Wewwww, heyy selamat siang.
HAPPY READINGGG!!
Elang terduduk di ruang tunggu di depan ruangan mamahnya. Dia enggan masuk, masih terbayang bagaimana mamah nya meninggalkan dia saat pulang sekolah karena ada meeting dadakan, bahkan tidak memikirkan bagaimana dia bisa pulang ke rumah.
Untung saja di saat seperti itu ada Malam yang datang menjemput, mereka harus berjalan kaki dari sekolah Elang hingga rumah dengan jarak yang terbilang jauh.
Bukan, ia bukan dendam. Hanya saja butuh waktu untuk melupakan itu semua.
"Lang" Elang mendongkak.
"Hng?".
"Masuk sana".
Elang buang muka, berdesis tak suka. "Gue gak mau".
"Lang!".
"Bang! Please gak usah maksa".
Malam menghela nafas berat, duduk di samping adik nya itu dan menepuk bahunya. "Gue ngerti, tapi apa Lo gak bisa kasih satu kesempatan lagi".
"Bukan gak bisa, semua butuh waktu" kata Elang sarkas.
"Lo mau jadi orang pendendam, dek?".
"Gue enggak bilang gitu".
Keduanya jadi sama sama diam. Malam sudah enggan berdebat dengan Elang.
Sampai suara sepatu seseorang membuat mereka menoleh. Elang membulatkan mata, tapi langsung me-normal-kan kembali, sedangkan Malam tersenyum ramah.
Dua orang perempuan dengan umur yang terpaut jauh, Elang yakin jika wanita di sebelah gadis itu adalah ibunya.
"Tante temannya mamah ya?" tanya Malam ramah.
Wanita itu mengangguk.
"Oh berarti bener, silahkan masuk Tante".
Keduanya masuk dengan Elang yang terus memperhatikan gadis yang ada di belakang wanita tadi.
Malam mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?".
"Hng?" Elang seperti orang linglung.
Malam terkekeh, "Lo kenal sama yang belakang?".
"Kenal".
Malam sudah tersenyum senyum tak jelas ke arahnya. Elang yang peka dengan itu pun menghela nafas. "Temen elah, satu sekolah!"
"Kok ngegas?".
"Bodoamat ah".
Malam ngakak sendiri, senang sekali meledek adiknya ini. "Cie cieee, tuh tuh pipi-nya ijo tuh".
"Bacot".
Malam tertawa lagi, ia jadi teringat akan tugasnya. "Lo disini dulu ya temenin mamah, nanti gue kesini lagi kalo tugas kampus selesai".
"Hm".
"Sekalian ajakin cewe yang tadi makan tuh" dan Malam langsung ngacir pergi sebelum kena tabok Elang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elang [Selesai]
Fiksi RemajaElang namanya, dingin orangnya. Irit bicara dan miskin ekspresi itulah dia ketua geng panco, orang yang di takuti sekaligus di kagumi karna ketampanannya ia tak suka diatur apalagi dengan perempuan, menurutnya itu terlalu repot. Namun tanggapan itu...
![Elang [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/168913266-64-k772210.jpg)