1.9 || Lelah

2K 206 9
                                        

"Fana! Senja!"

Keduanya langsung mengalihkan pandangan dan Fana tersenyum lega. Setidaknya gadisnya akan berada di tempat yang nyaman.

"Kok bisa gini sih?!" tanya Eltra sambil berusaha membantu Senja dan Fana bangkit lalu ketiganya langsung berjalan keluar dari gudang itu.

"Nanti aja ceritanya. Sekarang lo anterin dia pulang ke rumah dulu," sahut Fana sambil perlahan memindahkan pegangan tangan Senja ke bahu Eltra.

Namun, Senja menggelengkan kepalanya. "Fana mau ke mana?"

Seketika mendengar Senja menggunakan nama untuk memanggil, membuat Eltra langsung bermain mata dengan Fana.

Fana yang mengerti maksud temannya itu hanya bisa menatapnya tajam sambil menaikkan dagu.

Sementara Senja hanya menarik-narik ujung baju seragam Fana. "Kenapa gak Fana aja yang anterin pulang?"

Pandangan Senja beralih ke Eltra yang sudah memegang pundaknya. Gadis itu melepas tangan Eltra yang berada di pundaknya. Ia menarik tangan Fana.

"Senja gak berani sama Eltra. Nanti diculik."

Seketika gadis itu menangis lagi. Sementara Eltra yang sepertinya merasa kesal langsung ditahan Fana supaya tidak berbuat aneh-aneh. Fana mengisyaratkan untuk tetap diam saja.

"Ssttt..." Fana merangkul pelan Senja lalu membiarkan gadis itu memeluk pinggangnya. Sementara Fana hanya menepuk pelan kepala gadis itu.

"Eltra gak nyulik. Senja di anterin Eltra aja, ya? Fana ada urusan."

Gadis itu melepas pelukannya lalu menggeleng pelan. Kali ini dengan mukanya yang cemberut. "Urusan apa? Mau ke mana? Senja gak mau pulang sama Eltra."

Fana mengembuskan napasnya. Tidak mungkin ia akan meninggalkan Senja kalau ia berusaha mencari tahu siapa pelaku ini.

Ia hanya ingin mencari tahu kebenarannya.

"Ya udah, gue yang bawa motor lo pulang. Lo aja yang anterin dia balik. Tapi anterin dulu gue cari motor lo," sahut Eltra dengan nada terpaksa.

Fana mengangguk. Lagipula ada benarnya juga ia tetap menemani Senja untuk saat ini.

Setelah ketiganya masuk ke dalam mobil, Fana menyuruh Senja untuk tidur saja, ia akan memastikan bahwa gadis itu akan selamat sampai rumahnya.

Tidak. Fana tidak akan membawa gadis itu ke rumahnya sendiri. Fana akan membawanya ke rumah Fana.

Lebih aman jika Fana berada di dekatnya untuk saat ini.

Sepuluh menit berlalu, Fana melirik ke belakang dan tersenyum tipis melihat gadisnya itu sudah tertidur. Ia mengembuskan napas pelan.

"Eltra, bantuin gue."

Eltra yang sedang mengemudi itu menoleh. Ia melihat temannya itu seperti kalut. Benar-benar terlihat tidak sepeti Fanathan yang biasanya.

"Cari tau itu tempat apa, dan tolong cari informasi tentang bus terakhir pagi ini yang berhenti di halte sekitar sekolah."

Eltra perlahan menoleh ke belakang. "Kenapa dia? Sebenernya kenapa sih ini? Gue gak paham."

Fana mengembuskan napasnya. "Gue juga gak ngerti. Ada yang mau main-main sama gue. Gue yakin dia yang dijadiin umpan."

"Kali ini, bantuin gue cari tau dalangnya. Bakal gue habisin siapapun itu."

Eltra menoleh. Tatapannya berubah serius.

"Tadi gue sempet dateng ke tempat temen lo itu, gue sempet ngelacak di mana Senja. Titik pertama Senja bukan di gudang itu," ucap Eltra yang seketika membuat Fana menegang kembali.

Ruang Rindu [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang