Mungkin kalian memang harus mendengarnya ketika membaca bagian ini sampai selesai...
Kini Fana dan Senja sedang menuju markas Bima tepat pukul lima sore keesokan harinya. Jarak menuju markas Bima dari rumah Senja memakan waktu tempuh dua jam. Langit mulai berwarna kemerahan, sementara Senja tertidur dengan tangan kanannya menggenggam erat Fana.
"Jangan tinggalin Senja, please, Senja mohon...."
Fana melirik gadisnya yang tertidur itu. Senja bermimpi dalam tidurnya. Fana belum menghentikan mobilnya, lelaki itu hanya menepuk kepala Senja perlahan.
"Mama! Mama!!"
"Kamu?! Jangan! Jangan lagi! Cukup!!"
"Senja .... Senjaa bangun, Senja cuma mimpi. Bangun, Nja." Fana menepuk pipi Senja dengan pelan, namun keringat dingin membasahi pelipis gadis itu.
"Jangan ... jangan Fana .... Biarin Senja sama Fana! Jangan Fana yang kamu—"
Tiba-tiba Senja membuka matanya kemudian ia langsung memeluk Fana erat. Melihat kelakuan gadisnya itu, Fana langsung menepikan mobilnya, lalu balas mendekap Senja erat. Ya, Fanathan tau, jika Senja sedang bermimpi buruk, gadisnya akan tenang kita mendapat dekapan hangat.
"Tenang, Nja. Ini cuma mimpi, Mama udah tenang di atas sana, Nja. Jangan sedih."
Hembusan napas Fana menerpa rambut Senja. Beberapa detik kemudian Senja menangis deras. Gadis itu sesenggukan dan Fana hanya menepuk punggung gadisnya supaya merasa lebih baik dari sebelumnya.
"Ssst ... jangan nangis, Fana di sini. Fana gak akan ninggalin Senja, kok."
Senja masih menangis deras. Gadis itu memeluk Fana erat. Erat sekali seolah ia merasa bahwa Fana tidak akan berada di sisinya lagi selamanya. Kemudian Senja menggelengkan kepala kuat-kuat, menepis pikiran buruknya yang selalu hinggap sejak kemarin.
"Senja, kenapa? Biasanya Senja gak pernah nangis kalau mimpi soal Mama lagi? Kali ini Senja lihat apa di mimpinya Senja?" tanya Fana pelan.
Lelaki itu jelas tau jika gadisnya bermimpi, ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Mimpi itu menjadi hal yang sebenarnya atau mimpi itu hanya kejadian di masa lalu yang belum sempat diketahui oleh Senja.
Dan meskipun Fana tidak pernah tau apa saja hal yang dimimpikan gadis itu, Fana selalu berharap itu adalah mimpi masa lalu yang belum diketahui Senja.
Bukan mimpi yang akan menjadi hal sebenarnya.
"Senja gak mau cerita lagi ke Fana?"
Senja tidak menyahutinya, gadis itu masih menangis deras. Memeluk Fana erat-erat.
"Kita lanjut jalan, yuk? Langitnya udah hampir mau gelap. Biar kita gak terlambat ke markas Bima. Mungkin aja dia bisa kasih kita petunjuk lain soal Papa."
Baru saja Fana ingin melepas dekapan Senja, gadis itu menahannya.
"Biarin dulu kita di sini sebentar aja..."
Fana berusaha melihat wajah gadisnya. "Kenapa, Nja? Ada yang ganggu di pikiran Senja? Bilang sama Fana ada apa? Biar Fana juga bisa bantuin Senja nyele—"
"Kalo itu soal Fana, apa bisa Fana bantuin Senja nyelesaiin?"
"Maksudnya?"
"Fana tau kan, Senja gak mau mikirin firasat aneh Senja sejak kemarin?" Gadis itu masih menangis, dia melepas pelukannya perlahan. "Tapi ... Ini aneh, Fana. Senja ngerasa itu nyata."
"Apa yang nyata, Nja?" Fana mengusap perlahan rambut gadisnya.
"Kita semua gak dalam keadaan baik-baik aja, Fana." Senja menatap netra Fana lekat. "Satu diantara kita atau entah semuanya, akan ada yang menghilang selamanya, Fana...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Rindu [Completed]
Teen Fiction"Fana jadi debu! Fana selamanya jadi ilusi buat Senja!" Senja tidak pernah menduga akan memasuki lingkaran kehidupan baru ketika bertemu Fanathan, salah satu anggota tim basket di SMA Harapan Nusantara. Kembali berurusan dengan Regha; manta...
![Ruang Rindu [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/163288110-64-k13234.jpg)