Maret, 2019.
Hari ini mereka pergi ke Yogyakarta, untuk melaksanakan Study Tour. Bis anak IPA yang biasanya sepi sekarang menjadi rusuh. Rasyid Hussein Alaska membawa gitar dan mulai mengalunkan lagu favoritnya, Waktu Yang Salah.
Helen yang duduknya tak jauh dari Alaska bernyanyi. "Pergi saja engkau pergi dariku. Biar kubunuh perasaan untukmu. Meski berat melangkah hatiku hanya tak siap terluka."
Diam-diam Helen melirik Ghiffar yang sedang bermain game. Tanpa Helen tau, Ghiffar tersenyum mendengar Helen bernyanyi.
"Beri kisah kita sedikit waktu, semesta mengirim dirimu untukku. Kita adalah, rasa yang tepat diwaktu yang salah," lanjut Dante.
Shilla yang sedaritadi menunduk kesal. "HEH! GANTI GAK LO PADA LAGUNYA? JANGAN YANG GALAU DONG!"
"Santai bos," ucap Alaska, terkejut karena Shilla mengamuk.
Aldira yang disebelahnya mengusap-usap pundak Shilla. "Sabar, sabar."
Shilla menunduk. "Dir, gue udah jauhan sama Javier," bisik Shilla.
"Kenapa?"
"Ada yang gak suka sama hubungan gue. Dia kasih tau Nabel kalau gue sama Javier deket lebih dari sahabat. Gue, gue kesel banget sama orang yang kasih tau itu. Gue sayang sama Javier, gue pengen deket lagi," bisik Shilla sembari terisak menahan tangis.
"Nangis aja Shil, biar lega. Gue ngerti kok, sabar ya. Kalau lo sama dia jodoh, pasti bakalan bersatu," jelas Aldira.
Shilla menangis. Dia tidak kuat dengan masalah yang dia hadapi. Dia mengutuk orang yang sudah menghancurkan kebahagiaannya.
"Dir," panggil Alaska.
"Apa, Ka?"
"Shilla nangis?" tanyanya tanpa suara, dan Dira mengangguk.
Alaska hafal situasi, dia memiliki ide untuk membuat Javier dan Shilla mengobrol.
"Oh. Aldira sini deh, gue mau cerita," ucap Alaska sembari mengedipkan mata.
"Oke, bentar."
Alaska menyuruh Javier untuk bertukar posisi dengan Aldira. Ingin bercerita hanya modusnya untuk mendekatkan Javier dengan Shilla.
Javier duduk disebelah Shilla. Shilla yang sedang menangis memilih untuk menatap keluar jendela.
Javier menghela nafas. "Shil, gue ngerti perasaan lo gimana. Tapi, emang udah takdirnya begini. Kita harus jaga jarak dulu," jelas Javier.
Shilla tidak menjawab. "Heh lo pada kok diem? Nyanyi lagi dong, tapi jangan waktu yang salah. Soalnya gue keinget Kak Candra hehehe," teriak Shilla tiba-tiba.
Mereka semua terkejut karena sikap Shilla yang tiba-tiba berubah. Alaska mendengus kesal karena rencananya gagal. Dia melirik Aldira.
"Aldira, nanti di Malioboro gue minta waktunya bentar ya. Just 2 hours," ucap Alaska. Aldira hanya mengangguk.
Bis yang ditumpangi kelas IPA menjadi ricuh. Mereka semua berjoget dan bernyanyi bersama hingga lelah dan tertidur.
Sedangkan bis yang ditumpangi kelas IPS lebih ricuh. Hema sang pericuh kelas sedang bernyanyi dan berjoget.
"Baby baby baby ooooo," nyanyi Hema sembari melirik Selinne.
"Apasi liatin gue?! Nancy tuh urus!" sindir Selinne.
Hema tertawa. "Etdah! Ngegas mulu. Cembokur bilang."
"Najis! Gue udah pacaran sama Kak Marvin kali ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cabut | Revisi
Teen FictionKisah para remaja ibu kota yang bersekolah di SMA Pancasila yang punya karakter dan sifat yang berbeda warning! harsh words. ©jaegeur
