Bima kembali memundurkan langkahnya. Sementara Eltra dan Gara, terus mendekatinya sambil memberikan smriknya.
Manusia dibalik suara itu memunculkan dirinya, kemudian ia tersenyum miring. "Well ... jadi, cuma gue di sini yang nggak terlihat sampe lo nggak tau gue adalah bagian dari mereka, hem?"
Bima mengepalkan tangannya. "Brengsek! Lo siapa anjing!"
Lelaki itu tertawa. "Gue," Kemudian ia mendekati Bima yang tersungkur itu, lalu mencengkram rahang Bima kuat, "manusia yang selalu mantau lo sejak kedatangan lo di lingkaran kehidupan Senja. Well ... jangan ngira kita bertiga bodoh."
"Manusia sampah kayak lo yang gak ngerti gimana cara main orang dewasa," ucap Eltra tegas. Kemudian lelaki itu mengeluarkan ponselnya menunjukkan sebuah rekaman video.
Melihat video itu, Bima seketika menegang. Dari awal Bima yang terjebak. Bima mengira yang selama ini berkomunikasi dengannya adalah sang suara. Dia mengira yang selamanya memberi perintah setelah kejadian di gudang itu adalah lelaki ini.
Video pertama tampak lelaki itu memakai masker dan topi baret seperti rupa sang suara. Pada saat hari Senja diculik, Bima menerima dua telepon, dan satunya berasal dari lelaki ini. Dia yang mengarahkan Bima untuk mengikuti perintah. Lelaki ini sudah tau jika Bima adalah suruhan sang suara yang sebenarnya.
Di setiap kegiatan Bima, lelaki ini selalu memantau apa yang ia lakukan. Dan di hari ini, sebelum Bima bertemu Eltra dan Gara, Bima telah mendapat misi selanjutnya dari sang suara.
Bima memberontak. "Lo juga sama aja bodohnya kayak gue! Selama ini lo bertiga tau kalau gue yang berhubungan sama si suara, tapi lo gak ada gerak untuk cari tau siapa dia!"
Lelaki itu menggeram. "Gue, Regha. Buat apa awalnya gue tau tentang lo dan gak gunain lo sebagai umpan hah?!"
"Gue selama ini cuma denger suara dia doang puas lo!"
Bima mendapat tatapan tidak puas dari Regha. "Oh, good! Lo tau suara dia, itu artinya lo juga bisa lacak suara siapa kan?"
"Brengsek! Kalau dari awal gue bisa, udah gue lakuin! Gue juga bodoh kalau mau kerja sama orang yang bahkan gue gak tau siapa! Gue begini karena gue dibayar!"
"Dia ngincer lo karena lo satu-satunya temen Fana yang pinter dalam hal kayak gini. Nyadar bisa gak sih? Punya otak dipake, bukan buat bohongin temen lo sendiri!" sahut Gara tak terima.
"Sebelum gue telepon lo, dia udah duluan nelepon lo. Apa katanya?!" tanya Regha tajam. Sorot matanya menampilkan bahwa ia tidak suka dengan Bima sejak diberitahu oleh Eltra dan Gara.
— Ruang Rindu —
Saat hari berakhirnya penculikan Senja untuk kali pertamanya, setelah Eltra diminta Fanathan mencari Bima untuk bantuan, detik itu juga ia menghubungi Regha dan menceritakan kejadiannya.
Eltra sadar akan tingkah Bima yang terlalu tahu letak persis Senja membuatnya semakin curiga. Bahkan, ketika Eltra sampai di markas Bima untuk pertama kalinya, lelaki itu sudah mengatakan bahwa seseorang di dekat Fana yang menyebabkan ini semua.
Kecurigaannya semakin bertambah ketika sehari setelah Senja diculik, Bima malah memberi isyarat bahwa yang menculik Senja berada di sekitar mereka. Setelah semua kecurigaannya itu, Eltra lantas berkomunikasi dengan Regha juga Gara.
"Jadi, maksud lo, lo curiga kalau temen Fana ini ada hubungan sama orang yang nyulik Senja?" tanya Regha ketika ketiganya berkumpul di rumah Gara.
"Gue gak terlalu yakin, tapi gue rasa, dia aneh. Dia bukan sepemikiran sama kita, ada hal yang dia sembunyiin. Dan dia bukan ada di pihak kita," sahut Eltra serius.
"Jadi, gue harus ngapain?"
"Lo harus mantau dia, sampai lo tau apa yang sebenernya terjadi," ucap Gara yang sudah membicarakan ini dengan Eltra sebelumnya.
"Dan Fana gak boleh tau soal gue ada di tim kalian?"
Keduanya kompak menggeleng. "Biarin kita bergerak seolah hanya berlima sama si Bima, lo cukup jadi orang belakang yang selalu mantau kita berempat maupun Bima. Karena, yang mereka kejar bukan cuma Fana, tapi juga Senja."
"Oke. Gue ikut di tim ini. Gue akan cari tau apa sebab lo berdua curiga sama dia."
Tidak lama setelah Regha bergabung, dia menghubungi Gara dan Eltra. Tepat saat pertandingan basket berlangsung, Regha memberi tau bahwa benar Bima tidak ada di pihak mereka.
"Selama seminggu ini gue ngikutin dia, gue tau kalau dia ternyata disuruh."
Eltra dan Gara yang berkumpul di rumah Regha saat itu langsung membulatkan netra. "Disuruh? Jadi dia juga ikut campur bareng sama si suara itu?" tanya Gara penasaran.
"Gue gak paham. Dia selalu nyebut sang suara selama dia di telepon. Dan, menurut gue, dia juga gak tau siapa orang itu, dia cuma denger suaranya dan ngelakuin misi yang diminta sama orang itu."
"Jadi ... lo punya rencana apa?" tanya Eltra.
"Gue akan jadi sang suara kedua."
Pandangan keduanya langsung serius menatap Regha.
"Gue akan buat dia ngalihin tentang apa aja suruhan yang diminta sama sang suara satu. Dia bakal kita jadiin umpan buat nemuin siapa suara itu sebenernya. Gue akan nelpon dia setelah suara satu nelpon, dan gue akan minta dia mengulang misi itu seolah gue memastikan bahwa dia bener ngelakuin misi itu. Dan kita bisa pakai dia buat jadi mata-mata. Gue yakin, sang suara tau dia karena dia temen Fana."
"Kalau telepon dia setelah suara satu, bukannya dia bakalan tau perbedaan suara kalian?" ujar Gara.
"Gue tau kalau orang itu bicara gak pakai suara asli, itu adalah rekaman yang udah diedit dan dibuat seolah bergema. Dan ... gue akan ngelakuin hal yang sama."
Eltra dan Gara saling pandang kemudian menganggu.
"Hari ini, suara satu nelpon dia dan minta dia untuk ngarahin Senja pulang ke rumah karena akan terjadi suatu hal. Gue gak tau kapan akan terjadi, tapi gue mau kita semua siap."
— Ruang Rindu —
"Dia bilang bakalan jalanin rencananya yang selanjutnya! Gue nggak dikasih tau apa! Gue rasa gue udah ketauan sama dia! Ini semua gara-gara lo! Gue gak mau jadi korban karena hal ini!" teriak Bima tidak karuan.
Sementara itu, pendangan Regha terfokus menatap Gara dan Eltra lalu menyuruh mereka untuk pergi mencari Senja dan Fana lalu memastikan keadaan keduanya aman.
Setelah keduanya pergi, Bima bangkit. "Bukan cuma, tapi lo sama gue juga harus pergi dari sini."
"Gue belum selesai nanya sama lo!" teriak Regha kehabisan napas.
"DIA UDAH ADA DI SEKITAR SINI! DIA UDAH TAU KEBERADAAN GUE DAN SINAR INFRAMERAH YANG TIBA-TIBA MUNCUL KARENA DIA ADA DI SEKITAR SINI!" teriak Bima semakin keras dengan penekanan di setiap katanya.
"Maksud lo?!"
"Dia bakalan nyari gue dan lo! Dia bakalan bawa kita ke tempat yang bahkan gak gue duga itu di mana! DIA JUGA NGINCER GUE! Telepon dia tadi sebelum lo, bilang adalah misi selanjutnya! Tapi di akhir teleponnya dia bilang misi selanjutnya itu adalah gue!"
Tiba-tiba pintu terbuka.
Dan seketika pandangan keduanya memburam.
***
Hai, semuanya!
Aku minta maaf sekali karena sudah hampir setahun gak ngelanjutin cerita ini... aku yakin gak banyak dari kalian yang nungguin ini juga. Tapi aku akhirnya ngelanjutin ini, karena sebentar lagi akan tamat, dan aku harus menyelesaikan apa yang udah aku buat!
Jadi, besok aku akan update lagi tapi jam-jam seginian juga kayaknya, tapi kalau emang bisa lebih awal, aku bakalan update kok!
Tungguin akhir kisah Fana dan Senja ya! Tetep abadi di Ruang Rindu ini!
Aku sayang banget kalian! Terima kasih ya! Jangan lupa bintang di pojok kiri! Hehe ily💛🪐
Salam sayang, Kei.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Rindu [Completed]
Teen Fiction"Fana jadi debu! Fana selamanya jadi ilusi buat Senja!" Senja tidak pernah menduga akan memasuki lingkaran kehidupan baru ketika bertemu Fanathan, salah satu anggota tim basket di SMA Harapan Nusantara. Kembali berurusan dengan Regha; manta...
![Ruang Rindu [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/163288110-64-k13234.jpg)