1.0 || Godaan

3.2K 309 15
                                        

"Senja laper nggak?"

Senja yang sedang memakai sabuk pengaman itu langsung menoleh. "Hah? Apaan? Barusan lo ngomong panggil nama gue? Bukan pake embel-embel 'lo'?"

Fana menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak begitu gatal itu. Dia mengetukkan jarinya di stir mobilnya. "Ya gitu. Emang gak boleh?"

"Bolehh..." Senja menepuk pipi Fana perlahan. "Lucu banget malahan. Berarti sekarang kalo ngomong boleh pake Senja-Fana kan? Bukan lo-gue lagi?"

Fana mengerjapkan matanya. Gue bisa gila itu tangan nyentuh pipi gue.

Ia tersenyum seperti orang gila sambil mengangguk mengiyakan perkataan Senja.

"Fana-Senja, Fana-Senja..."

Senja terus mengucapkan kata itu berulang-ulang, bahkan sampai Fana bertanya pun tidak mau dijawab.

Fana yang melihatnya hanya tersenyum, entahlah, mungkin Fana juga merasa baper mendengarnya. Rasanya aneh gitu loh. Kayak Senja nyebutin nama keduanya terus.

Berasa kayak pacaran tahu!

"Senja laper nggak?" ulang Fana sekali lagi untuk memastikan.

Senja terkekeh. "Laper... tapi maunya masakan di rumahnya Fana. Bunda masak nggak?"

"Gak tahu. Belum ada nanya sih, coba nanti lihat aja."

Senja mengangguk. "Oh ya, btw, Papa gak marah emang kalau Senja ikutan ke Fana?"

"Gak dong, gue gitu loh! Papa lo gak akan pernah marah kalau misalnya dititipin sama cowok ganteng kayak gue ini." Fana mengedipkan sebelah matanya genit.

"Basi. Apaan deh, katanya mau ngomong pake nama panggilan. Malah pake lo-gue lagi," sahut Senja kesal, ia menyilangkan kedua tangannya. "Senja marah. Gak usah diajak ngomong."

Fana meliriknya sambil terkekeh lalu ia menggelengkan kepalanya. Gadis ini ternyata cepat sekali berubah moodnya, untungnya Fana tidak seperti itu. Ia masih bisa mengendalikan hal yang membuatnya merasa tidak nyaman.

Selama beberapa saat, baik Fana atau Senja sama-sama tidak mengeluarkan suara.

Sampai akhirnya Senja menoleh ke arah Fana. "Kok gak diajak ngobrol?!"

"Loh," Fana mengernyitkan dahi lalu ia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, "tadi siapa yang suruh gak usah diajak ngomong?"

"Senja."

"Terus ngapain lo marah?" Fana memiringkan tubuhnya menghadap Senja. Fana terkekeh tiba-tiba. "Muka lo pingin ditabok kalau lagi ngambek gitu."

"Ya marah, karena gak diajak ngobrol."

"Kan yang gak mau diajak ngobrol itu Senja."

"Ih! Tapi kan itu namanya kode cewek! Gini nih cowo gak peka. Padahal mantannya banyak, kan?"

"Ngalihin pembicaraan. Yang salah siapa terus?"

"Bukan Senja. Fana tuh salah, kurang peka sama 'kode' cewek." Senja mengutipkan kata kode di dengan kedua tangannya. "Bukan Senja."

"Yang salah siapa?" tanya Fana sambil menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum manis.

"Bukan Senja."

"Siapa yang salah, Senjaaa?" ulang Fana bertanya sekali lagi. Ia semakin tersenyum seperti orang licik gitu loh.

"Oke oke fine. Gue yang salah. Puas lo?!"

Fana tertawa. Tanpa sadar, tangannya mengarah lurus ke rambut Senja, ia mengacak rambut gadis itu perlahan.

"Kayaknya lucu deh kalo lo marah, nanti gue sering-sering buat lo marah deh," ucap Fana sambil tersenyum. Sekali lagi ia mengacak rambut gadis itu.

Ruang Rindu [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang