(18) : Kegilaan

84 18 2
                                    

Karna kita percaya bahwa perjuangan tak akan menjadi sia sia.

_________

Bel pertanda istirahat sudah berbunyi. Nami sudah berada di kantin sejak lima menit yang lalu bersama enam sahabatnya. Eh salah masih ber lima. Dilla sedang gencarnya di pojok kantin menggoda aa' Rangganya yang super duper dingin dan sejak tadi udah nunjukin gerak gerik resah.

"Dilla ga sadar ya dia dicuekin?" Nami takjub menatap gerak gerik Dilla yang jelas pantang menyerah untuk menjadi pawang hatinya aa' Rangga yang beku.

"Dia sadar tapi pura pura ngga nyadar." Sahut Citra. Nami mengangguk.

"Sumpah bukan teman Ipa!" Reva berkata penuh semangat.

"Eh? Bukannya Dilla sekelas dan sebangku ya ama Repa?" Jawab Azizah dengan tampang polosnya.

Dinda mengangguk setuju.

"Naila pesan bakso dulu ya." Tiba tiba Naila berdiri dan pergi ke stand bakso untuk memesan tujuh mangkok bakso.

"Ywllah gini amat punya temen!!! Sebangku bukan berarti temenan kan?" Jawab Reva dengan wajah frustasi.

"Tapi kita sering main sama sama kan? Masa bukan temen si namanya?" Sahut Dinda mendukung Azizah.

"HAHAHHAA mampus Revaaaaa! Sikat Dinn Aji!!!" Citra mengompori sedangkan Nami hanya tertawa menatap kasihan temannya ini.

"Apaan si Citra?! Minyak tanah!"

"HAHAHHA"

"Ywllah gini amat Aji punya temen! Citra itu manusia Revaaa!" Azizah juga mulai berkata dengan frustasi.

"Apa dosa Ipa yaallah sampe punya temen kek gini?"

"Mungkin Reva sering buang sampah sembarangan?" Sahut Dinda.

"Atau Reva suka melawan sama orang tua? Astagfirullah!" Timpal Azizah.

"Ah mungkin gara gara Reva nyianyiain Ketos yang ngejar dia, jadi mungkin itu terhitung dosa?" Ujar Citra dan mengeraskan serta menekan kata Ketos. Sebab Andra si Ketos juga sedang berada di kantin. Merasa ia di panggil, Andra pun menolehkan kepalanya ke arah meja Nami dkk.

"Ga boleh gitu ih! Kasian Reva makin kaya lidi entar." Nami akhirnya menanggapi.

Baru mulut Reva ingin membuka dan siap menyerocos, Nami dkk diselamatkan dengan Naila yang bak pahlawan membawa tujuh mangkok bakso.

"WOY DILLA MAKAN GA?! GANGGU ANAK ORANG MULU" Reva berteriak kencang mengalihkan aktivitas semua orang di kantin termasuk Dilla, aa' Rangga, dan Andra yang tersenyum.

Serentak Nami dkk yang ada di meja menutup muka. "Bukan temen gua." Ucap Citra.

Dengan malu dan ogah ogahan akhirnya Dilla kembali ke meja.

"Dadadah aa' Rangga." Dilla melambaikan tangannya dan berjalan menuju meja teman temannya.

"Malu maluin banget jadi urang." Setibanya di meja Dilla langsung mengejek Reva.

"Biasanya dia juga gitu."

"Udah udah makan yu!"

***

Saat Dilla berada di meja Rangga dkk.

"Hai aa' Rangga!" Sapa Dilla pada Rangga dengan manisnya. Semua teman Rangga yang tadinya fokus ke hp akhirnya mengalihkan pandangan kepada Dilla.

"Sok manis lo! Biasanya juga bar bar." Sahut Habil yang merupakan salah satu teman Rangga.

"Apaan si lo?! Eh aa Rangga makan apa? Dilla boleh minta gak?"

"Gak." Jawab Rangga singkat, padat, tepat.

"Yah kok aa gitu sih?" Sahut Dilla dengan tampang yang mengenaskan.

"Tampang kucing kecekek on." Teriak Yozi.

"Heh?! Apaan sih situ? Ngiri aja!" Jiwa bar bar Dilla mulai keluar.

"Pergi." Ujar Rangga.

"Eh? Aa ngusir Dilla?" Jawab Dilla.

"Iya."

"Dilla ga mau." Dilla menjawab dengan riang dan mengambil duduk di depan Rangga dan memerhatikan setiap inci wajah Rangga dengan bertupang dagu.

Rangga menatap Dilla dengan risi.

Lalu barulah menggema suara Reva yang membuat Dilla malu.

"Iih gannggu aja! Malu maluin!!!!"
"Eh aa Rangga Dilla pergi dulu ya. Si rempong udah marah tuh."

"Sana jauh jauh lu Dila."

"L DINAMA DILLA ADA DUA CHALID!!!!"

"Dilla pergi dulu ya Rangga."
"Ddadadaddah aa' Rangga." Dilla melambaikan tangan dan berjalan menuju meja teman temannya yang tentunya diabaikan Rangga. Teman teman Rangga ingin rasanya sujud syukur saat itu juga karna Dilla sang manusia bar bar yang ngejar Rangga sudah pergi.

Jahat memang.

***
Terimakasih sudah bacaaa!!
Jangan lupa tinggalkan jejak!
Kritik dan saran sangat dibutuhkan:)

Nami✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang