"Lepasin tangan lo yang nyentuh bahu dia."
Suara lelaki itu benar-benar membuat keduanya ketakutan. Di sana Senja langsung melepas tangan Regha dan langsung mengambil tasnya menyusul Fana yang sudah pergi keluar.
"Fana... Fanaa..."
"Fanaa tungguin Senja!" teriak Senja sambil berlari dan akhirnya ia berhasil menarik tangan Fana.
Sungguh.
Kenapa Senja melupakan satu fakta yang sangat penting ini?!
Kenapa Senja tidak ingat kalau orang yang paling Fana tidak sukai jika dekat-dekat dengan Senja adalah Regha. Kenapa Senja bisa lupa itu?
Dan kenapa tadi Senja mau-mau saja dipeluk Regha?
Ah, Senja. Sungguh. Kamu hilang akal kali ini.
Fana tidak berbalik badan. Ia hanya tetap memandang lurus tanpa mau melihat Senja yang menarik tangannya itu.
"Fana, Senja minta maaf. Maaf—"
Fana melepas dengan kasar tangan Senja yang memegang erat tangannya itu.
"Gue mau balik."
Senja hanya bisa menarik napasnya melihat perlakuan Fana kepadanya. Senja tidak suka diperlakukan kasar oleh pacarnya sendiri.
"Senja minta maaf." Senja menyentuh tangan Fana lagi. Namun lelaki itu dengan cepat menepis pelan.
"Kenapa minta maaf?" tanya Fana. Suaranya tidak selembut biasanya. Kali ini suaranya berubah seperti memang menahan amarah.
"Senja salah."
Fana diam. Lelaki itu tidak menjawab pernyataan yang diberikan gadisnya. Fana juga belum mau berbalik badan menatap Senja.
Gadis itu dibelakangnya sudah menahan dirinya untuk tidak menangis. Sungguh. Sungguh ia tidak bisa diperlakukan seperti ini.
"Fana ... lihat Senja. Jangan ngebelakangin Senja kayak gini."
Kali ini Senja juga ikut menarik ujung baju Fana. Tangannya masih menggenggam tangan Fana juga.
Fana tidak berbalik badan.
Senja yang tidak tahan langsung memutar badan Fana dengan paksa. Ia bisa melihat sorot tajam itu dari mata pacarnya.
Fana tidak ingin menatap mata gadisnya. Ia terus melihat ke sekelilingnya. Ia tidak mau menatap gadisnya.
"Fana marah ya sama Senja?" tanya Senja dengan suara pelan dan takut.
Fana tidak menjawab. Sekarang ia menatap mata gadisnya dengan tajam.
"Fana kalo marah mending marahin aja. Senja mendingan dimarahin daripada didiemin kayak gini."
Fana masih diam.
"Fana..." Senja mengayunkan tangan Fana dengan cepat. "Marahin Senja! Jangan didiemin! Senja gak suka!"
Kali ini Senja memukul bahu Fana. Ia kesal karena lelaki itu tidak mau menyahutinya.
Dan, Senja memang sangat baperan. Ia sangat mudah merasakan emosi itu. Sekarang matanya juga sudah berkaca-kaca.
"Maaf, tadi dia dateng buat—"
"Gue denger semuanya."
"Maaf, Fana. Maaf kalo Senja udah buat Fana gak suka. Senja minta maaf..." sahut Senja yang langsung menutup kedua matanya.
Ya. Akhirnya gadis itu menangis. Ia tidak bisa menahannya. Ia benar-benar tidak suka kalau ada orang yang mendiamkannya.
"Senja minta maaf. Senja hiks pulang duluan. Hiks Fana hati-hati."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Rindu [Completed]
Teen Fiction"Fana jadi debu! Fana selamanya jadi ilusi buat Senja!" Senja tidak pernah menduga akan memasuki lingkaran kehidupan baru ketika bertemu Fanathan, salah satu anggota tim basket di SMA Harapan Nusantara. Kembali berurusan dengan Regha; manta...
![Ruang Rindu [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/163288110-64-k13234.jpg)