Fana merebahkan tubuhnya di atas ranjang berbentuk oval itu. Ia masih tersenyum.
Ia selalu teringat bagaimana gadis itu mengucapkan nama panggilan yang memang kesukaannya. Fana menggelengkan kepalanya menatap langit-langit kamarnya.
"Bener kan gue, lucu dia."
Fana mengeluarkan ponselnya. Ia membuka daftar kontak dan mencari nama yang tadi memang sengaja ia masukkan saat memegang ponsel Senja.
Sementara itu, terdengar suara kegaduhan yang berasal dari luar kamar Fana, lelaki itu menggelengkan kepalanya. Ia tau ulah siapa itu.
"Garaa! Eltra! Jangan pecahin piring lagi!!" teriak Fana dari dalam kamarnya.
Mendengar suara keributan itu belum juga reda, ia bangkit dan berjalan ke luar.
Fana berjalan ke arah dapur. Tidak ada siapa-siapa.
Dugaannya salah. Bukan Eltra dan Gara.
Ia berjalan dengan pelan ke arah kamar Dewi, bundanya.
Lelaki itu mengintip perlahan lewat celah pintu kamar Dewi, dan ia langsung berlari menghampiri sang bunda yang sedang bersimpuh dan sudah memegang pecahan kaca di dekat pergelangan tangannya itu.
"Bundaa! Jangan!" Fana berusaha menarik pecahan kaca itu, tangannya terluka. "Bunda, lepasin!"
Lelaki itu masih berusaha menarik pecahan kaca, sementara Dewi terus meronta.
Sampai akhirnya ia menggenggam tangan Dewi. "Bunda, Bunda masih punya Fana. Masih ada Fana yang bisa jaga Bunda."
Dewi yang sedang menangis itu langsung menoleh dengan perlahan. "Bunda gak sakit! Bunda sehat, Fana!!" Dewi berteriak.
Hal itu membuat Fana menurunkan genggaman tangannya, ia melepaskan kaca itu dengan perlahan. Fana memeluk Dewi erat sekali.
"Bunda memang gak sakit, dia aja yang menganggap Bunda sakit. Bunda selalu sehat."
Fana mengusap rambut Dewi dengan perlahan. "Jangan begini lagi, Bunda. Fana cuma punya Bunda."
Dewi memeluk pinggang Fana. Ia menangis sesenggukan di pundak anak lelakinya itu. "Bunda gak sakit, Fana," ucapnya lirih.
Fana tidak menyahuti. Ia tetap mengusap rambut Dewi terus sampai Dewi benar-benar tenang dan terlelap. Fana mengangkat tubuh bundanya lalu merebahkan di atas ranjang.
Tangan bundanya ia bersihkan dengan air, takutnya ada pecahan kaca yang menempel. Begitupun dengan lantai di sekitar ranjang Dewi. Ia menghilangkan pecahan kaca itu dengan perlahan.
Tapi tetap saja, orang seperti Fana memang tidak pernah hati-hati. Tangannya terluka di kanan dan kiri.
Setelah selesai membersihkan lantai kamar bundanya, ia mengecup kening Dewi dengan perlahan dan menyelimuti tubuh mungil bundanya itu.
"Selamat tidur, Bunda."
Fana berjalan pelan keluar kamar Dewi supaya tidak membangunkannya. Ia beralih ke dapur, mencuci tangannya, tetap saja tangannya terasa perih dan sakit.
"Dicuci aja deh sama air biar gak infeksi, lagian cuma tangan gue. Yang penting bukan tangan Bunda," katanya pelan.
Ia kembali ke kamarnya. Begitulah suasana rumahnya yang ia rasakan selama dua tahun belakangan ini. Fana membuka laci belajarnya, mengambil sebuah foto di dalamnya.
"Andai aja, dulu lo gak pergi dan menghilang, mungkin Bunda gak akan sampai kayak gini."
Fana tersenyum tipis. Itu bukan kali pertamanya Dewi bertingkah seperti itu, dalam dua tahun ini, banyak kejadian lebih parah daripada hal itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Rindu [Completed]
Roman pour Adolescents"Fana jadi debu! Fana selamanya jadi ilusi buat Senja!" Senja tidak pernah menduga akan memasuki lingkaran kehidupan baru ketika bertemu Fanathan, salah satu anggota tim basket di SMA Harapan Nusantara. Kembali berurusan dengan Regha; manta...
![Ruang Rindu [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/163288110-64-k13234.jpg)