Hari ini adalah hari keduaku menjadi Ketua OSIS. Banyak amanah yang harus dilakukan, salah satunya kemajuan mading sekolah. Amanah yang diberikan oleh Bang Adil selaku mantan Ketua OSIS berprestasi yang telah menjadikan beberapa ekskul diakui ditingkat nasional.
“Angga, sarapan!” seru Bunda mengejutkanku yang masih berdiri menatap taman belakang dari balik jendela kamar. Entah mengapa, menatap taman belakang dari sini adalah kesukaanku. Bagiku, melihat hijaunya daun dan berbagai bunga, menyegarkan pikiran.
“Angga, sarapan!” seru Bunda sekali lagi.
“Iya Bunda,” jawabku sedikit berteriak. Segera kuraih tas punggung lalu berjalan ke ruang makan. Seperti biasa, Bunda membuatkan nasi goreng.
“Ini makan nasi gorengnya!” perintah Bunda seraya menyodorkan sepiring nasi goreng.
Aku menerimanya tanpa protes.
“Ga, gimana LPJ kemarin?” tanya Bang Agra tiba-tiba.
“Lancar, Bang,” jawabku.
“Siapa Ketua OSIS sekarang?” tanyanya lagi.
Aku tersenyum. “Adek Abang yang ganteng inilah,” jawabku menyeringai.
“Serius kamu?”
“Iya, Bang,” jawabku singkat, “oh ya Bang, aku ada project menggalakkan mading lagi. Menurut Abang, hal pertama yang harus aku lakukan apa, ya?” tanyaku seraya menyuap nasi goreng ke mulut.
“Mading?” tanya Ayah seolah terkejut mendengarnya, “Ayah punya pasien, jago sekali menulis. Beberapa kali baca tulisannya dan ayah suka. Jadi ingat, harapannya itu ingin menjadi redaksi mading tapi Ayah nggak tau dia sekolah di mana. Dia selalu merahasiakan sekolahnya, begitupun dengan orang tuanya. Banyak hal yang dirahasiakan dari Ayah. Menurut mereka, Ayah cukup mengetahui perihal kesehatannya aja. Ya… memang benar juga, sih,” jelas Ayah panjang lebar lalu menegukkan air putih.
“Kasian ya, Ayah. Semoga anak itu diberikan kesembuhan,” sahut Bunda.
Aku dan Bang Agra terdiam mendengar cerita tentang pasien Ayah. Ruang makan menjadi hening. Kami merasa iba setiap mendengar cerita Ayah tentang pasiennya itu. Kasihan sekali anak itu. Benakku. “Ah iya, gimana, Bang?” tanyaku lagi memecahkan keheningan di ruang makan.
“Untuk bikin redaksinya, cari orang yang paham literasi dan suka menulis. Dia itu yang bakal menjadi Ketua Redaksi. Untuk anggotanya, biar dia yang cari sendiri. Kalau kamu mau bantu cari anggotanya, bisa aja. Kalian kerja sama,” jelas Bang Agra.
“Sudah ada, Bang. Rencana hari ini mau rapat sama dia di jam istirahat.”
“Do it!” jawab Bang Agra singkat lantas meneguk air putih sampai habis, “ayo berangkat, Ga!” ajaknya.
“Iya, Bang.”
Kami berdua pamit ke Ayah dan Bunda setelah menghabiskan sarapan. Seperti biasa, selama perjalanan Bang Agra memberikan masukan untukku agar bisa melaksanakan amanah setahun ke depan.
Sesampainya di sekolah, ada yang menepuk bahuku dari belakang. Sontak aku terkejut dan menoleh ke belakang, ternyata Bang Adil.
“Gimana kelanjutannya?” tanyanya.
“Belum, Bang. Baru mau dibicarakan nanti istirahat,” jelasku.
“Oke deh, Ga. Semoga lancar, ya. Aku titip Maudi ke kamu. Semoga dia senang menjalaninya.”
Aku tidak menjawab, hanya melontarkan senyuman. ‘Aku tidak mengerti maksud dari 'aku titip Maudi ke kamu,' apa maksudnya?’ Benakku. Bang Adil membalas senyumanku lantas pergi ke arah kelas tiga.
Ketika aku hendak masuk kelas, Maudi melintas di depan kelasku. Spontan aku menyapanya. “Hai Maudi!”
Perempuan itu tidak menjawab. Dia hanya menoleh dan menganggukkan kepalanya sekali seraya melangkah ke arah kelasnya. Dia tidak tersenyum padaku. Wajahnya pucat. ‘Ah, mungkin saja dia sedang ada masalah,’ pikirku.
-----
Jam istirahat tiba, aku bergegas menuju ruang OSIS. Di tengah jalan—depan toilet, bertemu dengan Maudi yang baru saja keluar dari toilet. Dia meringis memegang dada kirinya. Peluh mengucur di pelipisnya. Maksud hati ingin bertanya ada apa dengannya, namun segera diurungkan. Aku tidak ingin dianggap ikut campur urusan pribadinya. Meskipun kita seangkatan tetapi baru saja dekat. Hubunganku dengannya hanya sekedar persoal mading dan literasi, tidak lebih. Aku mencoba menyadarkan dan membatasi diri untuk tidak terlampau jauh terbawa perasaan. Memang, aku mengagumi kecantikannya, bahkan dalam keadaan pucat seperti inipun dia masih terlihat cantik.
“Eh, Angga,” sapanya ketika menyadari kehadiranku.
“Hai, Maudi! Ayo ke ruang OSIS sekarang!” ajakku.
“Iya, Ga. Memang mau ke sana,” jawabnya seraya tersenyum, “tadi mampir ke toilet dulu,” lanjutnya.
Dia tersenyum lagi. ‘Dalam keadaan pucat pun, senyumnya masih manis,’ benakku. “Yuk, kita bareng ke sana!” ajakku lagi.
Perempuan itu menjawab dengan sekali anggukan.
Sebenarnya jarak antara toilet dengan ruang OSIS tidak begitu jauh, hanya sekitar 1 sampai 2 menit. Entah kenapa, berjalan bersamanya waktu terasa lama. Aku merasakan degup jantung menjadi cepat. ‘Ada apa ini? Apakah aku benar-benar menyukainya? Sadar Angga, hubunganmu sekadar organisasi saja!’ Aku mencoba menyadarkan diri lagi.
“Oh ya Ga, nanti aku bicara apa, ya?” tanyanya, “belum terbiasa berorganisasi. Aku nggak pandai bicara,” lanjutnya seraya merapihkan anak rambut di pelipisnya.
“Kamu tenang aja! Biar nanti aku yang bicara. Paling setelah program ini disetujui, kamu harus membuat keanggotaan redaksi. Bisa kan?” jelasku.
Maudi terdiam sejenak. Dia berpikir. “Aku nggak banyak kenal orang. Temanku sedikit. Aku pendiam, Ga.”
Aku tersenyum padanya. “Kamu tenang aja, nanti aku bantu.”
“Terima kasih, Ga. Bagiku, mading ini benar-benar nyawa. Aku seperti punya kehidupan lagi,” ujarnya dengan pandangan lurus ke depan. Seperti ada beban yang dia pikul sendiri, namun tak mau berbagi kepada orang lain.
“Sama-sama, Maudi. Kita, kan, teman. Jadi, jangan sungkan untuk minta tolong setiap kamu butuh pertolongan. Semua orang di organisasi itu, teman kamu, keluarga kamu, sahabat kamu. Kamu punya banyak teman, jadi jangan merasa sendiri, ya!” Aku berusaha menenangkannya.
Perempuan itu menjawab hanya dengan senyuman.
“Kita udah sampai, mari masuk!” ajakku, tetapi dia masih terdiam di depan pintu. Rasanya ingin kugenggam tangannya, namun lagi-lagi aku urungkan. Aku tak mau dianggap memanfaatkan kesempatan. “Maudi, ayo masuk!” ajakku lagi.
Perempuan itu memberanikan diri masuk ke dalam ruang OSIS yang sudah dipenuhi anggota kepengurusan—Wakil OSIS, Sekretaris, Bendahara dan Ketua Sekbid. Aku mengarahkan Maudi untuk duduk di kursi sebelah Mayang, Ketua Sekbid VIII−Sekbid Kesenian dan Kreatifitas. “Kamu duduk di sini, ya!” perintahku lembut lalu aku duduk di antara Berni dan Reki, “baik, teman-teman sebelumnya saya perkenalkan dulu anggota baru kita di organisasi ini. Namanya Maudi kelas 2 IPA 3. Beliau akan menjadi Ketua Redaksi di mading sekolah,” jelasku memperkenalkannya di forum rapat. Tepuk tangan bergemuruh mengisi ruang. Perempuan itu hanya menjawab dengan sekali anggukan dan senyuman manisnya. “Terima kasih buat teman-teman yang sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini. Selamat buat teman-teman yang sudah terpilih menjadi Ketua di masing-masing posisi. Semoga kita semua bisa amanah menjalani tugas ini. Baiklah, hari ini saya akan menjelaskan mengenai mading sekolah. Kita semua tau bahwa mading sekolah sudah lama nggak dimanfaatkan. Oleh karena itu, saya dan Maudi berniat untuk menggalakkan lagi. Maudi ini sangat menyukai menulis dan mencintai dunia literasi. Nanti, Maudi akan menarik beberapa orang yang akan membantunya di redaksi,” lanjutku.
“Apa kita semua bisa menyumbang tulisan untuk dimuat di mading?” tanya Mayang tanpa mengangkat tangannya terlebih dahulu.
“Sangat bisa,” jawabku.
“Apa kita perlu membuat majalah sekolah?” tanyanya lagi.
“Mungkin ke depannya bisa, tapi saat ini kita fokus untuk meramaikan mading aja dulu. Semoga teman-teman di sini bisa membantu Maudi untuk menyebarkan berita bahagia ini ke seluruh sekolah. Saya harap kita semua bisa meramaikan mading,” jelasku lagi.
“Saya punya ide. lima bulan lagi acara PENSI, gimana kalau kita buat acara Malam Sastra di satu hari sebelumnya?” ucap Mayang lagi.
“Ide bagus!” jawabku spontan yang diikuti riuh di dalam forum, “mohon tenang, ya, teman-teman! Gimana Maudi dengan ide Mayang?” tanyaku pada Maudi yang masih terdiam memperhatikan seluruh orang di dalam forum.
“Malam Sastra, ya? Menarik,” jawabnya singkat, “saya setuju tapi saya nggak bisa bekerja sendiri. Butuh kalian semua untuk menyukseskan acara ini,” jelasnya.
Aku terkejut dengan jawabannya. Ternyata, dia sebenarnya mampu bicara di forum, hanya saja kurang percaya diri. Pantas saja Bang Adil percaya menyerahkan mading pada perempuan ini. “Kami semua akan bantu karena we are team, aren't we?” jawabku.
Forum tiba-tiba hening dan pecah dengan riuh tepuk tangan disusul bel masuk kelas, jam istirahat abis. “Baiklah teman-teman, cukup sekian untuk hari ini. Kita akan lanjutkan lagi di lain kesempatan. Waktunya akan diinfokan kemudian oleh Reki selaku Sekretaris. Sekian dan terima kasih.” Aku menutup forum rapat lalu menyalami satu persatu.
Maudi masih duduk terdiam di kursi, satu persatu menghampiri untuk menyalaminya.
“Kamu nggak balik ke kelas?” tanyaku sontak membuat Maudi menoleh ke arahku yang sudah berdiri di depan pintu.
“Ah iya,” jawabnya seraya berdiri dan melangkah mendekatiku.
Kami kembali ke kelas bersama.
“Angga,” panggilnya.
“Iya.”
“Terima kasih, ya. Aku masih nggak percaya bisa menyalurkan hobi menulis di mading. Harapanku, semoga yang lain mau mulai menulis. Menulis itu menyenangkan,” ucapnya.
“Menyenangkan?” tanyaku sambil mengangguk.
“Iya, menyenangkan. Menulis itu bisa jadi terapi, loh.”
“Terapi?”
Dia tersenyum melihat aku kebingungan. “Iya. Kamu coba aja dan rasakan tapi menulisnya harus di kertas kosong.”
“Oke nanti aku coba di rumah.”
Kami terpisah di depan kelas. Ucapannya masih terngiang di kepalaku. ‘Menulis bisa jadi terapi? Apa benar? Aku coba nanti,’ benakku.
Jam pulang sekolah tiba. Hari ini tak ada rapat OSIS. Ada sedikit niat untuk mengajak Maudi pulang bareng. Aku berdiri di depan pintu kelasnya, masih tertutup. Terdengar guru matematika menutup pelajaran lalu pintu kelas terbuka. Guru itu tersenyum padaku lantas berlalu begitu saja. Siswa kelas 2 IPA 3 berhamburan keluar ruangan. Maudi belum terlihat sedari tadi. Aku memberanikan diri menengok ke dalam kelas. Dia masih duduk di kursinya, merapihkan alat tulis dan buku ke dalam tas. Beberapa teman sekelasnya menyapa ke arah perempuan itu. Dia menjawabnya dengan sekali anggukan.
“Hai, Maudi!” sapaku gugup.
Perempuan itu menengadahkan kepala, menatapku. “Angga?” tanyanya heran, “lagi apa kamu di sini?” lanjutnya.
“Jemput teman,” jawabku singkat seraya melontarkan senyuman.
“Teman?” Dia menoleh kiri kanan dan belakang, hanya dirinya yang masih tersisa di ruangan itu, “sepertinya temanmu udah keluar kelas. Kamu lihat sendiri, kan? Tinggal aku di sini,” jelasnya lantas kembali memasukkan alat tulis ke dalam tas.
“Temanku belum keluar kelas. Dia masih duduk di depanku, merapikan peralatannya lalu merapatkan tas,” jawabku seraya melihat pergerakan Maudi dengan tasnya.
Perempuan itu kembali menengadah, menatapku. Keningnya berkerut, bingung. Kini kebingungan itu berubah menjadi senyuman, manis sekali.
Aku membalas senyuman itu. “Pulang bareng, yuk!” ajakku.
Maudi terdiam mendengar ajakanku.
“Maudi!”
“Iya. Kenapa, Ga?” tanyanya.
Aku kembali tersenyum melihat sikapnya. “Pulang bareng, yuk!” ajakku sekali lagi.
Dia tak menjawab, hanya sekali anggukan dan senyuman berlesung pipi.
Kami berdua keluar ruang kelas dengan jalan beriringan. Diam tanpa kata masih menyelimuti di antara kami. Aku bingung harus bicara apa padanya, mungkin begitupun dengan dirinya. “Rumah kamu di mana?” tanyaku memecahkan keheningan.
“Hah? Rumahku?” tanyanya mengulang pertanyaanku.
“Iya rumah kamu, bukan rumahku,” jawabku berusaha melucu tetapi tidak lucu sama sekali.
Dia tersenyum. “Nggak perlu tau di mana rumahku,” jawabnya.
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Kamu cukup tau siapa aku di sekolah. Nggak perlu tau siapa aku di luar sekolah. Itupun, kalau kamu masih mau menjadi temanku,” jelasnya diiringi dengan senyum getir.
Aku masih tidak mengerti ucapannya yang terakhir. Kenapa tidak boleh mengetahui tentangnya di luar sekolah? Apakah ada sesuatu yang dirahasiakan? Namun, aku sadar bahwa kami hanya berteman seputar sekolah, tidak lebih. Siapa dia di luar sekolah, bukanlah urusanku. Aku membalas senyumannya seakan mengerti maksud ucapannya.
Kami menunggu bis di halte depan sekolah bersama siswa lain. Kami kembali berdiri dengan keheningan di antara riuh siswa lain. Bahkan di dalam bis pun, kami masih bertahan dalam diam padahal duduk berdampingan. Beberapa teman di dalam bis menyapaku namun entah mengapa aku masih merasa hening. Keheningan masih menyelimuti kami berdua hingga Maudi turun di salah satu halte. “Aku turun duluan, Ga,” ucapnya seraya melangkah ke arah pintu bis. Halte ini masih terlalu jauh dari rumahku tetapi dekat dari rumah sakit tempat Ayah bekerja.
“Iya, hati-hati di jalan!” jawabku kaku. Entah mengapa pembicaraan tadi membuat canggung antara kami. Aku tak berani menanyakan perihal di luar sekolah apalagi berhubungan dengan kehidupannya.
Bis kembali melaju. Aku masih melihat sosok Maudi dari balik jendela bis hingga sosok itu tak dapat terlihat lagi. Pikiranku masih seputar perempuan itu. “Perempuan misterius,” ucapku lirih.
****
Sudah beberapa hari, kami menjalani hari-hari di sekolah bersama-sama. Aku tak lagi banyak tanya persoal kehidupannya, sekedar membantu untuk membentuk anggota redaksi. Kami sosialisasi ke kelas-kelas. Dari kelas satu sampai kelas dua demi mencari lima orang yang memiliki minat yang sama di dunia literasi. Akhirnya, kami menemukan juga: tiga orang dari kelas 2 dan dua orang dari kelas 1. Masing-masing bernama Fani, Aya, Mega dari kelas dua dan Fona, Lira dari kelas satu. Kelima orang itu akan diberikan pengarahan oleh Maudi sepulang sekolah nanti. Lagi-lagi, perempuan itu memintaku untuk membantunya memberikan pengarahan.
“Nanti, kamu mau bantu aku, kan, Ga? Kamu tau sendiri, aku suka gugup,” pintanya.
“Iya Maudi, aku bantu.”
“Terima kasih. Kamu baik sekali,” ucapnya seraya menggenggam tanganku, tangannya dingin.
Degup jantungku menjadi tak beraturan. Ini pertama kalinya kami bersentuhan selain berjabat tangan. Terlebih lagi, tatapan yang disertai senyuman maut itu terasa dalam. ‘Ya Tuhan, apakah aku mencintainya? Mengapa begitu bahagia jika di dekatnya? Bodoh! Jangan terbawa suasana! Kalian hanya teman.’ Aku berperang dalam pikiran.
“Iya sama-sama, Maudi. Semoga ... program ini lancar, ya dan ... acara Malam Sastra bisa sukses,” ucapku terbata-bata menahan degup jantung yang semakin kencang. ‘Semoga dia tidak mendengarnya,’ benakku.
Kami berdiri di depan kelas 2 IPA 5—kelas terakhir yang kami masuki. Tanganku masih digenggamnya. Aku melirik ke arah tanganku, sepertinya dia paham maksudku. Segera dia lepaskan genggaman itu. “Maaf. Aku terlampau senang.”
Aku jawab dengan senyuman. Entah mengapa, mulut terasa terkunci dan lidah terasa kelu untuk bicara.
“Kamu tahu, Ga? Dulu aku sempat bercita-cita terjun di dunia jurnalistik. Almarhum Ayahku seorang reporter, loh. Beliau jago menulis, dari menulis berita sampai cerita. Waktu aku kecil, Ayah sering mendongeng sebelum tidur. Dulu, aku kira Ayah habis baca buku dongeng, ternyata semua dongeng Ayah itu buatan sendiri. Tapi Ibu nggak kasih aku izin untuk menulis karena …” ucap perempuan itu terhenti.
Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapannya terhenti. “Karena apa?” tanyaku penasaran.
“Karena … sudah bel masuk. Aku duluan, ya, Ga. Bye!” Perempuan itu melangkah pergi disertai riuh siswa yang hendak masuk ke dalam kelas, jam istirahat usai.
Aku menatap punggung Maudi, seperti ada kejanggalan yang dirahasiakan selama ini. Hal itu bukan ruang lingkupku. ‘Apa Bang Adil tahu? Ah, sudahlah, itu bukan urusanku. Bukankah kemarin dia memintaku untuk tidak ikut campur urusan pribadinya?’ Benakku.
Jam pulang sekolah sudah tiba. Siswa berhamburan keluar. Aku masih terdiam di kursi, memikirkan perkataan Maudi tadi siang. Tiba-tiba seorang perempuan berambut panjang menghampiriku. Dia berdiri di hadapanku dengan seutas senyuman.
“Mari ke ruang OSIS!” ajaknya.
“Kamu ngapain di sini, Maudi?” tanyaku heran.
“Jemput kamu. Kemarin kamu yang jemput aku. Sekarang giliranku menjemput kamu,” jawabnya menyeringai.
Aku masih terdiam. Entah mengapa, aku merasakan otak berhenti. Tiba-tiba aku tidak bisa berpikir jernih, semua dikendalikan oleh perasaan. Dan wajah itu …
“Angga, ayo kita ke ruang OSIS!” ajaknya lagi.
Aku jawab dengan sekali anggukan dan berjalan di sampingnya dengan otak yang belum juga bekerja penuh.
“Ga, nanti aku bicara apa, ya? Aku gugup, nih,” tanyanya yang samar di telingaku.
Perempuan itu menyadari tidak ada jawaban dariku dan ekspresiku seperti orang kebingungan. “Angga, are you ok?” tanyanya seraya menepuk lembut bahuku.
Sontak aku terkejut dan melirik tangannya yang mendarat di bahuku. “Iya, I'm oke,” jawabku berusaha tenang dengan melontarkan senyuman.
“Syukurlah. Wajahmu pucat.”
Kami tiba di ruang OSIS. Aku berusaha menenangkan diri agar bisa berpikir jernih, dan meminta Maudi untuk tidak duduk di dekatku, dia pun mengiyakan. Tanpa basa basi, aku menyampaikan maksud dan tujuan mading kepada kelima anggota yang didapatkan tadi.
Terlihat wajah antusias dari mereka. Terlebih lagi ketika aku menyampaikan persoal acara Malam Sastra, semangatnya tampak membara. Sepertinya mereka memang mencintai dunia literasi juga. Rencana, sebelum menuju Malam Sastra, akan ada perlombaan menulis puisi, cerpen dan naskah drama. Maudi memberikan penjelasan tambahan mengenai prosesnya, mulai dari pengumpulan naskah, penyeleksian, editing, desain hingga launching di mading. Karya yang terpilih akan ditempel di mading sekolah, mendapatkan hadiah dari sekolah berupa uang saku dan ditampilkan di Malam Sastra.
Sekitar satu setengah jam rapat berlangsung. Setelah aku menutup rapat, satu persatu mereka keluar dari ruangan hingga tinggallah aku dan Maudi di sini. Matanya kembali menatapku dan dia berjalan mendekatiku. “Terima kasih banyak, ya, Ga. Kamu begitu baik,” ucapnya.
“Ini sudah tugasku, Maudi. Tadi kamu terlihat udah mulai menguasai forum. Aku senang melihatnya. Semoga di lain kesempatan, kamu bisa hadapi forum tanpa bantuanku. Kamu bisa sepenuhnya atur redaksi. Mereka keluarga kamu juga. Oh ya, kamu pulang duluan aja. Aku ada urusan lagi,” jawabku mencoba menghindar dulu darinya sampai benar-benar tenang.
“Ya udah, aku pulang duluan, ya. Bye Angga!” jawabnya seraya melambaikan tangan ke arahku lalu keluar dan pergi meninggalkanku.
Aku duduk lemas di kursi, sendiri—hanya suara detik jam dinding yang terdengar. Apakah aku benar-benar jatuh cinta?
------
Maaf, ya, teman teman baru bisa update. Kemarin lagi ke luar kota dan nggak bawa laptop. Ini part untuk kemarin. Ada part berikutnya yang akan saya post sekarang. Tunggu, ya, manteman ;)
Salam,
Author
KAMU SEDANG MEMBACA
Coffee Break Time
Teen FictionTAMAT Kopi hitam itu pahit. Jika ditambahkan gula, dia tetap hitam dan pahit, tidak mengubah wujudnya. Bagi yang belum merasakan, akan beranggapan semua kopi itu pahit, padahal ada sedikit manis dari gula yang ditambahkan. Kamu hanya perlu mencicipi...
