayan berkata lurus tanpa ekspresi yang berarti.

Anyelir menunduk dan memainkan jari-jarinya kebiasaan yang sulit dihilangkan jika ia sedang gugup, "Saya memang sudah tidak tinggal lagi di rumah."

"Kenapa?" Rayan mengerutkan keningnya nada suaranya terdengar sangat mencemaskan Anyelir.

"Hanya ingin mencari suasana baru saja" jawab Anye sekenanya.

"Kamu yakin? Bukan karena ada masalah dengan orang tuamu?"

Anye cepat-cepat menggeleng "Bukan."

Rayan tidak puas dengan jawaban yang diberikan Anye. ia tahu gadis itu tengah berbohong pasalnya ia tadi sempat berbicara sebentar dengan Lili. Lili tadi menjelaskan alasan Anyelir pergi dari rumah karena pertengkarannya dengan mama tirinya mengenai Anyelir yang membatalkan pernikahan mereka.

Rayan tahu hubungan Anyelir dan mama tirinya memang tidak pernah baik. Yah, Rayan tahu semuanya karena ibunya sendiri yang mengatakannya bagaimana latar belakang Anyelir. Alasan lain yang membuat dirinya kukuh ingin menemui Anyelir selain karena rindu adalah ia ingin memastikan gadis itu baik-baik saja setelah mengetahui latar belakang ibu kandungnya.

Rayan juga baru mengetahui selama ini Anyelir menjalani hidup yang berat setelah kehilangan ibu kandungnya. Ia jadi semakin merasa berdosa telah ikut andil dalam menyumbang penderitaan di hidup gadis itu.

Sejak tadi Rayan menahan diri untuk tidak memeluk gadis di sampingnya ini. Dia sangat ingin memeluk tubuh rapuh Anyelir, Rayan ingin menjadi tempat bersandar bagi Anyelir. Ia ingin melindungi Anyelir.

Tapi melihat respon Anyelir yang dingin kepadanya Rayan mengurungkan niatnya. Anyelir seperti sedang menghindarinya. Setiap berbicara gadis itu tidak pernah mau memalingkan wajahnya. Sebenarnya apa yang membuat gadis itu memperlakukan dirinya demikian.

"Anyelir. Kamu sedang mengindari saya?" Rayan tidak tahan untuk mengatakannya, ia ingin tau apa yang membuat Anyelir begitu dingin kepadanya. Apa gadis itu sekarang membencinya?

"Enggak." Anye masih dalam posisinya menunduk dan memainkan jari-jarinya.

"Kalau kamu memang tidak menghindari saya, lihat ke arah saya jangan memalingkan wajahmu ke arah lain." Rahang Rayan mengeras ia gemas sendiri dengan sikap dingin Anye saat ini.

Anye mendengus sebal mendengar ucapan Rayan. Bukannya menuruti perintah Rayan, Anye malah beranjak dari duduknya, "Sudah 30 menit saya harus pulang." Tanpa menoleh sedikitpun ke arah Rayan, Anye berlalau meninggalkan Rayan yang masih duduk dalam posisinya.

Rayan yang tiba-tiba di tinggal begitu saja oleh Anyelir merasa heran. Apa gadis itu marah padanya kenapa dirinya ditinggal begitu saja. Rayan segera bangkit dari posisi duduknya dan memanggil Anyelir.

Ia tidak bisa melewatkan kesempatan kali ini ia harus menyampaikan isi hatinya pada gadis itu.

"Anyelir"

Anye yang baru beberapa langkah berjalan langsung mengentikan langkah kakinya. Namun ia hanya diam di posisinya tidak mau berbalik ke arah Rayan.

"Saya rindu." Suara berat Rayan berhasil membuat Anye membeku seketika.

****

TO BE CONTINUE

ANYELIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang