Masa Lalu

70 6 1
                                        

Pergi sejauh mungkin
Itulah yang ada dalam benak Annisa, ia kacau, binggung, kecewa semuanya menjadi satu padu. Apa yang harus ia lakukan? Disaat ia berusaha melupakan masa lalu tapi kenapa masa lalu itu kembali lagi membuka kenangan buruk.

Ingin marah tapi kepada siapa? Masih tak percaya rasanya bahwa orang itu yang ia kira telah pergi untuk selamanya tapi tadi berada diatas panggung bahkan bernyanyi. Razka kembali, kekasih hatinya yang 2 tahun lalu dikabarkan sudah meninggal dunia dan barusan menatapnya begitu dalam. Tatapan mata kelam yang selalu ia rindukan, suara indah yang selalu mengalun untuk dirinya kini tlah kembali.

Kembali disaat ia sudah membuka hati untuk seorang Bagaskara Alvonso, cowo yang menemani dan membantunya melewati masa kelam tanpa tahu penyebabnya. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Kembali pada dekapan masa lalu atau tetap bertahan agar tak ada hati yang terluka karna-nya.

Air mata terus mengalir bahkan semakin deras, sebuah taxi berhenti tepat dihadapan Annisa dan langsung dinaiki olehnya, "Pak, perumahan taman indah residence. "

Mungkin saat ini yang ia butuhkan adalah rumah, beristirahat untuk menenangkan hati dan pikiran yang terus berkecamuk meminta sebuah jawaban. Cairan bening itu terus mengalir bagaikan hujan deras yang tak kunjung berhenti.

"Kenapa kaya gini? Apa yang sebenarnya terjadi? Gue merasa jadi orang yang paling bodoh, mereka seakan menutupi sebuah rahasia dari gue."

Mulai dari pemakaman Razka yang tak diketahui olehnya, ia hanya mendapat kabar dari Reynand bahwa Razka tlah berpulang pada dekapan tuhan, penyebab dari kematian Razka, dan sekarang orang itu kembali, Razka kembali seakan memberi sebuah harapan baru yang tak Annisa inginkan.

Sesampainya dirumah ia langsung berlari menuju kamarnya bahkan menghiraukan panggilan dari mamahnya.

Kamar dengan suasana yang sunyi tanpa penerangan begitu sangat nyaman bagi Annisa saat ini, tak ingin bertemu dengan siapa pun terlebih dahulu untuk saat ini. Bahkan mamah dan papahnya pun tak bisa menemui Annisa. Qila pun tadi sempat datang kerumah untuk membujuk Annisa keluar dari kamar akan tetapi hasilnya pun sama nihil. Bahkan hingga bulan yang sudah menampakan wujudnya pun tak membuat Annisa ingin menampakkan dirinya, ia pun belum makan sejak kedatanganya tadi siang itulah yang membuat Sofi khawatir dengan anak gadis satu-satunya.

Tok tok tok

"Annisa ini gue Bagas, gue bawa makanan buat lo, lo belum makan kan dari tadi siang. "

Tok tok tok

"Nis ayo keluar jangan nyiksa diri lo sendiri. Cerita sama gue apa yang sebenarnya terjadi. "

Tok tok tok

"Annisa Andriani, gue hitung satu sampai tiga kalo lo gak buka pintunya terpaksa gue bakal dobrak nih pintu. " Kata Bagas yang kini sudah kehabisan akal untuk membujuk gadisnya didalam sana.

"Satu. "

"Dua. "

"Dua setengah. "

"Ti... "

Klek

'Dari tadi napa Nis buka pintunya. '

Bagas yang sudah meminta ijin kepada Andre pun langsung memasuki kamar Annisa dengan membawa sepiring nasi yang sudah disediakan Sofi untuk Annisa.

"Makan dulu, lo belum makan dari tadi siang. " Bagas pun menyodorkan sesendok nasi kearah mulut Annisa dan nampaknya diterima dengan baik oleh Annisa. Bagas pun dengan telaten menyuapi Annisa hingga nasi dan lauk yang berada dipiring habis dilahap oleh Annisa.

'Dasar cewe udah tau laper make kaga mau makan segala.'

Bagas menyimpan piring diatas nakas lalu duduk kembali dan menatap Annisa begitu dalam, merapihkan rambut Annisa yang sedikit menutupi wajah manis gadisnya.

Falling In LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang