Ini cepet banget
Happy Reading ❤
****
Anye sedang mengupas sebuah apel untuk papanya, sejak pembicaraan mereka beberapa jam yang lalu hubungan ayah dan anak itu sudah membaik. Walaupun hubungan Anye dan tante Rianti masih seperi semula belum menunjukan ke arah yang baik namun Anye tidak berhenti berharap semoga mama tirinya itu bisa menerima dirinya.
Tadi saja saat melihat Anye di ruangan ini tante Rianti masih bersikap sinis namun tidak ada kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya karena melihat kondisi papa yang sedang tidak baik.
Karena Anye berkata ia akan menginap menemani papa di rumah sakit akhirnya tante Rianti pulang ke rumah, ia tentu saja tidak mau satu ruangan dengan Anye.
Anye maklum dengan sikap mama tirinya ia juga tidak akan sakit hati. Sejujurnya ia malah senang bisa menemani papanya disini. Lili juga tidak akan pulang, gadis itu akan menemani papanya disini sedangkan Haikal masih dalam perjalanan.
"Kak Anye beneran mau pulang kan?" Tanya Lili yang sejak tadi matnya berbinar-binar memandangi Anye.
"Iya Lili. Ya ampun kamu udah berapa kali nanyain itu mulu." Anye gemas sendiri dengan adiknya itu. Ia jengah dengan pertanyaan yang dilontarkan adiknya itu. Pasalnya Lili sudah menanyakan hampir lima kali.
"Lili kan seneng kakak beneran mau pulang. Padahal dari kemarin udah Lili bujuk-bujuk tetep gak mau, Kak Rayan yang bujuk juga tetep gak mau." Gadis itu tersenyum meledek Anyelir.
Papa yang mendengar nama Rayan disebut tak pelak bertanya, "Kamu masih berhubungan dengan Rayan?"
"Eh-" Anye kelabakan harus menjelaskan dari mana tentang hubungannya dengan Rayan.
"Kak Anye sama kak Rayan kan pacaran pa." Lili menjulurkan lidahnya menggoda Anye.
Anye ingin rasanya mencubit pipi Lili memberikannya pelajaran karena mulutnya tidak bisa diam. Kalau sudah begini kan dia bingung sendiri menjelaskan pasal hubungannya dengan Rayan. padahal dulu saja ia menolak menikah dengan Rayan nah sekarang ia menjilat ludahnya sendiri.
"Bener Nye?" Papa memicingkan matanya tidak percaya.
Anye baru akan menjawab ketika pintu kamar rawat papanya di ketuk, Lili yang posisinya paling dekat dengan pintu pun membuka pintu tersebut dan sungguh kebetulan yang sedang dibicarakan ternyata datang.
"Eh kak Rayan kebeneran pas lagi diomongin." Lili cengengesan.
"Selamat malam om." Rayan menaruh parcel buah yang dibawanya ke atas meja.
Anye yang bingung kenapa Rayan tahu ia ada disini hanya bisa menatap Rayan meminta penjelasan. Papa menoba duduk dengan dibantu oleh Anye.
"Maaf saya baru bisa menjenguk om sekarang. Padahal sudah cukup malam."
"Saya berterima kasih nak Rayan sudah mau repot menjenguk saya. Tapi nak Rayan tahu dari mana saya di rawat di rumah sakit." Papa menatap curiga ke arah Anye. Anye yang seperti tertuduh justru menggelengkan kepalanya.
"Lili yang memberi tahu saya."
Sementara yang dibicarakan sedang mesem-mesem memakan apel yang tadi dikupas oleh Anye. Anye lupa kalau adiknya itu memang sedekat itu dengan Rayan.
Papa sendiri dibuat bingung dengan keadaan ini setahunya anak-anaknya tidak pernah berhubungan dengan pria muda di depannya ini. Ia bahkan yakin dulu hubungan Anye dengan Rayan tidak baik dan Lili juga pastinya tidak mengenal Rayan. Namun sepertinya dirinya melewatkan banyak hal.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANYELIR
Ficción GeneralRayan menghela nafasnya berat, dia juga bingung dan merasa bersalah di waktu bersamaan. "saya Rayan, Narayan Airlangga. Saya tahu ini bukan suasana yang pantas untuk berkenalan. Satu yang harus kamu tau saya nggak akan lari dari tanggung jawab". "Sa...
