21.2. MAUDI MAERA

165 14 1
                                        

“Kondisi jantung kamu membaik. Dijaga terus, ya,” nasihat Dokter Agam.
“Terima kasih, Dok,” sahutku seraya mengikat rambut ke belakang.
“Kalian mau ke mana setelah ini?” tanya Dokter Agam.
“Mau ke …” Jawaban Bang Agra aku potong.
“Pulang, Dok,” jawabku menyela.
Bang Agra menoleh ke arahku lantas pamit ke Dokter Agam, aku pun.
Di mobil, aku tak banyak bicara. Pikiranku masih tertuju antara Regan dan Repash. Dua nama orang yang sama. Dua-duanya memberikan arti.
“Bang, aku mau tanya,” ucapku saat kami tiba di depan rumah.
“Mau tanya apa?” Bang Agra memutar badannya menghadapku.
“Tapi aku mohon Bang Agra jujur sama aku!” pintaku.
“Iya, janji.”
Kedua tanganku saling meremas. Antara takut dan gugup. “Abang tau Repash?”
“Repash?” dia mengulang nama itu dengan ekspresi bingung.
“Apa Abang pernah kasih ke Angga kertas berisikan puisi buat mading sekolah?”
Dia tampak berpikir, mengingat kembali. “Rasanya pernah. Itu puisinya Regan kalau nggak salah. Abang kesal lihat dia nggak percaya diri dan menganggap puisinya nggak bagus. Ya, udah, Abang ambil puisi itu dan minta Angga untuk pajang di mading sekolahnya. Ternyata responnya bagus. Kata Angga banyak yang suka.” Bang Agra tertawa tipis, “kenapa? Ada hubungannya dengan nama Repash?” tanyanya balik.
“Abang tau, puisi itu membuka pikiranku kalau bukan cuma aku yang punya hidup penuh ujian. Puisi itu juga seolah jadi kawanku. Sayangnya, aku nggak kenal siapa penulisnya. Aku yakin bukan dari siswa sekolah. Kata-katanya seperti dari hati. Di akhir puisi itu tertulis nama penulisnya. Tadinya aku kira bukan nama penulisnya. Aku masih simpan kertas itu.” Aku merogoh tas, mengambil buku catatan. Di sana terselip lipatan kertas yang telah usang, “ini tulisan dia yang selalu spesial buat aku.” Bang Agra mengambil tiga lipatan kertas itu, dia buka satu-satu.
“Dari Angga?”
“Iya, he's my hero.” Mataku mulai berkaca-kaca.
“Repash?” Bang Agra menunjukkan tulisan Regan ke arahku, “bukannya ini puisi yang aku kasih ke Angga? Aku nggak lihat ada nama penulisnya di ujung bawah.” Bang Agra meraba tulisan Repash, “dia juga?”
Aku mengangguk. “Iya,” lirihku.
“Jadi, maksud kamu apa?”
Aku mengambil kembali ketiga kertas itu lantas kuselipkan kembali di dalam buku catatanku. “Selama ini, aku cari keberadaan Repash. Ternyata orang yang dekat denganku. Waktu itu, pertama kalinya ke kafe perpustakaan. Di sana aku baca novel Repash. Aku bahas depan dia tentang novel itu. Tapi dia nggak mengakui kalau itu karyanya. Dia sembunyikan indentitasnya. Andaikan aku tau dari awal, mungkin nggak seperti ini sekarang.” Suaraku mulai parau.
“Kamu menyukai Regan?” Bang gra mendekati wajahnya.
Dengan ragu aku mengangguk.
“Kamu menyukai dia karena tulisannya?” nada suara Bang Agra sedikit meninggi.
Aku menelan ludah. “Itu bukan sekedar tulisan, Bang. Aku tau mana yang menulis dari hati dan bukan. Itu tulisan dari hati dan sampai ke hati. Memang bukan tulisan romantis tapi mampu buka pandanganku. Mungkin Abang nggak pernah mengerti karena Abang nggak pernah nulis pakai hati” Suaraku semakin parau.
Bang Agra bersandar ke kursi. Kepalanya tertunduk. “Tapi kita udah tunangan, Maudi.”
“Aku tau. Aku juga tau terima kasih.” Aku menunduk.
Lelaki itu menoleh. “Maksud kamu?” Bang Agra tersenyum sinis, “jadi selama ini, kamu mau terima lamaranku karena merasa hutang budi?”
Aku tidak menjawab. Aku tidak berani menatap wajah Bang Agra.
“Jawab, Maudi! Maudi jawab!” teriak Bang Agra. Nampaknya lelaki itu sudah mulai kesal.
“Maaf, Bang. Aku terpaksa lakukan ini karena Ibu yang minta. Hidupku saat ini semua berkat keluarga Bang Agra. Mungkin kalau kalian nggak mengizinkan, aku udah nggak ada. Aku kira hidup baruku akan lebih nyaman, ternyata enggak. Membawa jantung orang yang aku cintai, lebih berat dibandingkan kematian itu sendiri. Aku terus dihantui rasa bersalah. Mungkin, dengan menerima lamaran Bang Agra, aku bisa mengucapkan terima kasih.” Wajahku mulai sembab.
“Ini konyol Maudi! Ini benar-benar konyol! Mana bisa kamu mempermainkan hati. Aku menyukai kamu karena aku tulus tapi ternyata niat kamu beda. Pantas Regan bilang seperti itu. Dia benar, aku nggak bisa memahami kamu. Aku nggak pernah tanya apa mau kamu. Aku memang egois. Seharusnya, aku bisa jadi kakak yang mengayomi bukan mendahului nafsu. Aku memang lelaki brengsek!” Bang Agra mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
“Enggak, Bang. Aku yang brengsek. Aku udah mainin perasaan Abang. Aku benar-benar nggak tau harus gimana. Pikiranku pendek.”Aku terus menangis, membiarkan air mata ini jatuh.
Bang Agra mengangkat wajahku lantas diarahkan ke arahnya. Dia menyeka air mataku dengan lembut. “Maudi, aku memang sangat mencintai kamu. Mungkin kalau Angga masih ada, kita bakal rebutan gadis seperti kamu. Selera kita sama. Tapi satu hal yang harus kamu tau, aku nggak mau kebahagiaan kamu dipertaruhkan hanya untuk membahagiakan orang lain. Kamu pantas untuk bahagia. Aku akan bicarakan pembatalan tunangan kita ke Bunda dan Ayah.” Bang Agra membelai lembut rambutku. Air mataku semakin deras.
“Tapi, Bang.”
“Percayakan padaku! Semua akan baik-baik aja. Nama kamu nggak akan pernah jelek di mata Bunda dan Ayah. Percaya sama aku!” Bang Agra melontarkan senyuman yang membuat hatiku lebih tenang. Aku yakin dari hatinya masih ada kekecewaan yang tertahan.
“Maaf, Bang.” Aku kembali menunduk dengan isakkan.
Bang Agra kembali mengangkat daguku. “Hey, jangan nangis lagi! Ingat tadi apa kata dokter? Jaga jantung kamu!” kini kedua tangannya berpindah ke bahuku. “Dengar, ya, nggak ada yang salah di sini. Semua karena keadaan. Ya udah, masuk rumah sana! Besok aku ajak kamu ketemu Regan,” ucapnya seraya melepaskan tangannya dari bahuku. Senyumnya memudar dan matanya menatap lurus ke jalan.
Tanpa banyak bicara, aku keluar dari mobil. Tak lama mobil pun melaju begitu saja tanpa ada lambaian tangan yang biasa dia lakukan. Bang Agra beanr-benar kecewa padaku.
Aku melangkah gontai ke dalam rumah. Saat membuka pintu, Ibu tengah duduk dengan wajah cemas. “Maudi, apa kata dokter? Kenapa telepon Ibu nggak diangkat? Agra juga.” Aku terus dihujani pertanyaan dari Ibu.
Aku menggenggam tangan Ibu. “Kata dokter membaik. Ibu duduk, yuk!” ajakku.
“Ada apa ini?”
“Ibu sayang Maudi?” tanyaku mengawali pembicaraan.
“Tentu Ibu sayang. Kenapa?” jawab Ibu seraya membelai lembut kepalaku.
“Ibu mau Maudi bahagia, kan?” tanyaku lagi.
“Jelas, Nak. Kamu kenapa?” Ibu semakin bingung.
“Maudi mau membatalkan pernikahan dengan Bang Agra.”
Kening Ibu berkerut. “Kenapa?”
“Maudi nggak mencintainya, Bu.”
“Lalu kenapa kamu terima, Nak?”
“Maudi bingung, Bu. Maudi masih merasa bersalah karena donor jantung ini. Maudi pikir, dengan cara itu aku bisa membayar ini semua. Tapi nyatanya menyakitkan, Bu. Maudi nggak mencintai Bang Agra. Maudi mencintai orang lain.” Aku menunduk. Kepala rasanya sudah berat, menangis sedari tadi.
Ibu kembali membelai kepalaku. “Ibu terserah kamu aja. Asal kamu tau, ya, justru Ibu dan Bunda Ane sempat bingung kenapa Agra tiba-tiba bilang mau menikahi kamu. Ibu kira memang kalian punya perasaan yang sama. Kamu juga cuma diam menerima.”
“Iya, Bu. Maudi salah.”
“Sudah kamu sampaikan ke Agra?”
“Sudah, Bu. Awalnya dia kesal dan marah tapi lambat laun dia mengerti.”
“Ibu yakin, Agra bisa bijak hadapi ini. Ibu percaya didikan Bunda Ane. Mereka keluarga yang luar biasa,” Ibu memelukku, “Ibu nggak mau maksa kamu lagi, Nak. Kebahagiaan kamu sangat berarti buat Ibu. Ibu udah lama kehilangan tawa riang kamu.”
“Oh, ya, Bu. Novelku tembus di penerbit.”
Ibu melepaskan pelukannya. “Oh, ya?”
“Iya. Semua berkat lelaki yang aku cintai.” Aku menunduk malu.
“Angga?” tebak Ibu.
Aku menggeleng. “Bukan. Namanya Regan. Dia penulis juga, tapi berkat dia novelku tembus. Berkat dia juga aku termotivasi. Sekarang ada dua pahlawan dalam hidupku selain Ayah.” Aku tersenyum tipis meskipun mata sudah bengkak.
“Angga dan Regan?” tebak Ibu lagi.
Aku mengangguk malu.
“Kenalkan ke Ibu!” pinta Ibu.
“Pasti, Bu. Ibu, terima kasih, ya. Maaf kalau dulu aku bersikap nggak baik sama Ibu.” Aku menggenggam tangan Ibu.
“Seorang Ibu nggak akan pernah benci apalagi dendam sama anaknya meskipun anaknya bersikap nggak baik.”
“Sayang Ibu.” Aku memeluk erat Ibu. Pelukan ini telah lama tidak kurasakan. Sikap tempramenku dulu membuat hubunganku dengan Ibu menjauh. Semoga ini tanda yang baik.

---------
Ternyata Agra bijak, gais. Ini cuma salah paham. Bisa diatasi.

Maaf, ya, baru sempat post part 21 bagian 2. Semalam capek banget rasanya. Tapi sudah saya post, nih. Nanti malam ada part terbaru lagi. Jadi hari ini ada 2 part, ya.

Terima kasih sudah membaca

Salam bijak,

Author

Coffee Break TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang