Januari, 2019.
Hari ini jadwalnya kelas Nindy –IPA-3 untuk olahraga. Jadwalnya sama dengan kelas IPS-3, kelas Rafka. Baginya, hari Jumat ini hari tersial untuk dirinya, pasti hari ini Rafka menjahili dia, huft Nindy lelah.
Nindy dan Lucy menghampiri gurunya yang sudah meniup peluit andalannya. Pak Gorgeous memberi intruksi jika hari ini adalah tes lari dua belas menit.
"Ya, sekarang tes kalian disatukan ya. Absen kesatu di kelas IPA dihitung oleh absen kesatu dikelas IPS, begitupun sebaliknya," jelas pak Gorgeous.
Nindy mencari temannya yang dikelas IPS untuk menanyakan siapa absen ke dua puluh lima.
"Psstt, Selinne," Nindy.
Selinne menoleh. "What? Apa, Nin?"
"Absen 25 siapa?"
"Rafka Danial Reynand."
"ASTAGA GAMAU!" teriak Nindy refleks membuat seluruh orang yang di lapang menoleh ke arah dia, bingung dan terkejut.
"Iya? Nindy Ningratu Sekar? Ada apa ya?" tanya Pak Gorgeous.
Pak Gorgeous itu baik, manis, ganteng, perhatian, tapi jika sudah melakukan kesalahan dia bisa berubah. Sifat tegasnya keluar loh.
"Nggak pak! Maaf," ucap Nindy.
Rafka yang melihat kejadian itu hanya tertawa. Karena dia tau, Nindy adalah orang yang berabsen 25 di kelas IPA-3.
"Absen 20 sampai 25 ayok kalian baris, kelas IPS duluan yang lari, baru IPA," ucap Pak Gorgeous.
"Hitung yang bener lo," ucap Rafka.
"Bawel, lo!"
Setelah 12 menit berlari, akhirnya bergantian Nindy yang berlari. Rafka dengan santainya duduk dipinggir lapangan sembari meminum air mineral.
"Nin!" panggil Rafka, Nindy menoleh. "Lo hitung sendiri ya."
Muka Nindy sudah memerah karena kesal. Gampang sekali Rafka berbicara seperti itu.
"Awas ya lo!"
Rafka hanya tertawa. Untung saja Nindy ingat berapa keliling Rafka berlari dan semoga tidak tertukar dengan miliknya.
"Rafeyza Selinne Douma?" absen Pak Gorgeous.
Alaska mengangkat tangannya. "20 keliling, pak."
"Rasyid Hussein Alaska?"
"30 Pak!" teriak Somi.
Ini absen yang ditunggu Nindy. Saat Nindy memerhatikan Pak Gorgeous, ada batu kecil mengenai lengannya.
"Heh! Siapa itu?!" tanya Nindy, melihat kearah barisan kelas IPS.
"Gue, kaleng rombeng."
"Rafka!!!"
"Udah gak usah marah, jelek lo! Berapa keliling lo?" tanya Rafka santai.
Nindy mengacuhkan Rafka, lalu kembali fokus ke depan.
"Rafka Danial Reynand?" absen Pak Gorgeous.
"30, pak!" teriak Nindy.
"Santai dong, Nindy," ucap Pak Gorgeous, "Nindy Ningratu Sekar?"
Rafka mengangkat tangan, tetapi Nindy langsung berbicara lagi. "20 Pak! Jangan tanya Rafka, dia lebih milih tidur dibawah pohon sana dan gak hitung berapa keliling saya lari."
Rafka terkejut. Dia takut Pak Gorgeous menghukumnya karena ulah dia sendiri.
"Rafka, bubaran kamu diam disini. Dan kamu juga, Nindy."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cabut | Revisi
Teen FictionKisah para remaja ibu kota yang bersekolah di SMA Pancasila yang punya karakter dan sifat yang berbeda warning! harsh words. ©jaegeur
