2.8 || Bukan Mimpi

1.6K 146 9
                                        

Humming For Death

Silakan diputar untuk menambah aura ketegangan dalam bagian ini. Kali ini, bukan siapkan tisu, tapi siapkan selimut supaya tidak ketakutan. Harus diputar.
Harus.



-


-


Wanita itu berdiri di tepi tebing di tengah hutan yang persis di bawahnya sungai mengalir deras. Wanita yang sekiranya berumur hampir 40-an itu merentangkan tangannya seperti siap untuk terjun ke sungai.

Ia memejamkan matanya. Namun baru saja ia ingin menjatuhkan tubuhnya, seorang pria menahannya dan menariknya paksa untuk turun.

"Nila! Kamu tidak boleh pergi sshh... Kalau kamu pergi nanti saya tidak ada yang menemani!" ujarnya sambil menarik erat lengan Nila.

"Saya tidak pernah sudi menemanimu sampai kapan pun! Kamu dan obsesi mu terhadapku itu hanya membuatku ingin menghilang meninggalkan semuanya di dunia ini!"

Nila melepaskan tangan pria itu dengan paksa. Ia memundurkan langkahnya dengan perlahan melihat tatapan nafsu dari pria brengsek itu. Pria yang sudah merenggut keluarga tersayangnya dari dirinya.

"Kali ini saya akan pergi tanpa menyisakan apapun!!"

Pria itu menatapnya marah. "Kamu tidak akan saya izinkan untuk pergi..."

Suara pria itu terdengar serak dan seperti berbisik. Sementara Nila, wanita itu sudah menangis.

Mengapa nasibnya seburuk ini?

Mengapa pria brengsek ini yang harus menyaksikan kematian yang tidak pernah ia inginkan? Lebih baik ia mati daripada harus hidup bersama orang yang hanya terobsesi dengannya! Bagaimana mungkin ada pria yang seperti itu? Terobsesi cintanya padahal dirinya tidak mencintai pria itu. Gila!

"Saya mau pergi. Saya sudah tidak peduli dengan mu. Biarkanlah keluarga saya di sana mengira saya jahat karena meninggalkan mereka. Lebih baik daripada harus terus hidup bersamamu!"

"Tidak usah sampaikan apa-apa kepada mereka! Carilah wanita lain yang bisa memuaskan nafsu sialan mu itu!" teriak Nila sekali lagi.

Ia memejamkan matanya dan langsung merentangkan tangannya lalu terjatuh di sungai. Sementara pria itu, ia hanya menatap lurus tanpa minat.

"Sshh .... Baiklah, akan aku buat mereka sama seperti dirimu."

Pria itu berbalik dan menunduk, kaca mata hitam yang menghiasi matanya dan...

Senja tersadar dengan keadaan menangis. Bulir cairan bening itu turun sejak tadi ia memimpikan mamanya. Ia memimpikan mamanya yang sudah lama meninggalkannya.

"Mama? Mama bunuh diri? Mama sama siapa itu?"

Senja menutup kedua matanya, membiarkan matanya untuk mengeluarkan cairan bening itu dengan deras. Senja tidak mengerti. Selama ini ia tidak tau apa yang terjadi dengan mamanya. Entah di mana mamanya berada atau dengan siapa.

Senja tidak tau.

"Siapa orang itu, Ma? Siapa yang udah jahat sama Mama?" ujarnya sambil menahan isak tangisnya itu.

"Pria itu kenapa jahat sama Mama, kenapa dia terobsesi sama Mama, kenapa dia—" Senja terdiam sejenak. Ia membuka kedua matanya. "Suara itu. Suara yang bicara sama Mama, suara pria itu persis dengan suara pria bertopi baret itu."

Ruang Rindu [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang