8. ANGGA RENGGANA

239 21 4
                                        

H-2 MALAM SASTRA

Malam Sastra tinggal dua hari lagi. Seluruh panitia mendapatkan dispensasi untuk tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar. Redaksi mading sudah masuk tahap penyeleksian. Aku melihat Maudi semakin kurus dan pucat. Dia seringkali memegang dada dengan wajah meringis—menahan sakit. Setiap ditanya, selalu saja mengalihkan pembicaraan, seolah dia baik-baik saja. Aku semakin penasaran dengannya. Perempuan itu terlalu misterius. Selama ini aku mencintai perempuan dengan kepribadian tertutup dan tidak mengetahui apapun tentangnya.

Malam itu, sepulang rapat aku mencoba membuntutinya hingga rumah. Ternyata benar, rumahnya dekat rumah sakit tempat Ayah bekerja. Setelah membuntutinya sampai rumah, aku kembali ke halte menunggu taksi untuk pulang ke rumah. Namun, aku dikejutkan oleh sosok yang tiba-tiba muncul di sampingku dengan wajah kesal.

"Kamu buntuti aku?" tanyanya kesal.

Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. "Eng...gak," jawabku terbata-bata.

"Angga, aku tau kamu Ketua OSIS tapi bukan berarti kamu berhak buntuti aku," geramnya seraya melipat kedua tangan, "bukannya aku udah pernah bilang, kamu cukup tau siapa aku di sekolah. Enggak perlu repot-repot mencari tau siapa aku di luar sekolah," lanjutnya.

Aku masih terdiam tertunduk. Tidak berani menatap wajahnya, apalagi matanya. Aku memang salah. Perasaan ini membuatku terlampau jauh ingin tahu kehidupannya. 'Tetapi, apa salah kalau aku mau tahu tentangnya?' Aku berperang dalam pikiran.

"Angga!" serunya kesal.

"Iya."

"Bicara! Jangan diam aja!" ucapnya lagi mendekat ke arahku.

Aku mengumpulkan keberanian untuk menatap wajah dan matanya. Mataku menyapu sekeliling temaram, ditemani lampu jalan yang mulai redup. Kupandang rumah sakit di seberang, berharap melintas mobil Ayah agar aku bisa kabur dari situasi ini. Jujur, aku baru pertama kali jatuh cinta, jadi maklum saja jika berlebihan menyikapi segala sesuatu yang berkaitan dengan hati.

"Angga!!!" serunya semakin kesal. Kini dia berdiri di hadapanku dengan kedua tangannya masih dilipat.

Aku mencoba menatap wajah dan matanya. Kupandang lamat-lamat. Entah mengapa, aku melihat ada perasaan sedih, takut dan bimbang dari bola matanya yang agak kecoklatan. Aku mendekatinya, lebih dekat. Kupegang kedua bahunya, kami sangat dekat−beberapa senti saja. "Maudi, kamu mau tau kenapa aku buntuti kamu?" tanyaku lirih. Suasana halte yang sepi dan temaram menambah ketegangan antara kami. Beberapa kali aku melihat taksi lewat begitu saja di hadapan kami.

Perempuan itu mengangguk.

"Maudi, beberapa hari ke belakang, aku perhatikan tubuh kamu semakin kurus dan wajah kamu pucat. Bahkan beberapa kali kamu eggak masuk sekolah. Tugas kamu dititipkan ke Aya, kan? Maudi, aku khawatir sama kamu," ucapanku terhenti ketika melihat wajahnya tidak lagi kesal, "sebenarnya, aku ini siapa kamu? Selama ini kita jalani hari bersama di sekolah sampai pulang sekolah. Walaupun kamu enggak izinkan aku antar sampai rumah."

Maudi tertunduk mendengar pertanyaanku.

Aku mengangkat dagunya. "Kamu anggap aku apa?"

Perempuan itu melepaskan genggaman tanganku di bahunya. "Sudahlah, kamu pulang aja! Hati-hati di jalan! Sampai rumah, langsung istirahat! Besok, kan, hari terakhir persiapan Malam Sastra. Bye!" Dia meninggalkanku tanpa jawaban tetapi mendengar ucapannya tadi sedikit membuatku tenang. Serangkaian kalimat perhatian dia katakan padaku. Apakah dia...? Ah sudahlah. Taksi lewat tepat di hadapanku, segera aku menyetopnya dan menuju ke rumah.


MARET 2005

Malam ini seluruh panitia menginap di sekolah, demi kesuksesan pertama kali acara Malam Sastra. Redaksi mading menyiapkan naskah puisi pemenang lomba cipta puisi untuk dibacakan esok. Pemenang naskah drama teater dan cerpen sudah diberikan sebulan yang lalu kepada ekskul teater untuk disajikan dalam bentuk visual di atas panggung.

Coffee Break TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang