"Hah.." Rei terkejut saat melihat siapa yang bertamu ke rumahnya.
"Selamat malam Rei" kepala sekolah dan Dave anaknya berdiri di depan pintu rumah Rei.
"Se-selamat malam pak" Rei tidak menduga kalau Dave juga datang.
"Rei ! Jangan berdiri di pintu, persilahkan mereka masuk!" Ibu Rei bersuara dari dalam rumah.
"Ah! Iya! Silahkan!" Rei tersadar lalu mempersilahkan mereka masuk, saat Dave melewati Rei. Dave melirik Rei lalu tersenyum kecil yang membuat Rei bergidik takut.
Selama makan malam berlangsung kepala sekolah banyak membahas kegiatan dan nilai-nilai Rei yang sangat memuaskan pada ibu Rei, tapi Rei sedikit kesulitan pada pelajaran kimia.
Saat ayah Dave dan ibu Rei tengah asik mengobrol..
"Uhuk.. Uhuk..!! " Rei tiba-tiba tersedak saat merasakan sesuatu di bawah meja.
"Kenapa Rei ?" Ibu Rei mengusap pelan punggung putranya.
"Re-Rei menelan biji cabe" kata Rei berbohong.
"Oh, pelan-pelan ya makannya"
"Hm," Rei mengangguk pelan.
Mata Rei melirik kearah Dave yang terlihat asik menyantap makanan tanpa rasa bersalah.
Tapi di bawah meja ternyata Dave masih saja mengelus kaki Rei dengan jari-jari kakinya.
Brak!
Semua orang yang ada di meja makan terkejut saat Rei tiba-tiba berdiri.
"A-aku sudah selesai makan ku! Tugas kimia ku belum selesai ku kerjakan.. besok harus di kumpul !"
"Tapi kepala sekolah dan Dave belum pulang nak" kata ibu Rei.
"Tapi bu.. "
"Tidak apa-apa, Rei harus menyelesaikan tugas sekolahnya kan, lagi pula bukan kah Rei sedikit kesulitan dengan tugas kimia.. bagaimana Dave ? " Kepala sekolah melirik ke arah Dave.
Dave menaruh garpu dan sendoknya.
"Tentu ayah, aku bisa membantu kalau Rei merasa kesulitan dengan tugasnya"
Raut wajah Rei berubah panik.
"Ti-tidak usah.. Aku bisa sendiri.. !" Rei mencoba menolak tapi ibunya dan kepala sekolah mendukung niat baik Dave mengajari Rei kimia.
Karena tidak enak menolak tawaran kepala sekolah, akhirnya Rei setuju menerima bantuan dari Dave.
.
.
"Ibu dan kepala sekolah mengobrol di ruang tamu selagi kalian belajar, ini cemilan dan jus" ibu Rei meninggalkan keduanya di kamar Rei bersama beberapa cemilan di meja belajar Rei.
"Iya" jawab Rei dengan wajah murung, bagaimana ibunya bisa setenang itu membiarkan seorang alpha bersamanya di kamar.
Setelah ibu Rei pergi, Dave berdiri dari posisi duduknya. Rei sedikit waspada.
"Apa aku seburuk itu ? Aku hanya berniat menolong mu" kata Dave.
"Um,." Rei sedikit tidak percaya terlebih kata-kata Dave tempo hari yang mengatakan seorang alpha tidak akan melakukan sesuatu dengan gratis.
Dave menarik buku Rei.
"Lihat bagian ini, kamu bisa menghitungnya mulai dari sini, kalau kamu menghitung semuanya bersamaan jawabannya akan selalu salah, itu cara mudahnya.. coba lah" Rei mencoba apa yang Dave katakan.
"Oh!" Rei terkejut dengan hasil jawabannya. Dave memang pintar, menghitung sesuai apa yang Dave katakan ternyata jauh lebih mudah dari pada yang guru Rei ajarkan.
"Nah, kalau soal yang ini.. kamu bisa menggunakan rumus yang ini saja, hampir sama saat kamu memakai rumusnya untuk beberapa soal fisika.. hanya saja Co2nya di coret" jelas Dave.
"Wah.. Kamu benar" Rei benar-benar kagum dengan kepintaran Dave.
Setelah 10 menit Dave memberi arahan, tugas Rei akhirnya selesai dengan cepat.
"Wuah! Selesai.. Terima kasih!" Rei tersenyum senang.
"Hm, tidak jadi masalah" Dave duduk di atas kasur Rei.
Dave melihat sekeliling.
"Rumah mu kecil dan nyaman.. dan kasur mu empuk~" Dave membaringkan tubuhnya di atas kasur Rei.
"Hah ! Hei.. Jangan berbaring seenaknya !" Saat Rei berbalik, Dave langsung menarik tangan Rei mendekat, Dave memeluk pinggang Rei erat.
"Ah.. A-apaan ini ?"
"Bukan kah seorang alpha tidak melakukannya gratis ?" Kata Dave.
"Hah ?"
Wooshh.. ~
Deg!
Rei bisa mencium bau yang sangat menyengat dari Dave, Dave mengeluarkan bau khas miliknya.
"Apa ini ?!" Wajah Rei bersemu merah, tubuhnya terasa panas, jantungnya terus berdetak kencang.
Dave mengetuk pelan dahi Rei.
"Apa kamu belum bisa mengontrol feromon mu ?"
"Feromon ku ?" Rei mengerutkan alisnya tidak paham apa yang Dave maksud.
"Ya, Feromon mu.. Kamu terlalu banyak memakainya, kamu selalu mengundang alpha lain berdatangan, kamu tau ada berapa pasang mata yang menatap mu kalau kamu melewati kelas kami ? Semua mata" kata Dave.
"Hah.. ja-jangan bercanda !"
"Ini, bukankah kamu merasa tersiksa dengan bau ini ?"
Wosshh!
Baunya semakin menusuk penciuman Rei.
"Ah.. hentikan!"
Bau tadi tiba-tiba menghilang.
"Eh ?"
"Kenapa kamu mencari feromon ku ? Kemari" Dave menarik tubuh Re hingga keduanya terbaring di atas kasur.
"Ciumlah sesuka mu"
Wossh!
Bau menusuk tadi datang lagi.
"Ah.. hah-ah.." Rei menatap Dave dengan mata sayunya, dia tidak tau bau tubuh Dave seenak ini. Baunya sangat manly juga sedikit aroma segar.
"Aku tidak suka berurusan dengan omega tapi untuk mu itu sebuah pengecualian" Dave mencium bibir Rei.
"Mm!" Rei meremas baju Dave.
"Fuahahh.. hentikan..!" Rei mendorong tubuhnya menjauh sedikit dari Dave.
"Apa yang kamu lakukan?! Ibu ku bisa datang kemari !" Rei mencoba melepas tangan Dave tapi Dave tidak mau melepas pelukkannya pada Rei.
"Hei.. lepas !"
Grep!
"Ugh!"
Dave menarik tubuh Rei agar semakin dekat.
"Tenang saja, mereka masih mengobrol di bawah" kata Dave dengan seringai di bibirnya.
"Ja-jangan.. Ungg.. !"
"Tunggu ?" Dave menyadari sesuatu.
"Milik siapa ?"
"Hah.. Ha.. kenapa ?" Tanya Rei.
Dave menarik kerah baju Rei, dia mencium bau di tubuh Rei.
"Bau ini !"
"Hah-Eh.. apa yang kamu lakukan?!" Rei terkejut saat Dave menarik baju Rei menampilkan perut Rei.
"Jejak feromon ini bukan milik ku juga bukan milik mu, tidak ada tanda khas alpha di tubuh mu juga tapi.. " Dave mengendus tubuh Rei.
"Hei.. apa-apaan ini ? Kamu seperti anjing" kata Rei sedikit risih saat Dave mengendus tubuhnya.
Grep!
Dave meremas lengan Rei.
"Siapa dia ? Yang sudah membuat tanda wilayah pada mu ?"
Glup!
Rei menelan salivanya berat, apa Filip sudah menandai Rei siang tadi ? Padahal Rei sudah mandi tapi Dave masih bisa mencium bau milik Filip.
Tapi Filip hanya menolongnya saja, kapan dan bagaimana Filip memberinya tanda wilayah ?
.
.
Bersambung. . .
KAMU SEDANG MEMBACA
Touch (TAMAT, Remake) (Omegaverse)
AcakKehidupan normal Rei berubah saat hasil tesnya mengatakan bahwa dirinya seorang omega. Kehidupan normal yang sudah musnah di perparah dengan Rei yang harus menghadapi 2 alpha yang sedang birahi padanya.
