Sesuai janji nya dengan Devan, Alma kini sudah siap duduk depan teras. Kata cowok itu sih dia masih di jalan, dan sebentar lagi sampai.
Sampai suara kelakson mobil membuat Alma berdiri dan mengambil tas nya, membuka pagar dan langsung masuk ke dalam mobil Devan yang langsung melajukan mobil nya.
Jalanan Minggu pagi ini cukup lenggang. Tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang seperti hari biasanya.
"Mau kemana dulu nanti?" Tanya Devan memecah keheningan.
"Beli buat keperluan pensi aja dulu," Devan hanya mengangguk.
Mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan, berjalan beriringan masuk kedalam mall.
Keduanya sibuk melihat lihat di sebuah toko serba ada, banyak sekali barang barang lucu dan menggemaskan yang membuat Alma jadi ingin membelinya.
Mereka selesai memilih milih, menyerahkan barang ke kasir untuk di bayar.
"Jadi Rp. 230.000 mbak," Alma memberikan sejumlah uang, mengambil belanjaan dan kembalian.
"Apalagi?" Devan mengambil alih belanjaan yang ada di tangan Alma.
"Kayaknya segitu dulu aja deh, soalnya kan dari Syila dan yang lain juga belum," kata Alma. "Kita cari bahan bahan buat tugas gue kesana yaa."
Devan mengikuti saja, malah senang bisa jalan berdua dengan Alma begini. Yah sudah bisa di katakan Devan menyukai gadis di hadapannya ini saat dia sedang menjalani MOS.
Entah bagaimana dia sangat kagum dengan sosok Alma ini. Pembawaannya yang ceria membuat siapa saja akan senang berbicara dengan nya.
"Kak," Devan tersentak kaget saat ada seseorang yang menepuk bahu nya agak keras.
"Eh, sorry Al. Kenapa?"
Alma menggeleng. "Enggak apa apa, cuma aneh aja dari tadi lo ngelamun terus, kenapa? Ada urusan yang belum selesai yaa?"
Devan tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya. Mengajak Alma melanjutkan pencariannya untuk bahan bahan praktek.
Tidak terasa jika kini sudah tiga jam mereka berkeliling mall, sudah banyak kantung belanjaan yang di pegang oleh Devan. Alma sempat menawarkan diri untuk membawanya setengah, tapi cowok itu terus menolak.
"Makan dulu yu Al. Gue laper," Alma mengangguk setuju.
Pilihan mereka jatuh kafe yang tak jauh dari situ. Memesan makanan dan mencari tempat duduk yang tak jauh jauh dari jendela.
"Makasih ya kak, lo udah mau di repotin anterin gue beli pernak pernik buat acara pensi," kata Alma sambil tersenyum manis.
"Santay aja Al."
Acara makan makan itu selesai, Devan baru akan mengajak Alma nonton terlebih dahulu sebelum pulang. Tapi baru akan mengucapkan nya, gadis itu izin ke toilet dahulu.
Alma masuk ke salah satu–dari empat bilik yang ada di sana. Mencuci tangannya setelah selesai, mengambil tisu dan segera beranjak ke luar.
Namun baru akan membuka pintu, dari arah luar sudah di buka terlebih dahulu yang membuat ia jadi terdorong dan terjatuh di lantai.
"Aduhh," ringis nya.
"Ehh–maaf mbak, maaf. Saya enggak sengaja," kata gadis di hadapannya ini sambil membantu Alma berdiri.
"Oh iya, saya juga gak apa apa kok," Alma tersenyum kecil, membersihkan celananya dan beranjak ke luar.
Tapi karena jalan nya yang kurang hati-hati dan terus membersihkan celananya yang kotor ia jadi menubruk seseorang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elang [Selesai]
Fiksi RemajaElang namanya, dingin orangnya. Irit bicara dan miskin ekspresi itulah dia ketua geng panco, orang yang di takuti sekaligus di kagumi karna ketampanannya ia tak suka diatur apalagi dengan perempuan, menurutnya itu terlalu repot. Namun tanggapan itu...
![Elang [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/168913266-64-k772210.jpg)