Tujuh

13.9K 622 21
                                        

Elang bangun pagi, tumbenan ia terbangun pagi. Entahlah sekarang Elang membutuhkan refreshing pada kepalanya ini untuk bersantai santai sebentar.

Elang menggunakan baju hitam polos dengan sweater warna biru, celana pendek selutut menjadi pilihan Elang. Sepatu berwarna putih dan jam tangan dengan warna hitam melekat di pergelangan tangan. Tak lupa dengan topi yang berwarna senada.

Elang keluar mengambil kunci motor, ia tak tahu akan kemana, jalanan licin jadi ia harus hati hati mungkin karna habis hujan dan pengendara juga tidak terlalu ramai seperti biasanya. Elang mengendarai motornya tak menentu arah, ia tak tahu harus kemana.

Namun tujuannya membawa Elang kepada sebuah salah satu mall yang di miliki papanya. Mall ini memiliki enam lantai, lantai teratas adalah lantai membaca. Lantai khusus untuk orang yang berhobi membaca.

Elang memasuki kawasan mall, saat di depan pun Elang banyak disapa oleh penjaga disini, tidak sedikit yang mengenal Elang bahwa ia adalah anak pemilik dari mall ini. Ia sedikit risih karna tatapan orang orang kepadanya. Elang berjalan jalan iseng, sampai ia berhenti melihat seorang anak kecil yang sedang duduk menangis.

Elang menghampiri anak itu dan berjongkok agar bisa menyamai tingginya. "Kenapa?" anak itu menggeleng.

Elang menggiring bocah cowo itu untuk duduk, ia menyuruh nya agar teteap diam, karna Elang juga tidak tahu harus bagaimana. Sampai Elang melihat seorang perempuan yang tak asing baginya. Dengan rambut di gerai, hot pants yang atasanya adalah hoodie biru langitnya yang kebesaran, tak lupa sepatu ketsnya, jam dan slin bag membuat Elang terpana. Alma sangat cantik.

Ia tersadar dari lamunannya, segera Elang tarik Alma untuk mengikutinya. Namun Alma memberontak dan ingatkan jika tenanganya tidak sekuat dirinya.

Elang membawa Alma kepada anak kecil yang sedang duduk tapi menagis itu. Alma menatapnya seperti meminta penjelasan, ia juga tidak tahukan mengapa anak ini menangis jawabannya ya hanya mengankat kedua bahu dengan acuh. Ia mengeluarkan ponsel.

Namun Elang tidak benar benar memainkan ponsel ia malah pokus kepada gadis dihadapannya yang sedang menanyakan sesuatu. "Stt sayang jangan nangis yaa, kamu mau apa?"

Elang terpengah mendengar suara Alma, suaranya lembut sekali.

"Es klim," ucap bocah laki laki itu.

"Oke. Nama kamu siapa hmm?" tanya Alma dengan lembut, Elang masih memperhatikan Alma yang mengajak bocah itu berbicara.

"Aku lepan," Sekarang lepan tak menangis lagi ia malah tersenyum senang mungkin karna bertemu dengan gadis semanis dan sebaik Alma.

"Aku mau gendong sama kakak ganteng," lepan merentangkan tangannya kearah Elang, ia diam namun tak salah juga jarang jarang dirinya mau menggendong seseorang. Apalagi anak kecil, ia memasukan ponsel ke saku jaket dan menggendong bocah bernama lepan itu.

Diperjalanan menuju kedai es krim Elang merasa bahagia, walaupun sesaat namun Elang dapat pengalaman dari diri Alma. Bahwa tersenyum adalah cara paling mudah untuk mengelabuhi orang, tapi Elang tak pernah mencoba topeng itu. Ia sangat mengandalkan matanya yang tajam untuk menutupi sisi lemahnya.

Mereka berjalan sambil tertawa bersama, Elang juga ikut terkekeh kecil mendengar cerita Alma. Mungkin sekarang Elang bisa merasakan bagaimana rasanya bahagia walaupun hanya sesaat.

Elang [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang