26

958 38 6
                                    

Flashback on

Faisal kecil pulang dari taman pada sore harinya membawa boneka yang di berikan gadis kecil itu di taman. Dia berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung memeluk mamanya yang sedang berada di ruang tamu dengan wajah khawatirnya. Mungkin sedang menunggu kepulangan anak laki-lakinya ini.

Faisal memluk erat tubuh sang mama takut di tinggal seperti tadi membuat sang mama kini tersenyum. Sembari membalas pelukan sang putra tak kalah erat. Faisal kini melonggarkan pelukannya,menatap sang mama.

"kenapa Isal nggak diajak tadi?" adunya dengan mulut mengerucut.

Sang mama tersenyum gemas melihat tingkah lucu outra semata wayangnya ini. Ah betapa beruntungnya sang mama memiliki putra yang tampan ini. Ia mengelus lembut kepala sang putra " mama sama papa kamu tadi ada urusan sayang, jadi mama nggak sempet bangunin kamu, kamu kasihan kalo di bangunin."

Faisal kecil hanya mengangguk lucu. Matanya menatap wajah sang mama teliti, ada bekas air mata di pipi sang mama, meskipun sudah kering bekas itu masih terlihat di mata jernih Faisal. Dan di sudut mata sang mama ada sisa air mata yang kering. Hidung mamanya memerah dan mata sang mama juga sedikit membengkak.

"Mama sakit?" tanyanya kepada sang mama yang kinu sedang menatapnya bingung, wanita cantik itu menggeleng.

Faisal benar-benar penasaran, apa mungkin sang mama menangis? Tapi apa yang menyebabkan sang mama menangis? Apa dirinya nakal?apa dirinya berbuat salah? Berbagai pertanyaan kini ada du otak kecil Faisal.

"mama nangis?" respon sang mama begitu aneh, wanita itu gelagaoan mendengar pertanyaan dari sang anak, entah kenapa wanita ini merasa sang anak memiliki otak lebih yang tidak di miliki oleh anak-anak lain.

"siapa yang buat mama nangis?apa Isal nakal? Apa Isal bikin salah sama mama? Aoa gegara Isal pergi ke taman nggak kasih tahu mama? Siapa yang bikin mama nangis ma?" pertanyaan beruntun itu Faisal keluarkan dari kepalanya.

Sang mama memeluk erat putranya lalu berbisik "bukan, bukan Faisal sayang" wanita ini ingat alasannya pergi bersama sang suami tadi. Betapa Ia tidak tega jika harus memberi tahu putranya ini. Dia begitu masih kecil. Belum tahu apa-apa.

"nanti laporin ke Isal ya ma, kalo ada orang jahat yang nakalin mama, biar Isal pukul-pukul biar kesakitan karena udah bikin mama Faisal nangis. Yah ma" sang mama mengangguk dan tambah memeluk erat sang putra hingga Ia menyadari apa yang sedang putranya bawa.

Wanita tadi melepaskan pelukannya dan memegangang tangan putranya yang membawa sebuah boneka. "ini punya siapa sayang? Kamu ga punya mainan ini kan?" tanyanya melihat mainan asing yang di pegang sang putra.

Faisal kecil hanya tersenyum "tadi waktu Isal di tinggal mama. Isal nangis terus main ke Taman di taman Isal juga nangis,nah terus ada anak perempuan ma yang tiba-tiba duduk di bangku sebelah Isal. Isal kaget dong eh dia malah natap Isal ma, dia lucu ma matanya bulat cantik kayak mama, tapi sayang dia jorok ma, masak pipinya belepotan ice cream tangannya juga kotor. Terus dia ngasih ini biar Isal nggak nangis. Mamanya juga baik, dia ngasih Isal ice cream putih terus, terus mamanya ngasih tau biar Isal nggak boleh cengeng karena Isal itu laki-laki"

Faisal terus bercerita tentang pertemuannya dengan gadis tadi bersama mamanya. Sang mama tersenyum bangga, Ia ber terima kasih kepada siapapun perempuan yang sudah memberi tahu anaknya agar tidak menangis.

"lalu kamu tau siapa nama teman kamu itu?" tanyanya setelah sang putra menjelaskan semuanya tapi tidak menyebutkan nama teman barunya itu.

Faisal hanya menggeleng polos. Dirinya baru ingat belum kenalan dengan gadis tadi. Mereka hanya memanggil Barbie dan Ken saja.

DIRANA SHALSADILATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang