Angin membelai rambutku. Terakhir aku merasakan ini tiga tahun lalu—di Ancol ketika Ayah masih ada. Aku hampir lupa suara angin, aroma, hingga ketenangan yang ditawarkannya. “Jadi ini tempat yang mau ditunjukkan ke aku?” ucapku sesaat turun dari mobil.
“Iya.” Regan menghampiriku lantas menarik lenganku lembut, menuju pantai, “kamu udah pernah ke sini?” Dia melepaskan genggamannya di lenganku.
“Belum. Ini pertama kalinya.”
Regan mengangguk serta tersenyum puas. “Pertama kali dan bersama saya,” ucapnya lirih. Suaranya saling beradu dengan semilir angin yang lewat dekat telinga.
“Kenapa?” tanyaku meminta dia mengulang.
“Ah, nggak apa-apa,” lelaki itu kembali tersenyum, “ke sana, yuk!” ajaknya seraya menunjuk ke arah batu besar.
“Kamu sering ke sini?” Aku duduk di atas batu, di samping Regan.
“Enggak sering. Sesekali aja, kalau lagi mumet,” jawabnya dengan mata memandang lepas ke arah laut, “saya suka pantai. Buat saya, pantai adalah tempat yang pas untuk menyendiri,” lanjutnya.
“Bukannya kalau weekend juga ramai?”
“Ya, jangan pas weekend ke sininya.”
“Kalau mumetnya pas weekend?”
“Saya lebih memilih ke perpustakaan atau ke kafe sekedar minum kopi.” Lelaki itu menoleh ke arahku, “kamu?”
“Aku? Mmm … dari dulu aku anak rumahan.” Tidak mungkin aku menjawab kalau dulu sering di rumah sakit.
Regan kembali menatap laut. Aku menatap lekat wajahnya dari samping. Tulang hidungnya yang menonjol membuat garis wajahnya yang tegas. Meskipun lelaki itu terkadang seperti monster dan menyebalkan, aku tetap salut padanya. Dia mampu melewati kehidupannya meski tak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tak sadar, bibirku melengkungkan senyuman dan di saat yang sama lelaki itu menoleh ke arahku. Segera aku membuang muka, berpura-pura melihat laut.
“Kenapa? Kalau mau lihat wajah saya, lihat aja, Maudi. Jangan merah seperti itu mukanya,” ejeknya seraya tertawa pelan.
“Apa sih? Siapa yang mau lihat wajah kamu.” Mataku berpura-pura menyapu sekeliling.
“Jangan salah tingkah, Maudi.”
Aku tak menjawab lagi, hanya diam seraya menggoyangkan kakiku ke depan.
“Kamu coba meram!” pintanya.
“Kamu mau apa?” tanyaku curiga.
“Jangan berpikir macam-macam! Saya nggak seburuk itu. Meram aja!” perintahnya lagi.
Entah kenapa, aku nurut begitu saja. Aku pejamkan mata. “Lalu?”
“Kamu dengarkan apa yang melintas di depan telingamu?”
Suara lelaki itu terdengar sejuk jika tidak melihat wajahnya. “Angin,” jawabku singkat.
“Nikmati iramanya. Rasakan kelembutan belaiannya,” perintahnya lantas dia tak lagi bersuara.
“Regan, kamu masih di sana?” tanyaku dengan mata masih terpejam namun tak ada suara, “Regan! Regan!” panggilku lagi. Ketika aku hendak membuka mata, tanganku digenggam seseorang.
“Jangan dibuka. Rasakan terus. Saya di sini.”
Genggaman itu sungguh membuatku tenang. Mungkin lebih tenang dibandingkan semilir angin.
“Sekarang buka mata kamu!” perintahnya, “makes you relax, right?”
Saat membuka mata, wajah yang pertama kali kulihat adalah wajah Angga. Aku terdiam menatap wajah itu, dia tersenyum padaku. Namun semakin lama, semakin memudar dan aku kembali mendengar suara Regan. “Maudi, are you ok?” Regan kembali menggengam tanganku dengan wajah panik.
Aku menoleh ke arahnya dan mengangguk. “I’m ok.”
“Syukurlah.”
“Pulang, yuk!” ajakku seraya meninggalkannya ke arah mobil.
Regan tak banyak tanya alasanku meminta pulang tiba-tiba. Lelaki itu masuk ke dalam mobil setelah aku masuk lebih dulu. Dia sempat menatapku lama namun aku menatap lurus ke depan. Aku rasa lelaki itu ingin bertanya tentang perubahan sikap dan wajahku namun dia memilih diam dan melajukan mobil. Hingga setengah jalan, aku tidak bicara. Aku masih teringat wajah Angga yang tersenyum ke arahku. Ini pertama kalinya aku melihat wajah Angga setelah dia tiada. Kerinduan, rasa bersalah dan takut bercampur jadi satu—membuat mulut tiba-tiba bisu. Aku kehabisan kata-kata dan rasanya ingin menangis.
“Maudi!” Regan memanggilku namun aku masih diam. Aku mendengar panggilan itu tapi leher ini berat untuk berputar.
Dia menepikan mobilnya lalu memutarkan tubuhnya ke arahku. Dia memanggilku lagi namun leherku masih berat untuk menoleh. Hingga dia memegang wajahku lembut dan mengarahkan untuk menghadapnya. Mata itu terlihat khawatir. Ternyata sikap diamku tadi membuat lelaki itu khawatir. Baru saja dia membuka mulutnya hendak bicara, aku sudah bicara duluan. "Aku nggan apa-apa, Regan. Cuma capek aja," jawabku dari pertanyaanya tadi, "lanjut jalannya! Udah mau gelap," pintaku.
Lelaki itu segera memutarkan tubuhnya lagi menghadap depan dan melajukan mobilnya kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Coffee Break Time
Novela JuvenilTAMAT Kopi hitam itu pahit. Jika ditambahkan gula, dia tetap hitam dan pahit, tidak mengubah wujudnya. Bagi yang belum merasakan, akan beranggapan semua kopi itu pahit, padahal ada sedikit manis dari gula yang ditambahkan. Kamu hanya perlu mencicipi...
