APRIL 2007
Aku menatap cincin yang melingkar di jari manisku. Anehnya, tidak membuatku bahagia. Sudah satu minggu aku menjadi tunangan Bang Agra. Entah apa yang kupikirkan bisa menerima keputusan ini.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Bang Agra yang tengah asik dengan laptopnya. Dia sudah masuk semester delapan dan mempersiapkan skripsinya. Mungkinkah Regan juga? Tiba-tiba benakku terarah ke sosok lelaki itu.
“Nggak apa-apa, Bang,” jawabku seraya senyum getir.
“Jam berapa kamu kuliah?” tanyanya lagi.
“Sebentar lagi.” Aku lemparkan mata ke taman kampus. Tak jauh dari gazebo tempat kami duduk, aku melihat sosok Regan tengah berjalan menuju perpustakaan. Meskipun hanya melihat sisi sampingnya, aku merasakan rindu. Pikiranku kembali terulang saat kita berada di Anyer.
“Kamu lihat apa?” Bang Agra ikut melihat apa yang kulihat.
Aku menoleh ke arahnya lantas menggeleng. Aku tahu bahwa Bang Agra mengetahui betul apa yang kulihat.
Lelaki itu menggenggam tanganku erat. “Aku harap kamu bisa jaga hubungan kita,” pintanya lembut.
Aku hanya terdiam. Aku pun ragu dengan hubungan ini. Sampai saat ini pun tak ada rasa cinta padanya. “Sore nanti aku mau kontrol lagi. Semoga kondisi jantungnya baik-baik aja.” Aku mengalihkan pembicaraan.
“Oh, ya,” lelaki itu melepaskan genggamannya, “Ayah bilang, kamu bisa lepas obat kalau kondisi jantung kamu stabil. Semoga ini pertanda baik.” Dia lengkungkan senyuman. Seolah Angga tengah senyum padaku.
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Untuk semuanya. Pengorbanan Angga dan keikhlasan keluarga Bang Agra yang udah kasih kehidupan baru. Kalau Angga nggak kasih jantungnya, mungkin aku nggak duduk di sini dan nggak akan pernah nulis novel.” Aku menatap lekat mata Bang Agra.
“Semua udah jalannya, Maudi.” Bang Agra membelai lembut rambutku.
Aku mendelik jam tangan. “Aku masuk kuliah dulu. Nanti Bang Agra pulang duluan aja. Aku ke rumah sakit sama Ibu,” pintaku.
“Yakin?”
Aku mengangguk. “Bye!” Aku menggapaikan tangan sebelum meninggalkan Bang Agra sendirian di gazebo. Di tengah perjalanan, ponselku berdering. “Halo, iya saya Maudi. Bisa. Jam berapa? Oke. Terima kasih.” Telepon itu terputus. “Akhirnya novelku diterima penerbit. Angga, lihat! Aku bisa terbitkan novel. Semua bermula dari kamu,” lirihku. Hari ini benar-benar membahagiakan, melebihi jatuh cinta. Sebentar lagi mimpiku akan terwujud.
Usai perkuliahan, aku segera menuju tempat yang sudah ditentukan. Sebenarnya ada rasa takut untuk pergi ke sana, takut bertemu Regan. Aku harus bicara apa? Semuanya tiba-tiba terasa aneh dan canggung. Meskipun naskahku ini semua berkat dia. Kalau bukan karena dia, mana mungkin naskahku sampai ke tangan editor langsung. Ingin rasanya berterima kasih padanya tetapi rasa takutku masih besar.
Aku membuka pintu kafe, masih sepi. Tak terlihat batang hidung Regan. Biasanya siang dia ada di sini.
“Selamat datang!” sapa Atan, “udah lama nggak ke sini,” lanjutnya.
“Iya. Aku mau …”
“Hot chocolate?” tebaknya.
Aku lengkungkan senyuman disertai anggukkan. Mataku menyapu sekeliling kafe, tak terlihat juga sosok Regan. Ingin sekali menanyakannya ke Atan tapi malu.
“Regan nggak ada di sini,” jawabnya seolah tahu apa isi pikiranku, “udah beberapa bulan ke belakang dia jarang ke kafe,” lanjutnya seraya steaming susu.
“Kenapa?” tanyaku penasaran.
“Kurang tau juga. Anak itu jarang mau cerita. Misterius memang. Tapi, bukannya itu sisi seksinya dia?” Ucapan Atan membuatku geli. Bagaimana tidak, seorang lelaki mengatakan seksi untuk lelaki lain.
“Apa sih, geli tau.” Aku tertawa tipis.
Tak lama seorang lelaki dengan rambut gondrong membuka pintu kafe dan menghampiri bar. “Hai, Mas Panca!” sapa hangat Atan seraya menyodorkan tangannya untuk high five.
Lelaki itu menoleh ke arahku. “Kamu Maudi Maera?” tanyanya seraya menujuk ke arahku.
“Iya betul, saya Maudi Maera.”
“Ah, saya Panca, editor-nya Regan.” Lelaki itu menyodorkan tangannya hendak berjabat tangan.
Aku menyambut jabatan tangannya.
“Kita bicara di sana aaja, ya!” dia menunjuk kursi di pojokan depan—dekat kaca, “Atan, biasa, ya!” pintanya sesaat sebelum meninggalkan bar.
Aku mengikutinya seraya membawa cangkir berisikan coklat panas yang belum kuminum.
“Kamu siapanya Regan?” tanya Mas Panca tanpa basa basi setelah duduk di kursi coklat dengan tangan kanan melebar ke kursi satunya lagi.
“Teman aja, Mas,” jawabku.
“Mungkin kamu cuma anggap teman. Tapi saya rasa, Regan anggap lebih dari teman. Pasti ada sesuatu.”
“Maksud Mas Panca?” Aku mengerutkan kening mendengar ucapannya.
“Saya tau betul siapa Regan. Anak itu memang terlalu misterius, makanya dia nggak bisa buat naskah romance. Selalu aja thriller atau horor. Anak aneh." Mas Panca mengusap tangannya. Mungkin dia kedinginan karena pendingin ruangan. Memang ruangan kafe ini terasa dingin. "Waktu dia antar naskah ini ke saya, sikapnya beda. Dia bersikap agak lembut dan banyak senyum seolah naskahnya baru tembus di penerbit. Pasti ada sesuatu,” Atan mengantarkan kopi pesanan Mas Panca lantas meletakkannya di atas meja depan kami, “Terima kasih, Atan,” ucapnya seraya menepuk bahu Atan. Atan kembali ke bar.
“Kami memang cuma teman, Mas.” Aku mencoba mengklarifikasi.
“Iya, mungkin sekarang teman,” Mas Panca mengakhiri pembicaraan yang seolah memojokkan aku. Dia mengeluarkan naskah, “saya udah baca. Ada beberapa editing di dalamnya. Saya tandai dengan pulpen merah dan ada note-nya juga. Kamu bisa edit semua ini?” tanyanya.
“Bisa, Mas.”
“Kapan selesai?” tanyanya lagi sembari seruput kopi hitam.
“Minggu depan saya serahkan ke Mas Panca,” jawabku seraya membolak-balikkan naskah yang sudah dicorat-coret, sungguh banyak.
“Oke. Oh ya, kenapa diberi judul Coffee Break Time?” tanyanya kembali merentangkan tangan ke kursi di sampingnya.
“Coffee, karena hidup saya seperti kopi. Pahit dan terlalu pekat. Sebelumnya, saya nggak tau seperti apa rasanya kopi. Saya cuma tau dari orang aja. Sejak bertemu seseorang, saya tau rasanya kopi.”
“Regan?” potongnya.
“Ah? Mmm … iya, Mas,” jawabku malu.
Mas Panca tersenyum. “Lanjutkan!”
“Dia menjelaskan proses kopi dari dipetik sampai siap dikonsumsi. Proses yang sangat panjang dan pelik, seperti hidup saya. Mungkin, Mas Panca menganggap berlebihan tapi itulah hidup saya. Dari nggak punya harapan, menjadi ada harapan. Semua karena dua pahlawan saya.” Aku menghentikan sebentar. Kuteguk coklat panas yang mulai dingin.
“Itu kisah nyata?” tanyanya dengan berkerut kening.
“Iya, Mas.”
“Saya ikut berduka. He's the real hero.” Mas Panca kini melipat kedua tangan di depan perutnya seraya menyilangkan kaki.
“Iya, Mas. He's my hero. Karena dia juga saya bisa hidup sampai sekarang dan punya perasaan yang sulit. Hidup dihantui rasa bersalah dan hutang budi. Pahit memang, tapi saya yakin akan ada rasa nikmat di dalamnya kalau dinikmati. Layaknya kopi.” Aku tersenyum membayangkan wajah Regan.
Mas Panca mengangguk. “Break Time?” Mas Panca masih berkerut kening.
“Break itu istirahat, kan? Saya pernah merasakan bosannya istirahat. Bosan berada di rumah sakit. Bosan menyendiri dan terus mengumpat. Berpura-pura kuat. Sampai pacaran aja diam-diam. Menutupi penyakit dari dia. Pada akhirnya, dia tau dan pertukaran nyawa itu terjadi. Setelah punya kehidupan baru, saya kira bosan dan lelah itu hilang. Ternyata, malah semakin lelah. Saya lelah buka hati lagi. Saya nggak mau buat orang berkorban lagi karena saya. Break juga bisa berarti putus. Ya, putus adalah jalan terbaik yang dia ambil sebelum transplatasi itu dilakukan. Dia selalu kasih kesempatan untuk berkembang dan mewujudkan mimpi saya menjadi penulis. Time, waktu. Perjalanan waktu itu membuat saya berubah dan bangkit kembali. Saya nggak bisa terus-terusan jadi tertutup dan mengumpat. Saya mau orang tau kemampuan saya. Sampai hari itu tiba, pertemuan saya dengannya.” Aku kembali meneguk coklat panas yang kini benar-benar sudah dingin.
“Regan?” Mas Panca kembali menebak.
Aku mengangguk. “Dia membuat saya kembali membuka pikiran bahwa nggak hanya saya yang hidupnya pelik. Dia pun mungkin lebih pelik. Mungkin, karena itu dia nggak bisa buat naskah romance,” jelasku diiringi sunggingan senyum.
“Menarik.” Mas Panca mengusap dagunya yang penuh dengan rambut tipis, “kamu udah baca novel pertama Regan?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Belum.”
“Masa? Novelnya lumayan nge-hits. Kamu harus baca! Cari nama penulisnya Repash. Itu nama pena dia.” Mas Panca merapihkan tasnya.
“Repash?” Aku mengulang nama itu dengan rasa penasaran.
“Gitu aja, ya, Maudi. Minggu depan saya tunggu naskah edit-an kamu. Antar ke kantor saya!” pintanya seraya bangkit dari kursi.
Aku ikut berdiri dan menyodorkan tangan hendak bersalaman. Mas Panca menyambut hangat jabat tanganku. “Terima kasih, Mas. Akan segera saya edit. Sekali lagi terima kasih.”
“Hei, terima kasihnya sama Regan sana! Eh, Repash,” ucapnya geli dengan senyuman meledek, “Tan, balik, ya!” serunya seraya membuka pintu setelah mendapatkan anggukkan dari Atan.
Segera kucari novel yang sempat dibaca di kafe ini, namun tidak ketemu. Aku mendekati Atan. “Tan, kamu tau novel yang di sana?” Aku menunjuk ke arah rak yang biasa aku duduk dengan teman-teman kalau ke sini.
“Novel apa?” tanya Atan bingung.
“Yang nama penulisnya Repash,” jelasku.
“Oh itu, udah dibawa pulang sama Regan,” jawab Atan santai, “kenapa?”
Aku menggeleng. “Pantas agak curiga,” lirihku. Aku kembali duduk, menatap naskah yang penuh coretan. Namun pikiranku bukan tertuju ke naskah melainkan ke nama Repash. Mana mungkin puisi itu masuk ke mading sekolah. Bukannya dia bukan alumni sekolahanku? Aku harus tanya ke siapa? Ah, Bang Agra! Bukannya mereka dulu memang dekat? Jangan-jangan Bang Agra ambil dari Regan tanpa izin lalu kasih ke Angga dan Angga kasih ke redaksi mading. Bisa jadi seperti itu. Pikiranku terus menyambung-nyambungkan peristiwa itu agar menjadi korelasi yang memungkinkan.
Aku segera meraih ponsel, menekan nomor Bang Agra. “Bang, bisa antar aku ke rumah sakit? Ibu nggak bisa. Aku tunggu di kafe perpustakaan, ya! Bye!” ucapku di telepon. Lantas menekan nomor Ibu. “Ibu hari ini aku ke rumah sakit diantar Bang Agra. Iya Bu, nanti aku kabari perkembangannya.” Aku memutuskan telepon setelah Ibu memutuskannya duluan.
*****
--------
Mulai kelihatan siapa Regan sebenarnya. Kira-kira gimana, ya, tanggapan Regan?
Oh, ya, part 21 dibagi 2 juga karena kepanjangan. Nantikan bagian 2-nya besok, ya.
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa vote dan komennya, ya.
Nuhun.
Salam hangat,
Author
KAMU SEDANG MEMBACA
Coffee Break Time
Teen FictionTAMAT Kopi hitam itu pahit. Jika ditambahkan gula, dia tetap hitam dan pahit, tidak mengubah wujudnya. Bagi yang belum merasakan, akan beranggapan semua kopi itu pahit, padahal ada sedikit manis dari gula yang ditambahkan. Kamu hanya perlu mencicipi...
