"Maaf" Filip menundukkan kepalanya di depan Rei dan ibunya.
"Aku benar-benar meminta maaf sudah berbohong pada tante !" ibu Rei menatap Filip.
"Jangan khawatir.. " ibu rei mengusap pelan pucuk kepala Filip.
".. Rei sudah tidak apa-apa, 2 hari lagi dia bisa keluar rumah sakit" Filip menatap Rei yang saat ini duduk diam di atas kasur rumah sakit, Filip lalu berjalan ke arah Rei.
"Aku minta maaf.. aku benar-benar tidak tau hal seperti ini akan terjadi" wajah Filip terlihat sangat menyesal.
"Dari mana kamu tau aku di sini ?" Rei menatap Filip bingung padahal dia tidak mengabari Filip tentang kondisinya.
"Dion mencegat ku di depan gerbang sekolah, dia bilang kalau aku mau aku bisa menjadi obat ala-Mph!"
"Ssstttt!!!" Rei menutup mulut Filip, wajah Rei bersemu merah bagaimana Filip bisa mengatakan hal seperti itu sementara ibu Rei masih ada di antara mereka.
Ibu Rei tersenyum tipis.
"Kalian bisa mengobrol, ibu tinggal keluar dulu ya Rei.. ibu mau bertanya tentang obat mu" seolah mengerti ibu Rei keluar dari ruang perawatan Rei.
Saat ibu Rei berjalan di lorong rumah sakit, ibu Rei bertemu Dave yang terlihat terengah-engah sehabis berlari.
"Dave ?" Ibu Rei melihat Dave berjalan ke arahnya.
"Aku benar-benar minta maaf!!" Dave menundukkan kepalanya dengan nafas yang tidak teratur.
"Ini semua salah ku !!" Kata Dave.
Ibu Rei tersenyum.
"Jangan terlalu di pikirkan.."
".. Rei ada di lantai 2 ruang perawatan nomor 103 , kamu bisa ke sana" Dave mengangguk paham lalu berlari lagi.
Saat tiba di kamar Rei, Dave langsung membuka pintu kamar Rei. Tanpa perduli dengan kehadiran Filip, Dave melangkah kearah Rei.
"Dave? Kamu berkeri-Ugh?!"
"Maaf.. aku benar-benar minta maaf" Dave memeluk Rei erat.
"Tidak apa-Ah.. Eh... Eh!! Apa yang- !! Akh!" Rei terkejut saat Dave tiba-tiba mendorong tubuhnya hingga terbaring di kasur, Dave juga hampir mengigit leher Rei.
"Apa yang kamu lakukan?!!" Filip menarik Dave, dia meninju wajah Dave.
"Jernih kan pikiran mu!! Bodoh!!" Filip menarik kasar kerah baju Dave.
Dave balik menarik kerah baju Filip.
"Aku mau dia sembuh! Apa kamu mau dia terbaring di sini terus ?!!"
"Tapi bukan dengan cara memaksa!! Kamu pikir Rei akan senang!!"
"Berhenti!! Hentikan!! Apa kalian sudah hilang urat malu..?! Ini rumah sakit dan aku sedang sakit disini, tidak kah kalian mengerti keadaan ku ?!" Rei berteriak dari kasurnya mencoba membuat dua alpha yang sedang berkelahi ini berhenti berdebat.
Dan usaha Rei tidak sia-sia keduanya langsung terdiam, hampir 10 menit tidak ada suara di antara ketiganya. Filip duduk di ujung ranjang Rei, sementara Dave bersandar di dekat jendela menatap Filip tajam.
"Aku sudah tidak apa-apa, 2 hari lagi aku bisa sekolah" Rei menatap Dave mencoba mencairkan suasana.
"Maaf aku benar-benar hilang akal.. aku hanya merasa khawatir" Dave terlihat menyesali apa yang sudah dia lakukan.
"Tidak apa-apa.. kemari, biar ku lihat luka di sudut bibir mu" Rei mengulurkan tangannya meminta Dave mendekat.
Dave berjalan ke arah Rei, dia duduk di samping Rei.
"Agak memar.. aku tidak punya obat luka disini" Rei menyentuh sudut bibir Dave saat Rei menarik tangannya menjauh, Dave menahan tangan Rei agar tetap diam menyentuh wajahnya.
Dave mengecup singkat tangan Rei seolah dia mengatakan bahwa dia sangat ingin menjadikan Rei matenya.
Sesaat Rei terdiam dengan rona merah muda di kedua pipinya tapi Rei tersadar saat menatap Filip yang menatap keduanya dengan tatapan cemburu.
Rei terkekeh pelan melihat wajah Filip.
"Apa yang kamu lihat.. ? Kemari" Rei menepuk sisi kiri kasurnya menyuruh Filip mendekat, mendapat ijin Filip langsung bergegas duduk di dekat Rei.
"Jangan berkelahi lagi.. aku benar-benar tidak suka itu" Rei memeluk Filip dan Dave bersamaan.
"Jadilah teman, dan akur lah" Kata Rei.
Kedua alpha ini hanya diam mendengar apa yang Rei katakan.
Rei mungkin tidak bisa memilih siapa yang dia suka. Bagi Rei mereka berdua sudah seperti teman untuknya tapi, Rei pun tidak tau kalau suatu saat perasaan itu akan tumbuh dan membuat Rei harus terpaksa memilih.
Tapi Rei berharap hari seperti itu tidak akan pernah datang, hanya harapan kecil dari Rei.
.
.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Touch (TAMAT, Remake) (Omegaverse)
RandomKehidupan normal Rei berubah saat hasil tesnya mengatakan bahwa dirinya seorang omega. Kehidupan normal yang sudah musnah di perparah dengan Rei yang harus menghadapi 2 alpha yang sedang birahi padanya.
