1.6 || Hal Aneh

2.1K 201 5
                                        

Gadis di depannya itu tersenyum dengan tulus. Bukan. Fana tidak mengerti apakah tulus atau tidak. Atau lebih tepatnya seperti menginginkan sesuatu?

"Kenapa, Na? Ada yang mau lo bilang?"

Gadis itu mengangguk pelan namun arah pandangannya masih ke bawah. Belum mau melihat Fana.

Fana mengangkat dagu gadis itu kemudian ia mencubit pelan pipinya. "Hei, bilang aja. Beneran. Gue gak pernah gigit kali. Udah mau delapan bulan masa masih ada yang disembunyiin sih, cantik?"

Gadis itu mengembuskan napas. "Maaf, Fana." Ia melepas tangan Fana yang menyentuh pipinya lalu menggengamnya perlahan. "Sana gak bisa terus bohongin Fana kayak gini."

Perkataan gadisnya itu membuat alis Fana bertaut. Tunggu. Apa maksudnya? Bohong dalam hal apa? Apakah Fana melakukan kesalahan? Tunggu. Fana tidak mengerti.

"Maksudnya? Lo bohong apa sama gue?"

Sekali lagi. Sana mengembuskan napasnya. "Maaf, delapan bulan ini Sana gak bener-bener tulus suka dan pacaran sama Fana. Sana mau pacaran sama Fana karena Sana cuma pingin ngeliat—"

"Radha?"

Gadis itu mengangguk. "Iya. Kayaknya Fana udah lama tau, tapi Sana gak ngerti kenapa Fana gak pernah putusin Sana. Padahal Sana maunya diputusin, bukan mutusin."

"Na, dari awal gue bilang, kalo lo hanya milik gue dan begitu seterusnya sampai memang gue ada di titik jenuh. Kalo gue bilang gitu, artinya gak ada yang boleh milikin lo selain gue."

"Itu yang buat gue gak akan pernah mutusin lo."

"Ini yang buat Sana gak suka. Fana terlalu posesif. Terlalu overprotektif sama Sana. Sana gak suka, Fana. Kalo Fana gini terus, yang ada malah Fana mirip orang yang obsesi cinta yang cuma mau Sana. Nanti Fana malah mirip pskiopat kalo gini terus!"

Kring...kringg....kringg....

Fana langsung membuka matanya. Ia mengatur napasnya lalu memejamkan matanya perlahan untuk menenangkan dirinya dari mimpi yang lagi-lagi sering menghampirinya.

Lelaki itu merogoh sakunya lalu mengambil ponselnya dan melihat nama 'mine' yang tertera membuatnya langsung mengangkat panggilan itu.

"Fana, hari ini lo sekolah? Udah jam enam. Gue takutnya lo belum bangun."

Fana menjauhkan ponselnya dan melihat jam yang ada di sana. Lelaki itu masih mengatur napasnya dan mengusap sedikit keringat yang ada di pelipisnya itu.

"Fana? Lo kenapa? Kok kayak orang ngos-ngosan?"

Fana memejamkan matanya sekali lagi. "Iya gue sekolah hari ini. tapi maaf gue gak bisa jemput lo. Gue harus nemenin Bunda sebentar."

"Oke gak apa-apa, gue juga berangkat sama Papa. Lo hati-hati, jangan lupa sarapan, ya!"

"Makasih udah bangunin gue," ucap Fana lirih, "dari mimpi buruk itu."

Setelahnya ia langsung mematikan ponselnya dan meletakkannya di meja. Fana menggelengkan kepalanya. "Gue bukan orang yang obsesi cinta. Gue gak akan jadi seperti dia. Gue normal."

— Ruang Rindu —

Senja berpikira sejenak setelah Fana mematikan sambungan teleponnya itu. "Tadi yang terakhir dia ngomong apa?"

"Mimpi buruk itu?"

Senja memiringkan kepalanya ke kanan. Ia baru saja selesai mandi dan mengenakan seragamnya baru ia menelpon Fana. Dan seketika pikiran Senja adalah bertemu dengan Fana hari ini untuk menanyakan keadaan dirinya.

"Berarti dia akhir-akhir ini sering mimpi buruk yang sama?"

Senja menggelengkan kepalanya. Tidak baik berpikiran yang aneh-aneh sebelum mengetahui kebenarannya, Senja.

Ya, lebih baik sekarang ia menyiapkan sarapan dan membangunkan Prasetya yang masih terlelap di kamar sebelah itu.

Menyiapkan sarapan sudah menjadi hal yang biasa, menu hari ini adalah tumis kangkung dan ayam balado, menu kesukaan papanya. Biasanya setelah sarapan, Senja juga akan membawakan bekal untuk papanya itu. Tentunya menu yang sama.

Setelah berkutat hampir lima belas menit di dapur, Senja menyiapkannya di meja makan dan melepas celemek yang ia gunakan. Gadis itu menyibakkan tirai yang berada di kamar papanya. Ia membangunkan Prasetya yang sepertinya lelah sekali.

"Pa, bangun, kan Papa mau kerja lagi hari ini. Senja udah masakin makanan kesukaan Papa tuh." Senja mengguncangkan tubuh papanya.

"Hoaaammm...."

"Mandii Papa!!"

Prasetya belum sepenuhnya membuka mata. Namun, cahaya matahari yang menyilaukan itu membuatnya tidak bisa memejamkan mata. Ia terpaksa bangun dan langsung tersenyum di pagi hari melihat anak gadisnya sudah tersenyum.

"Selamat pagi, cantik. Kemarin Papa pulang udah nyenyak aja kamu tidur, jadinya Papa gak bangunin deh."

Senja mengangguk mengiyakan. Ia tidak berbasa-basi, Senja langsung menyuruh papanya itu bergerak ke kamar mandi. Memang selalu begitu, Senja sudah seperti mamanya yang sangat cerewet di pagi hari.

Ternyata tidak mudah juga seperti mama.

Senja menggelengkan kepalanya lalu tersenyum simpul. Gadis itu membersihkan kamar tidur papanya, dan ketika ia mengangkat bantal, ia langsung menghentikkan kegiatannya itu dan mengambil sesuatu di sana.

Senja mengernyitkan dahinya. "Amplop?"

Gadis itu membalik amplopnya dan terbaca jelas ada tulisan dengan tinta merah, "Aku akan segera kembali!"

Senja kebingungan membaca tulisan itu. Ia membaliknya lagi dan sepertinya sudah dibuka oleh papanya itu. Ia mengambil sesuatu di dalamnya dan sepertinya itu adalah sebuah foto.

Foto itu hanya menampilkan sebuah taman yang berisi air mancur di tengahnya. Senja mengerutkan dahi. "Apa maksudnya?"

Lalu ia mengamati lagi dengan perlahan foto itu. Ada waktu di bagian bawahnya, ia mendekatkan fotonya dan membaca waktunya. "Desember 2015."

"Desember 2015? Sekarang udah 2018, udah lewat tiga tahun. Maksudnya apa? Apa Papa pernah pergi ke sana? Terus kenapa Papa nyimpen ini? Dan siapa yang mau kembali lagi?"

***

ANNYEONG YEOROBUN!!
Sudah memasuki part 16, aku akan mulai memunculkan konflik hehe, semangat banget nih nulisnya soalnya udah dikasih semangat sama kalian dari kemarin😘❤️

Makanya langsung update hari ini, oh ya, aku ngerasa merinding sih nulis part ini gak ngerti kenapa:( intinya setelah part ini, aku akan lebih mencampuradukkan perasaan kalian!😘

Tunggu aja! Dan votenya selalu diinget sayang❤️

Ah udah malem, banyak omong bgt aku.

Salam sayang, Kei.

Ruang Rindu [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang