Gaze - Adhitia Sofyan
Lagu indie favorit. Dengerin sambil baca! Langsung jatuh cinta pasti.
===================================
Pacar?
Tunggu. Pacar?
Tadi Fana berkata pacar?
Oh Tuhan! Ini sungguhan? Senja sudah dikira menjadi pacarnya? Atau... atau hanya ingin bercanda saja karena ada Eltra dan Gara?
Sungguh! Ini jantung Senja berdetak cepat sekali. Rasanya gemetar tapi tidak mengerti apa yang harus ditakutkan. Rasanya senang tapi tidak tahu kenapa harus senang. Fana belum memberi penjelasan yang benar kepada Senja.
"Apaan lo pacar-pacar! Enak aja, belom juga jadian!"
Ucapan Eltra itu tiba-tiba membuat Senja yang sedari tadi menatap ketiganya langsung mengerjapkan mata.
Senja menggigit bibirnya. "I-iya nih, apaan sih lo! Kan belum ada pacar-pacaran!!"
"Ya udah lepasin woy!" Fana terus menggeliat untuk melepaskan tubuhnya dari pelukan dua manusia jahanam itu.
Eltra dan Gara dengan serempak langsung melepas pelukannya.
"Oke boy, gue sama Si Gorong mau cabut dulu ya, kita mau ngincer tiket konser," Eltra menggendong tasnya lalu merangkul bahu Gara, "bulan depan mereka dateng ke Jakarta."
Fana menggangguk mengiyakan. Sudah. Fana sudah mengerti mereka ingin berbuat apa. Mereka sudah memoroti Fana sejak minggu lalu. Memang ya, kelakuan keduanya itu selalu membuat Fana emosi.
Fana tidak ingin ikut nonton konser tapi mereka tetap menagih uang lelaki itu. Memang. Memang jahanam mereka.
"Selamat tinggal, Senja!"
Gara melambaikan tangannya dan ikut merangkul bahu Eltra, lalu keduanya berjalan menjauhi Fana dan Senja.
Fana melipat kedua tangannya. Ia mulai berhitung menggunakan jarinya. Satu... dua... Pasti habis ini dihitungan ketiga mereka berdua akan mulai bernyanyi. Tig—
"Ku yang dulu bukanlah yang sekarang!"
"Joss!"
"Dulu dipeluk sekarang ku ditampar."
"Dulu dulu dulu ku menderita, sekarang juga menderitaaa....."
Fana menggelengkan kepalanya. Sudah kebiasaan mereka berdua dengan sesuka hati mengganti lirik lagu seperti itu. Fana selalu sabar.
"Fana, kok temen-temen lo jadi gitu? Kayaknya lo mesti sabar-sabar deh sama mereka," tutur Senja membuat Fana menoleh. "Selalu... gue selalu sabar, Nja."
Senja mengangguk. Lalu tiba-tiba ia merasakan ada yang mengaitkan sesuatu di tangannya. Gadis itu menurunkan pandangannya dan ternyata tangan Fana sudah menggenggam tangannya.
Gadis itu menatap Fana yang sepertinya tidak mengerti dengan tatapan bingungnya.
"Ayo pulang. Emangnya lo mau diem di sini sampe sore?"
Senja mengerjapkan mata. "Iya iya, ayo pulang."
Entah Fana memang tidak sadar atau bagaimana, tapi kali ini Senja merasa genggaman tangan Fana sungguh hangat dan erat. Benar-benar hangat, dan saking eratnya, Senja juga tidak ingin melepasnya.
— Ruang Rindu —
Fana sudah bersikeras supaya Senja tetap berada di rumahnya sampai Prasetya kembali ke rumah. Tadi Senja sudah menelpon, dan kata papanya itu, ia baru sampai di rumah saat tengah malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Rindu [Completed]
Ficção Adolescente"Fana jadi debu! Fana selamanya jadi ilusi buat Senja!" Senja tidak pernah menduga akan memasuki lingkaran kehidupan baru ketika bertemu Fanathan, salah satu anggota tim basket di SMA Harapan Nusantara. Kembali berurusan dengan Regha; manta...
![Ruang Rindu [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/163288110-64-k13234.jpg)