2.1 || Si Gemes dan Asap Rokok

2.2K 192 10
                                        

Hari sudah berganti. Senja sudah melupakan kejadian di hari kemarin yang jika diingat akan membuatnya menangis.

Jika Senja mengingat, sebenarnya kemarin itu menyenangkan. Bukan diculiknya. Menyenangkan mendapat perhatian lebih dari Fana.

Sampai-sampai Fana tidak menyadari atau mungkin sengaja menggunakan nama panggilan untuk menyebut. Mungkin mengikuti Senja atau entah, kemarin itu Fana terlihat lebih lembut dari biasanya.

Dan sekarang, pacarnya itu sedang latihan di bawah teriknya sinar matahari. Sementara Senja sebagai pacar yang baik, menemani Fana dan tentunya membawa persediaan air dan handuk.

Ah, sebenarnya itu adalah bagian dari tugas osisnya juga. Hanya saja, kali ini Senja lebih fokus ke Fana.

"Eltra! Gara!" Fana memanggil kedua temannya itu dengan isyarat tangan juga.

Keduanya berlari menghampiri Fana. "Apa? Kenapa? Siapa? Aku di mana?" sahut Gara dengan absurd.

Fana mengembuskan napas. Keringatnya bercucuran membuat lelaki yang mengenakan kaos hitam oblong itu terlihat lebih gagah.

"Jangan pernah lo berdua cerita ke siapapun soal kejadian kemarin. Cukup kita berempat yang tau. Selebihnya, lo bisa bantuin gue buat nyelidikin siapa pelakunya. Paham?"

"Emang kenapa gak ada yang boleh tau?" tanya Gara.

Eltra mendelik lalu menoyor keras kepala Gara. "Lo mau Senja semakin gak aman kalo berita itu nyebar? Malah nanti banyak yang kepo siapa yang nyulik, dan dia malah lebih berusaha buat nyulik Senja lagi."

"Tumben otak lo cerdas," sahut Fana sambil menepuk pundak Eltra pelan.

"Tentu—gue kan emang lelaki cerdas!"

"HEH ITU BERTIGA! AYO LANJUTIN LATIHANNYA! MALAH NGERUMPI!"

Teriakan Devo itu langsung membuat mereka langsung memainkan bola basketnya. Ya, pertandingan itu tinggal menghitung hari. Sebenarnya mulai hari ini, Fana sudah harus latihan sampai malam hari.

Karena lima hari lagi, pertandingannya akan berlangsung.

Tetapi gadis itu, tetap ingin menemani Fana. Sebenarnya Fana yang memintanya. Hanya ada dua alasan. Satu, supaya Fana bisa melihat wajah Senja dan bersemangat kembali. Kedua, Fana harus memastikan bahwa Senja tetap aman.

Tidak ada yang tahu, bisa jadi pelaku itu ada di mana-mana dan selalu mengamati Senja. Sekali saja Fana lengah, Fana benar-benar akan kehilangan gadisnya.

"Ja."

Senja menoleh, ternyata Nalda menghampirinya. Ah, gadis itu tadi sudah mengirim pesan bahwa ia akan terlambat untuk datang. Ya tidak apa-apa.

"Hmm?"

"Kita bakalan ngapain aja buat persiapan mereka?"

"Nanti malem gue kirimin jadwal mereka. Lima hari lagi kan udah tanding, jadi kita harus lebih ekstra juga ngawasinnya."

Nalda mengangguk sok mengerti. Lalu dengan jahil ia menyenggol lengan Senja. "Anyway busway, kayaknya ada yang belom lo ceritain ke gue!"

Senja mengernyitkan dahi. Apa yang belum diceritakannya?

Nalda yang mengerti dengan cara Senja memandang itu langsung mengarahkan jarinya menunjuk Fana. "Tuh, orang itu."

Senja tiba-tiba terbatuk. Ceritanya tersedak ketika mendengar pertanyaan Nalda. Dari mana gadis itu tau kalau ada sesuatu antara dirinya dengan Fana?

Lagi-lagi, seperti bisa membaca pikiran Senja, Nalda menunjukkan ponselnya. Seketika mata Senja langsung membulat.

"INI DAPET DARI MANA?!"

Ruang Rindu [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang