3.2 || Melodi

1.3K 118 3
                                        

Ingat selalu diputar melodi yang ada.

================================

Hari berlalu. Hari yang dilewati dengan pencarian Prasetya itu sudah berlalu. Tetapi mereka belum bisa menemukan keberadaan Prasetya sampai dua hari setelahnya. Mereka tidak melibatkan polisi di dalam kasus ini, karena jika sampai polisi terlibat, mungkin Prasetya akan ditemukan tidak bernyawa juga.

Keempat lelaki itu, Fana, Bima, Eltra, dan juga Gara memutuskan untuk mengintai secara diam-diam dan merahasiakannya dari siapapun. Lokasi-lokasi yang terkait terhadap penculikan Senja, akan dikunjungi mulai hari ini.

Lokasi pertama adalah tempat kosong yang terbengkalai mirip seperti perusahaan gagal dibangun tempat Fana menemukan Senja.

"Gue gak yakin kita bakalan nemuin sesuatu di sini, tapi kita harus berusaha," ucap Fana berusaha untuk menyemangati teman-temannya.

Sementara Senja tidak diizinkan untuk ikut di dalam hal seperti ini. Gadis itu berada di rumah Fana menemani Dewi, mereka sudah menceritakannya kepada Dewi, dan Dewi mengerti. Walaupun kondisi pikiran wanita itu belum sepenuhnya pulih, ia tetap berusaha menjaga Senja sesuai dengan permintaan Fana.

"Gar, lo bareng gue ke sana," Fana menunjuk arah satu ruangan yang ia sempat datangi sewaktu menyelamatkan gadisnya, "sisanya ke arah sebaliknya."

"Okee!" sahut Bima kencang.

Dua tim itu berpencar dan berusaha untuk mencari sesuatu yang bisa menemukan siapa dalang dibalik ini semua.

Sementara itu, Fana dan Gara sudah berada di ruangan yang hancur, yang sebelumnya tidak seperti ini. "Gue yakin dia udah dateng lagi ke sini buat hancurin lokasi," kata Gara.

Fana mengangguk setuju. "Cari aja apapun itu. Gue yakin ada yang tertinggal."

Keduanya langsung sibuk menajamkan penglihatan untuk mencari sesuatu yang mungkin mereka bisa temukan. Namun sepuluh menit berlalu, masih belum ada yang bisa mereka temukan. Ruangan itu tidak kecil. Apalagi sudah sedikit hancur, jadi pasti ada yang terselip.

"Nath," panggil Gara. "Lo nyium bau gak si? Kek bau mayat busuk?"

Fana menoleh ke arah Gara lalu menggeleng. "Gue gak nyium bau, Gar."

"Sini deh, baunya keras banget, Nath."

Fana berjalan ke arah Gara lalu ia memejamkan matanya sejenak dan kemudian ia terbelalak. Lalu Fana mengangguk. Ia mencium aroma yang dikatakan oleh Gara.

Pandangan keduanya langsung tertuju ke kardus besar yang berada di sudut ruangan. Dengan perlahan mereka mendekatinya dan Fana memberanikan diri untuk melihat isi di dalamnya. Fana membukanya dan keduanya langsung terbelalak.

"Pada intinya gue gak ngerti kenapa di dalem sini harus ada dua orang," ucap Gara dengan napasnya yang tidak stabil.

Kondisi orang itu sudah tidak bisa dijelaskan lagi, mereka sudah busuk dan bagian-bagian tubuh keduanya ada yang hilang, pria dan wanita yang ada di dalam sini sudah benar-benar buruk sekali.

"Dan dia juga ternyata ngelakuin pembunuhan. Gue yakin ini pembunuhan berencana," sahut Fana yang juga langsung menutup kardus itu.

Lalu tiba-tiba suara langkah kaki berlari terdengar menghampiri ruangan yang sedang Gara dan Fana tempati, mereka menoleh dan sosok Eltra dan Bima sudah berada di depan pintu sambil mengatur napas mereka.

"Kita harus keluar dari sini! Mereka tau kita ngintai!" teriak Eltra sambil berusaha mengatur napasnya.

Fana terdiam sebentar. Bukan karena teriakan Eltra, melainkan ia mendengar sebuah melodi lagu yang sungguh sangat familiar di telinganya. Ia memejamkan matanya dan berusaha mengingat, namun, ini aneh. Fana yakin tidak ada ponsel atau apapun yang bisa mengeluarkan suara ada di sini, lalu siapa yang membunyikannya?

Ruang Rindu [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang