"Nomor yang anda tuju sedang bahagia, coba lah esok hari, sekian terimakasih."
___________________________________"Eh Rangga! Gila aja lu ke DUFAN pas lagi liburan gini! Ngantri 4 jam main 4 menit bloon!" Sambil masuk dan menutup pintu mobil, Lara dengan wajah heran dan kentara masih ngantuk mencerocos tak henti. Menanyakan banyak hal tentang "keguobloksan" Rangga memilih waktu untuk main ke dufan.
"Lu diam napa? Kalau ga mau, udah sono tinggal aja!" Reza yang dari tadi sudah tak tahan dengan keluhan Lara, akhirnya angkat bicara. Padahal mobil sudah melaju membelah kota Jakarta yang pada pukul 7.00 pagi sudah ramai. Di depan Nami dan Rangga hanya geleng geleng kepala.
"Kaga mau, gua mau ikut!"
"Yaudah kalau gitu diem!!" Dengan bola mata memutar malas Reza mengalihkan pandangannya.
"Tapi--"
"Kalau ga libur kapan lagi kita lengkap Ra?" Potong Rangga sebelum Lara selesai bicara.
"Udahlah, nanti aku beli yang tiket spesialnya itu biar kita ga perlu anti." Nami tersenyum, memutar kepalanya ke tempat duduk belakang. Ide Nami di sambut horean dari Lara."Selamat baju gue dari keringat lelahnya menunggu."
***
"Eeh eh! Naik bianglala dulu yuk. Yang dekat dekat dulu!" Lara menunjuk bianglala di depan mereka. Idenya mendapat anggukan antusias dari Nami dan Reza. Sedangkan Rangga ikut saja.
"Indah banget gilaa!" Ucap Reza saat mereka sudah naik tanpa antri dan berhenti tepat di bagian tertinggi.
"Setujaaaaaaaawww!! Gila! Keren!" Komentar Lara.
"Lu bedua kaya baru pertama kali naik ini tau ga!" Dengan geleng geleng kepala Rangga memperhatikan mereka berdua--Lara dan Reza.
"Ini tuh bentuk ekspresi kita! Ya ga Ra?"
"Iyap. Tumben lu sepemikiran ama gue Za?"
"Indahnya pemandangan...." ucap Reza, tak menghiraukan perkataan Lara. Ia melihat lihat sambil bianglala itu berputar kembali.
"Ish! Nyebelin." Keluh Lara dan memanyunkan bibirnya, tanda merajuk."Abis ini naik kora kora kuy!" Ajak Reza.
"Gue ayuk aja.""Eh beteweh ya gengs, Nami diem aja loh dari tadi!" Rangga menatap Nami. Benar kata Reza, Nami tak bersuara sama sekali. Padahal dia tadi semangat menyetujui ide Lara untuk naik ini. Tak mungkin dia takut. Rangga tau dia.
"Bahkan gengs tadi dia tutup mata." Sambung Lara."Kenapa Mi?" Tanya Rangga.
"Gapapa." Jawab Nami.
"Aduhhh cewek bangettt jawabannya." Reza berseru, sedikit menyindir.
"Tau lu Mi Yaallah. Lu kenapa?"
"Aku tu, mmmm... kebelet pengen ke wc!" Nami menjawab malu malu.
"HAHAHA.. pantes tampang tersiksa gitu!" Lara tertawa ngakak membuat bergoyang goyang tempat yang ia duduki.
"Diem ah kalian ngetawain aku mulu! Bisa di berhentiin bentar ga sih ini permainan? Bentar aja." Tanya Nami polos. Lara kini tertawa lagi, juga Reza.
"Bentar lagi Mi." Jawab Rangga yang tengah menahan tawa."Ish kalian ngetawain aku? Jahad pakai 'd'." Nami memanyuntak bibirnya tanda merajuk--meniru perbuatan yang sering Lara lakukan.
"Eh! Nami jadi alay gengs! HAHAHAHAHAHA!"
"Iihh.... kebeletttt!!!!!" Setelah mengatakan itu. Akhirnya bianglala berhenti. Permainan berakhir, Nami turun tergesa, membuat Rangga yang tadi bisa menahan tawa, kini tertawa renyah. Gara gara melihat Nami yang berlari sambil menyebut "alhamdulillah" berulang kali."Diam diam kebelet tu anak."
***Sisa hari mereka menyenangkan. Main ke DUFAN hingga pukul 5.32 sore. Mereka ke DUFAN dengan mobil Rangga. Oleh karna fakta itulah, Rangga akan mengantarkan sahabat sahabatnya itu kembali ke rumah masing masing. Ia merasa seperti supir. Namun ini menyenangkan.
"Bye semuaaa! Thanks ya! Gue duluan." Ucap Reza yang pertama kali turun dari "angkot" nya Reza.
"Nih mang! Dua rebu." Ucapnya kepada Rangga sambil memberikan selembar uang dua ribu rupiah.
"Ck! Ga kurang itu mas!" Balas Rangga dengan sedikit senyuman.
"Ah! Jijik gue liat lu senyum kaga jadi. BYE!"
"Rugi lima rebu gue."Hal yang sama juga di lakukan Lara.
"Dah Mi aku duluan! Kalau Rangga anggap aja ga ada, ga usah di dadahin! Diakan supir kita. Bye!" Ucap Lara dan melenggang turun.
"Gue merasa teraniaya."
"HAHAHAHHA" Nami tertawa di samping Rangga yang memasang tampang teraniaya.Selanjutnya Nami.
"Kalau lu ga bayar! Ga boleh turun!"
"HAHAH siap nga! Nih aku bayar pake info! Hati hati." Nami memberikan sebuah amplop k3pada Rangga. Rangga ingin membukanya, namun di cegah Nami."Pulang dulu, ntar kamu syok bacanya. Manatauan itu surat yang berisi tentang penyerahan hak asuh para semut peliharaan aku." Jelas Nami dengan tawa.
"Okelah. Gue pulang. Tapi, gue harap ini berisi cek limabelasrebu." Nami tertawa lagi menanggapi. Mobil Rangga keluar dari pekarangan rumah Nami.***
"Trurrrttt" handphone Nami berbunyi saat ia ingin merebahkan badannya.
Tertera nama "Thomas" disana. Langsung di angkatnya dan bicara.
"Maaf nomor yang anda tuju sedang berbahagia. Cobalah esok hari. Terimakasih."
"Tuttt." Nami menyudahi telponnya.***
Maapkan kalau typo ya:)
Aku bakal update setiap hari sabtu atau minggu (insyaallah).
Makasih udah baca:)Salam Tecamut-amikanda-

KAMU SEDANG MEMBACA
Nami✔
Teen FictionInti cerita ini adalah tentang Nami. Tentang perjalanan menemukan jati diri. Tentang melody menemukan impian hati. Nami si gadis baik hati, egois, labil, dan penyayang. Bersama sahabatnya akan menyajikan sebuah pertunjukan hebat yang diciptakan seme...