(12) : Benarkah?

79 18 0
                                    

Ada suatu waktu disaat kita memang harus mengabaikan. Namun, ada juga dilain waktu kita harus turun tangan.

***

Selamat membaca kisah Nami.
Cerita hadiah semesta.

__________

Siapa yang sudah menabrak bahu Nami tadi?

Pria itu memakai jaket hitam dan menggunakan topi yang menutup bagian mukanya hingga Nami tak dapat mengenali si pelaku.

"Kamu siapa?" Tak ada jawaban. Pria itu langsung pergi.

Tak bertanggu jawab. Sudahlah, Nami malas memperpanjang. Nanti kaya cerita cerita di novel lagi. Awalnya tabrakan jadi lop lop eww!! Nami tak mau. Yang penting ia sudah mengatakan sorry tadi.

Tapi, pria itu juga seperti seorang pembunuh! Tapi lagi..

"Bodo ah."

Nami meletakan tasnya di bangku yang belum ada penghuni. Dibarisan kedua bagian tengah. Lalu duduk manis menunggu wali kelasnya datang.

***

Nami sudah kembali ke rumah. Ia lelah. Sehari tadi memang tak ada pelajaran. Tapi mampu membuat lelah.

Orang orang selalu membaca buku.

Dan Nami?? Ya baca buku lah biar ga terlalu berbeda dengan penghuni kelas.

Ada yang megang hp. Tapi masih bersangkutan dengan pelajaran.

Eh itu bagian bangku depan Nami ya dan juga sejajaran sama bangku Nami! Tak tau yang dibelakang apa yang mereka lakukan. Nami duduk di nomor dua. Tak menoleh sedikitpun kebarisan tiga dan empat. Ribet.

"Gimana hari ini Mi?" Oma masuk kekamar Nami yang.. berantakan.

"Nyebelin." Ujar Nami pelan namu tak dapat didengar oma. Insyaallah.

"Astagfirullah kok gini amat kamar nya hahaha."

Tuh kan ga kedengeran alhamdulillah. Tapi ada hal yang lebih mengejutkan.

Pemandangan kaus kaki berada di lantai bersebelahan dengan tas. Jam tangan terbuang percuma di atas kasur dengan tidak indahnya. Seprai kasur yang sudah berantakan. Bantal berjatuhan. Baju yang Nami gunakan tidak rapi lagi. Sungguh pemandangan yang sangat menyejukan mata.

"Perempuan itu harus rapi uni." Sambung Oma Nami sembari memungut kaus kaki dan tas.

Beliau meletakan tas Nami ke gantungan tas. Kaus kaki ketempat kain kotor. Baru sehari udah nauzubillah baunya. Memungut bantal yang jatuh tergeletak di lantai tak berdaya. Mengambil jam dan meletakannya ke box berisi koleksi jam jam Nami.

Nami masih malas malasan di kasur.

"Kalau rapiin sepreinya udah bisa belum?" Oma berkata sambil tersenyum.

"Insyaallah omaaa." Jawab Nami bersemangat lalu bangkit dari tidurannya.

"Oma tunggu di luar aja ya."

"Kamu ngusir oma?"

"Eh.. bukan gitu tap.."

"Hahah iya iya Oma peka kok. Oma tunggu diruang makan ya sayang."

Nami mengangguk.

"Nanti cerita ya.. disekolah ketemu cowok ganteng atau enggak." Ucap oma sembari terkekeh dan keluar dari kamar Nami lalu menutup pintu kamar tersebut.

Nami melihat kasurnya prihatin.

"Ada yang jago main basket ga? Dingin gitu? Atau cuek gitu cowoknya? Putih putih ga? Nanti cerita ke oma ya. Barangkali ada yang mau mengisi hari kosong oma sebagai opa kamu." Tiba tiba oma kembali sembari menampakan senyum ala alanya

Kok oma ngeselin? Ga sadar umur banget yaallah oma akuu

***

Dengan perjuangan lama selama empat puluh delapan menit. Akhirnya seprei itu dapat terpasang di kasur Nami.

Keringat bercucuran di kening Nami. Nami tampak seperti orang yang baru selesai berlari sejauh 2KM. Sungguh terlalu!

"Berat badan aku turun lima kilo deh ini kaya nya oma!!" Nami berkata sambil mengambil posisi di meja makan.

"Lah kok gitu?" Oma mengernyitkan dahi bingung.

"Harusnya masang alas kasur jadi perlombaan yang di lombakan di ajang ASEAN GAMES atau SEA GAMES. Masang alas kasur sungguh menguras tenaga oma!!" Oma tertawa. Nami melap peluh yang ada dileher dan dahinya.

Sambil mengambil nasi dan menarunya di piring Nami, oma berkata, "kalau ada, pasti oma yang dapat mendali emas."

Lalu oma mengambil lauk untuk Nami dan memberikanya pada Nami.

"Makasih oma. Emang secepat apa oma masang alas kasur?"

"Lebih cepat dari cahaya."

"Uhuk uhuk." Nami yang tengah menyuap Nasi langsung tersedak.

Oma tertawa, "minum dulu."

Akhirnya mereka makan tanpa obrolan. Hingga suapan terakhir barulah oma berbicara.

"Gimana cowok cowok di sekolah kamu."

"UHUK UHUK" Dan lagi. Oma berhasil membuat Nami keselek.

"Minum dulu."

***

"Trrrtt.. trrrtttt.. ttrrrttt.." Telfon rumah berbunyi. Nami yang kebetulan tengah berada di ruang tengah langsung mengangkat telfon itu.

"Halo."

"..........."

".........."

Seketika telefon itu terlepas dari tangan Nami.

Setetes air mata jatuh dari mata indah Nami. Jatuhnya air mata bersamaan dengan kaki Nami yang melemah. Nami terduduk. Terisak.

"HAAAAAAA!!!!"

***

Nahh kira kira Nami kenapa tuh?

Terimakasih sudah membaca!!
Semoga sukaaa yaaa kak..
Nantikann terus lanjutan cerita Namii
Tolonggg banget tinggalin jejak ya kak hehehe.. makasih.
Kritik dan saran sangat dibutuhkan.

Follow ig @amandaanamii ( huruf i di akhirnya ada dua.)

Salam tecamut
Amikanda:*

Nami✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang