Andaikan air mata bisa mewakili kata
Tak akan ada amarah di muka bumi ini yang melebihi tangisan...
***
25 December,
Aku, Steve hari ini pulang dengan tangan penuh dosa..
Dosa pertama yang aku lakukan karna membiarkan seorang gadis dianiaya. Hanya tuhan yang tahu, aku melakukan semua ini karna aku mencintai Estel. Cinta yang hanya aku dan tuhan yang tahu.
Beberapa jam yang lalu, aku mendapati surat peringatan dari kepolisian yang curiga bahwa istriku Estel terlibat dalam kematian Andra, dan ini gara gara keterangan salah seorang wanita di Rumah Sakit jiwa. Aku gemetar, aku takut Estelku dalam bahaya. Aku tidak mau dia di tahan, walaupun aku tahu dia memang berdosa.
Dosa ini akan aku simpan sampai aku mati. Jika ada yang membaca buku ini artinya aku sudah menyerah pada hidup ini. Dan aku berharap kau yang membaca ini Joenathan. Hanya kamu yang berhak nak, ayah sangat mencintaimu. Kau satu satunya kejujuran terbesar yang ada di hidup ayah, kebahagiaan yang sebenarnya.
Joenathan, aku memberimu nama dengan penuh ketulusan, kau besar dan tumbuh di tanganku, dipelukan ayahmu ini
Kau putraku, sampai kapanpun.
Karna itu ayah berharap kau mau mengerti. Akan dosa terbesar yang akan ayah sampaikan ini
( Skip )
Gisella terduduk lemas di sudut ruangan yang mulai gelap. Tangannya gemetar menutup buku itu seolah barusaja mendapat pukulan terbesar dalam hidupnya. Rahasia yang Steve tulisakan terlalu berat. Ia mulai membuka amplop putih yang terselip di dalamnya. Amplop yang berasal dari sebuah rumah sakit ternama 18 tahun yang lalu. Tulisan di dalamnya langsung basah dengan air mata yang menyuruak seketika dari matanya, dia menangis. Menundukkan wajah di antara ke dua celah lututnya, entah rasa shock, kecewa, marah, atau kesedihan yang terlalu mendalam. Ia tidak mampu mengangkat wajahnya bahkan untuk berdiri dan melangkah ke depan.
Sebelum...
" Gi?" Sebuah suara datang setelah terdengar derit pintu di buka. Mendengar suara itu, Gisella langsung berdiri menyembunyikan buku itu ke atas meja di belakangnya.
Air matanya kembali mendesak turun melihat siapa yang berdiri setelah pintu terbuka. Ada perasaan yang seakan meluap di hatinya setelah tahu semua kebenaran itu, karna andaikan saja Joenathan membacanya, dia pasti akan menjadi yang paling terluka
Ya, Joenathan tampak menyalakan lampu, tubuhnya basah kuyup. Bahkan Gisella tidak sadar di luar hujan turun begitu lebat.
" Kau di sini. Aku mencarimu berjam jam untuk menyampaikan sesuatu." Ucap pemuda itu mencoba mengulas senyum. Sebelum...
" Joee!!"
Tubuh pemuda itu terlihat limbung hampir jatuh. Gisella yang panik, reflek segera berhambur memeluknya.
" Joe are you oke?" Tanyanya panik mencoba mengangkat dagu pucat Joe yang menatapnya sayu. Dia sangat pucat, basah dan gemetar. Ada beberapa gores luka yang menghiasi wajah tampan dan leher kokohnya.
" Joe kamu baik baik saja kan? Jawab! Jangan diam saja!" Gisella yang over panik kembali memeluk pemuda itu erat. Sangat erat, bahkan tubuh mereka seakan melekat satu sama lain, hangat.
Hingga...
" Otakmu baik baik saja?" Pemuda itu mengulas senyum getir. Mencoba mendorong Gisella sedikit menjauh. Berdiri tegap di depannya
" Kau dari mana? Kau terlihat pucat. Jangan membuatku takut." Gisella menyeka air matanya
" Hmmm takut aku mati dan kau tidak menertawakan kematianku begitu maksudnya?"
Manis, senyum di wajah pemuda itu benar benar manis.
Kebenaran itu, membuat dada Gisella terasa nyeri. Ada gejolak yang sulit diartikan di dadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SOUL horror 3 ( Stay ALONE )
ParanormalBau amis itu, mengikuti sejak cahaya menghantam kornea mataku dan menggelapkan pandangan, tubuhku terasa remuk beberapa detik setelah terhantam sesuatu yang tak bisa kupastikan karna terjadi begitu cepat. Seluruh hidupku berubah Dan aku benar benar...
