"Lo diem di dalem rumah dulu. Gue pulang bentar. Jangan keluar atau keliaran sebelum gue dateng. Ngerti?"
Sekarang mereka sudah berada di rumah Senja. Sejak siang tadi, Senja sudah berada di rumah Fana dan akhirnya Senja meminta Fana mengantarnya kembali ke rumah. Fana mengantarnya dan ya, Fana akan menemaninya walaupun gadis itu sudah melarangnya sejak tadi.
Bodo amat. Fana tidak peduli apapun, keadaan seorang gadis di dalam rumah sendirian lah yang perlu ditakutkan.
Senja mengangguk pasrah. Oke. Sekarang Senja benar-benar mengerti bagaimana sikap posesif dan overprotektif Fana itu. Gadis itu juga merasa takut kalau Fana sudah mengeluarkan banyak kata-kata peringatan seperti tadi.
Perasaan, dulu Regha gak gini banget dah, pikir Senja.
"Oh, ya! Jangan samain gue sama Regha mantan lo itu. Gue bukan orang yang bisa jadi kayak Regha. Ngerti?" Ucapan Fana tiba-tiba itu membuat Senja melotot.
Lah, cenayang ya dia?
Senja menggelengkan kepalanya lalu sekali lagi ia mengangguk. "Iya Fana ngerti. Berisik deh lo!"
"Ya udah, gue balik. Tunggu di dalem. Satu jam lagi gue balik."
Fana langsung melesat pergi dengan motornya. Ah, Senja yakin dia akan mengendarai motornya itu dengan kecepatan tinggi. Fana kembali ke rumahnya untuk mengecek keadaan Dewi dan memastikan bahwa bundanya itu dalam keadaan aman.
Sebenarnya yang membuat Senja melarang lelaki itu menemaninya karena keadaan Dewi yang sejak siang tadi tidak baik. Kalau nanti terjadi apa-apa saat Fana tidak ada di rumah kan bisa bahaya.
Itulah sebabnya, dan Fana tetap bersikeras ingin menemaninya.
Senja mengacak rambutnya. "Ah pusing mikirin orang itu!" Kemuadian ia memilih untuk berjalan memasuki rumahnya dan langsung menuju kamar tidur kesayangannya itu.
Senja melihat jam dinding yang masih menujukkan pukul lima sore itu. Gadis itu memilih untuk membereskan rumahnya terlebih dahulu. Menyapu, mengepel, dan lainnya ia lakukan dengan senang hati.
Sudah satu jam berlalu, Senja sudah membereskan semuanya dan juga sudah selesai membersihkan tubuhnya. Namun, yang katanya akan datang dalam waktu satu jam, sudah sampai jam setenah tujuh pun masih belum terlihat batang hidungnya.
Gadis itu mengeluarkan benda pipihnya dari dalam saku celananya. Ia menekan nomor seseorang lalu menempelkan ponselnya di telinga.
"Halo, Gha? Lo bisa nemenin gue di rumah? Papa baru pulang nanti malem."
"Ah? Sekarang? Gue baru bisa ke sana nanti jam delapan lebih. Sekarang mah gue lagi di tempat ngegym, baru aja mulai, Ja," sahut Regha di ujung sana dengan napas yang terengah-engah.
Senja memanyunkan bibirnya lalu mengembuskan napas. "Oke. Nanti kalo udah selesai langsung ke sini... ngeri sendirian."
Setelah Regha menjawab iya, Senja langsung mematikan sambungan teleponnya. Hahahaa. Benar, kan kata Fana, Senja tidak akan berani sendirian di rumah.
Senja, kamu sok berani sih. Padahal mah dasarnya emang udah penakut.
Tadi ia sudah menelpon Nalda, tapi ya seperti biasa, teman laknatnya itu sedang pergi bersama gebetan barunya. Lupakan soal Nalda yang bilang ingin dikenalkan kepada Eltra. Nyatanya gadis itu sudah memiliki gebetan.
Senja sekarang sedang berada di ruang tamu, ia memilih untuk mengunci pintu dan mengihidupkan televisi. Kegiatannya sekarang adalah menunggu Fana datang. Entah sampai ia tertidur atau tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Rindu [Completed]
Dla nastolatków"Fana jadi debu! Fana selamanya jadi ilusi buat Senja!" Senja tidak pernah menduga akan memasuki lingkaran kehidupan baru ketika bertemu Fanathan, salah satu anggota tim basket di SMA Harapan Nusantara. Kembali berurusan dengan Regha; manta...
![Ruang Rindu [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/163288110-64-k13234.jpg)