Fana membuka helmnya, ia sampai di halte terdekat yang bisa ia temukan dari sekolah. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Senja di sana, hanya orang-orang biasa saja yang ada.
Lelaki itu meletakkan motornya dan berjalan menelusuri jalanan melihat ke kanan-kiri, apakah ada sesuatu yang mencurigakan atau tidak.
"Bu, tadi rute terakhir bus ini ke arah mana ya?" tanya Fana kepada seseorang wanita yang duduk di halte itu.
"Tadi rute terakhir sampai sini, Mas. Supir bus-nya bilang kalau kami semua harus turun, soalnya bus-nya harus diperbaiki."
Fana menautkan alisnya. "Supirnya, Ibu lihat kayak gimana?"
"Gak lihat, Mas. Pakai kacamata sama pake kayak topi gitu, saya gak lihat. Ada apa, Mas?"
"Ibu lihat ada anak cewe remaja yang pakai baju kayak saya di dalem sana?"
"Kayaknya nggak ada yang pakai baju kayak, Mas. Tapi, saat kami diminta turun, ada anak gadis yang masih diam di dalamnya dan kayaknya dia gak turun."
Seketika Fana menegang. Lalu jika ia tidak memakai baju seperti Fana, Senja memakai baju apa?
Ayolah, Fana! Berpikir! Mungkin ibu itu bisa memberimu petunjuk!
"Bu, apa dia pakai kayak semacam jaket pakai penutup kepalanya?"
Wanita itu tampak berpikir berusaha mengingat. Lalu ia mengangguk. "Iya, Mas. Kalau gak salah warnanya cokelat muda."
Fana langsung menarik napasnya, itu Senja. Senja pasti memakai hoodie miliknya karena ia berpikir akan hujan.
Senja dibawa oleh seseorang!
"Terakhir bus itu jalan ke arah mana, Bu?"
"Ke selatan, Mas."
Fana mengangguk lalu ia mengucapkan terima kasih dan langsung berlari sesuai dengan arah yang diberikan ibu tadi.
Sudah hampir tiga puluh menit ia berlari menelusuri jalanan. Tetapi ia tidak menemukan petunjuk di mana keberadaan Senja. Ia tidak dapat menemukan gadis itu.
"Senja... lo di mana?!"
Fana merogoh sakunya, mengambil ponselnya dan terus berusaha menelpon gadis itu sambil terus menyusuri jalanan.
Sudah berkali-kali Fana menelepon dan tidak diangkat. Fana mengusap wajahnya kasar. Sekali lagi ia mencoba untuk menelepon Senja dan tetap tidak terjawab.
Fana membungkukkan badannya. Harusnya tadi pagi ia bersama Senja. Harusnya ia tidak membiarkan Senja pergi sendiri. Harusnya ia mengantar Senja sampai sekolah.
"Kasih petunjuk, Nja." Tiba-tiba rintik air hujan mulai turun dari langit yang juga berubah gelap. "Argh! Hujan! Senja gak suka hujan!"
Sekarang ia mencoba untuk menelepon Eltra. Mungkin ia harus meminta bantuan kepada temannya.
"Halo, Eltra! Dengerin gue!"
"Apa? Lo di mana?"
"Cari temen gue, tolong suruh dia ngelacak keberadaan Senja sekarang lewat nomer handphonenya! Pergi sekarang habis itu langsung kabarin gue!"
"Hah? Apa? Woy, gue gak denger! Hujan!"
Fana tidak menghiraukan sahutan Eltra itu, ia langsung mematikan sambungan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku.
"Senja, lo di mana?!!" teriak Fana di bawah derasnya hujan yang mengguyur Kota Jakarta pagi itu.
Ia melihat jam tangannya. Sudah satu jam lebih Fana mencari dan masih belum ketemu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Rindu [Completed]
Novela Juvenil"Fana jadi debu! Fana selamanya jadi ilusi buat Senja!" Senja tidak pernah menduga akan memasuki lingkaran kehidupan baru ketika bertemu Fanathan, salah satu anggota tim basket di SMA Harapan Nusantara. Kembali berurusan dengan Regha; manta...
![Ruang Rindu [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/163288110-64-k13234.jpg)