0.8 || Regha nyebelin

3.2K 297 6
                                        

Fana men-dribble bola basket itu untuk kesekian kalinya. Hari ini ada pertandingan basket antar kelas. Dan kelas Fana mendapat tandingan kelasnya Senja.

Notabennya sendiri, Senja seharusnya menyoraki teman-temannya, tapi karena sangat yakin mereka tidak akan bisa mengalahkan tim kelas Fana, ya sudah. Senja mendukung kelas Fana.

Teman kelas Senja itu lemah semua.

"Ayoo Fana semangat!!" Senja berteriak tanpa malu. Memang begitulah Senja.

Gadis itu akan merasa sudah dekat dengan seseorang ketika ia merasa sudah bisa mengobrol dengan lancar dan nyaman. Seperti dia dengan Fana gitu.

"Kecilin dikit dong suaranya, Ja. Malu gue," ucap Nalda yang kebetulan memang menemani Senja, karena dipaksa.

Padahal Senja itu tau kalau Nalda tidak suka tempat ramai seperti lapangan basket ini.

"Gak apa-apa kali, Nal. Mending gue neriakin Fana kan daripada Si Aldo?" Senja menggelengkan kepalanya. "Aduh... bisa tinggi khayalannya nanti."

Lalu selanjutnya Senja masih menyoraki Fana, apalagi saat Fana memasukkan bola ke ring. Teriakan Senja paling keras, membuat yang lainnya menoleh. Kecuali Nalda, dia sibuk menutupi wajahnya supaya tidak kelihatan.

"Nal, kok bisa ya anak basket itu gantengnya waw banget? Maksudnya kayak ada kharismanya gitu loh."

Nalda di sebelahnya menoleh. "Dengerin gue ya, Ja. Setiap cabang olahraga, pasti ada yang anggotanya menonjol. Maksudnya entah itu ganteng atau jelek. Pasti ada. Kebetulan aja, kebanyakan cowok kalau gak di futsal, ya di basket."

Senja tidak mengeluarkan suaranya. Melihat reaksi temannya itu, Nalda langsung berkata, "Gak usah dijawab. Gue emang yakin lo gak ngerti."

Senja hanya bisa terkekeh pelan mendengar jawaban Nalda yang tepat sekali.

Nalda menyikut lengan Senja. "Ja, kenalin gue sama temennya Fana itu dong..." Ia menunjuk lelaki dengan nomor punggung 20. Sementara Senja menyipitkan mata, melihat wajah lelaki yang ditunjuk Nalda itu.

Kemudian Senja menggeleng. "Jangan sama Eltra. No way. Gue hate dia parah!"

"Emangnya kenapa?"

Senja menceritakan kejadian kemarin di rumah Fana itu. Ia menceritakannya dengan napas menggebu, seolah memang ia sangat kesal dijahili seperti itu.

"Ya lagian lo sih..." Nalda tertawa, "udah tau di kartu pelajarnya ada alamat rumahnya Fana, ya jelaslah itu rumahnya dia. Bego lo jangan sampe nular gue ya, cantik." Nalda menepuk kepala Senja  perlahan.

"Pokoknya gue mau dikenalin."

"Kan lo juga nanti ngawas basket bareng gue. Gimana sih? Ya pastinya lo kenalan kan? Suruh siapa gak pernah dateng tiap diminta Kak Devo."

"Pokoknya lo yang kenalin ke gue."

Pertandigan berlangsung seru. Dan tepat seperti dugaannya, kelas Fana memenangkan pertandingan. Senja melirik tangannya, di sana sudah siap botol minum untuk Fana.

Ho ho, Senja itu suka memberi perhatian. Walaupun baru mengenal Fana, Senja yakin, lelaki itu tidak seburuk yang pernah Regha ceritakan.

Katanya Regha, Fana itu suka gonta-ganti pacar, semuanya mutusin dia karena dia jalan sama cewe lain. Terus katanya juga, Fana itu pernah ciuman sama orang waktu lagi nonton film di bioskop.

Gak mungkin banget kan Fana begitu?

Senja tersenyum melihat Fana yang sepenglihatannya akan berlari menuju dirinya. Belum sampai Fana di tempat Senja, ada seorang gadis menahannya.

Ruang Rindu [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang