3.5 || Siapa Yang Bodoh?

2.2K 137 36
                                        

"Apa gue udah bisa gantiin posisi Regha di hati lo sepenuhnya?

Senja terdiam. Ia menatap Fana yang berlutut di depannya itu. Matanya yang sudah terlihat lelah dengan kantung mata yang sangat hitam membuat Senja tidak bisa membiarkan Fana seperti sekarang.

"Fana ... Bangun. Ngapain jongkok gitu?"

"Nja, gue emang bukan orang yang kayak Regha. Bukan juga yang bisa selalu ada buat lo."

Senja mengangguk. "Terus kenapa?"

"Gue gak becus jadi pacar lo. Kayak jadinya gue gak bisa lindungin lo." Mata Fana sudah terlihat memerah. Lelaki itu menahan tangisnya. "Gak apa-apa, Fana," jawab Senja.

"Kalo menurut gue lo adalah pacar yang paling gue sayang gimana?"

"Kalo menurut gue lo itu gak bisa disamain kayak Regha gimana? Lo kan punya rasa sayang yang lebih besar ke gue!"

"Gue udah mulai belajar buat ngertiin diri lo, Fana. Gue udah berusaha biar gue terbiasa sama tingkah lo."

"Jangan ngomong hal yang gak masuk akal lagi buat kesekian kalinya ya, Fana."

Satu garis lengkung muncul di bibir Fana. Lalu lelaki itu mengacak rambut gadisnya dengan pelan.

"Nja ... Nja ... sayang banget gue sama lo. Jangan sampe kita pisah ya, Nja. Apa pun itu halangannya."

Senja mengangguk. Lalu gadis itu memeluk Fana dengan erat. Seolah memang ia harus menjaga Fana dari segala bahaya yang ada.

— Ruang Rindu —

Keesokan hari, ketiganya sudah berkumpul di markas Bima. Tanpa Fana, mereka memulai mengumpulkan bukti-bukti yang sudah ditemukan selama dua hari penjelajahan.

Lampu kecil yang hanya menerangi setengah markas Bima itu membuat suasana bertambah tegang. Belum lagi keheningan menyelimuti pertemuan mereka.

Mata Eltra menyipit.

Tunggu ... Ada yang janggal di markas Bima hari ini. Seperti ada seseorang yang sedang mengawasai Gara dan Eltra seolah mereka siap untuk menyerang keduanya di waktu yang tepat.

Ah, mungkin. Itu hanya firasat saja.

"Oke. Hari ini kita dengerin bareng-bareng rekaman jejak suara kalian waktu penjelajahan kemarin."

Perkataan Bima yang membuka pertemuan hari itu menyadarkan Eltra dari lamunannya.

Bima mengeluarkan laptopnya dan ia sudah menyiapkan rekaman-rekaman yang harus Eltra dan Gara dengarkan. Bima mulai memutarkan rekaman suara yang pertama, saat di mana mereka berada di lokasi kejadian pertama.

Suara-suara yang terdengar masih normal, hanya ada sahutan antara suara Fana, Gara, Eltra, dan juga Bima. Tidak ada suara orang lain berbicara di lokasi kejadian itu. Rekaman kedua diputar. Selanjutnya rekaman ketiga. Hingga hampir sampai di rekaman terakhir, belum ada satupun hal mencurigakan yang mereka temukan.

"Kita gak bakal nemuin apa-apa cuma dari rekaman suara ini. Rekaman jejak kayak gini cuma bisa didengar dari telinga orang yang pendengarannya setajam orang-orang tertentu," celetuk Eltra.

Bima menoleh. "Gue yakin kita punya petunjuk buat bisa nyelesaiin kasus ini. Kita udah melangkah sejauh ini, gak mungkin kalau kita gak ngelanjutin sampai berakhir." Bima menjeda kalimatnya. Ia mengembuskan napasnya. "Gue gak mau salah satu dari kita bertiga berakhir."

Ruang Rindu [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang