"Clara Alverina siapa yang gak kenal lo disekolah ini. Ketua eskul modern dance yang sudah menjadi rahasia umum menyukai seorang Bagaskara Alvonso. "
"Apa mau lo?! " tanya Clara kepada cowo yang menggangu ketenanganya ditaman belakang.
"Good girl, kita kerja sama buat dapetin apa yang lo dan gue inginkan gimana "
Masih ingat dengan cowo dilapangan yang bertanya tentang Annisa kepada temannya, ya itu adalah Zeno dan sekarang ia sedang bersama dengan Clara. Siapa yang tak mengenal Zeno si cowo yang penuh dengan kenakalan yang selalu ia buat setiap harinya disekolah, Zeno merupakan kebalikan dari Bagas walau pun ia memiliki wajah yang bisa dibilang 11-12 dengan Bagas dan tak lupa dengan harta berlimpah dimiliki oleh keluarganya.
"Maksud lo? " bingung Clara atas apa yang Zeno bicarakan.
"Come on baby lo pasti paham dengan apa yang gue bicarakan." ucapnya dengan menaikan satu alisnya.
Sempat berfikir beberapa saat hingga akhirnya Clara memberi jawaban, "Oke gue ikut permainan lo dengan syarat jangan sampe ada yang terluka."
"Of course baby. "
••••••••
Sudah terhitung 3 hari Annisa tidak sekolah membuat Qila semakin khawatir dengan keadaan sahabatnya itu, ia pun memutuskan untuk mengunjungi rumah Annisa dengan mengajak Bagas, Devan, dan Gilang si trio bebek. Bagas tadi sempat menolak untuk ikut kerumah Annisa sebab ia masih teringat dengan kejadian malam dimana Annisa menceritakan semua kepadanya dan Bagas merasa bahwa Annisa membutuhkan waktu sendiri untuk berfikir mengambil sebuah keputusan, akan tetapi bukan Qila namanya jika tidak bisa membuat Bagas ikut.
Mereka berempat kini sedang berjalan menuju parkiran akan tetapi langkah mereka harus berhenti ketika Devan mengeluarkan suaranya. "Gilang, Bagas, sama gue pada bawa motor. Nah elu bu ketos emang bawa kendaraan? "
Qila menyengir kuda sambil membenarkan letak tasnya. "Gue nebeng ya? "
Devan seketika mengangkat kedua tangannya seperti hendak ditangkap polisi. "Jangan sama gue, kasian siJono kalo harus bawa orang yang penuh dengan dosa. "
"Eh enak aja lo, lo kali tuh yang banyak dosa tukang jailin guru-guru. "
"Mau ribut atau cabut?! Biar Qila sama gue. " ucap pahlawan kesiangan siapa lagi jika bukan Gilang.
Mereka berempat pun langsung bergegas menuju rumah Annisa, disepanjang perjalanan Bagas sangat lambat membawa motor sportnya itu padahal biasanya ia paling depan dan gila jika sudah membawa motor akan tetapi kini ia berada dipaling belakang dan mungkin hanya dengan kecepatan 40km/jam sangat lambat untuk ukuran motor yang ia kenakan.
'Kenapa perasaan gue kaga enak gini? Apa gue balik aja, tapi udah tanggung.'
Perasaan tak enak itulah ternyata yang menggangu pikiran Bagas saat ini bahkan dari tadi pagi saat ia baru sampai sekolah, tetapi ia selalu mengelak perasaan tersebut. Semalam pun ia tak bisa tidur memikirkan Annisa dengan kisah masa lalunya ia merasa tuhan tak adil denganya. Baru saja ia merasakan bahagia yang luar biasa akan tetapi didetik berikutnya tuhan langsung mengambil kebahagianya begitu saja. Kehidupan tak ada yang tahu bahkan sulit untuk ditebak alur ceritanya.
Sesampainya didepan rumah Annisa, mereka memarkirkan motornya didepan gerbang tanpa memasukkanya kedalam garasi atas perintah dari Qila agar Annisa tidak mengetahui bahwa mereka semua datang untuk berkunjung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Falling In Love
Teen Fiction"Gue Bagaskara Alvonso berjanji ditempat ini, akan berjuang untuk mendapatkan hati lo, Annisa Andriani." -Bagaskara Alvonso "Maaf, karena perjuangan lo hanya akan menjadi butiran pasir dipantai. " -Annisa Andriani Ketika cinta menyatukan kedua makhl...
