Maap kalo typo yakk♡
Happy reading__________
Karna hidup tak lengkap tanpa ujian yang menguatkan.
__________
"Ma.. aku harus ke Jakarta. Aku gak bisa diam aja disini dan bertindak seolah olah aku ga tau apa apa. Aku khawatir ma. Dia pasti kesakitan banget." Di sore hari Nami berbincang dengan mamanya tentang keputusan yang rumit. Ia berbicara dengan mamanya dengan air mata yang sudah mulai tumpah. Katakan Nami cengeng, karna ia memang begitu. Mamanya menghela napas.
"Ninggalin oma lagi? Oma keliatannya emang baik baik aja sayang di depan kamu. Kondisi beliau masi belum stabil." Mamanya berujar sambil mengusap punggung Nami.
"Mau bikin penyesalan besar?" Nami makin terisak."Bawa aja oma ke Jakarta. Biar dia dapat perawatan yang lebih baik."
"Perawatan terbaik oma adalah berbahagia dengan keluarganya di kampung halaman." Ucap mama. Nami makin terisak. Tak mingkin ia meninggalkan omanya.
Tapi kondisi Lara sedang tidak baik baik saja. Sahabatnya itu mengalami kecelakaan. Mengalami kerusakan pada matanya. Mengapa Nami bilang ia tau betapa sakitnya itu? Karna mata Nami pernah mengalami kerusakan. Sakit. Walau tidak parah itu cukup menyakitkan.
Apalagi yang dirasakan oleh Lara. Matanya tertusuk bagian pada mobil yang ia tabrak. Nami tak bisa membayangkan betapa sakitnya itu.
Ia ingin menemani Lara melewati masa sulitnya, tapi Oma? Ia tak ingin meninggalkan oma. Oma membutuhkannya. Ia harus membahagiakan oma.
"Kalau kondisi oma stabil, kita ke Jakarta sama sama ya ma? Jenguk Lara, dia pasti kesakitan banget sekarang." Mamanya tersenyum.
"Tentu sayang." Ucapnya lalu memeluk Nami.
"Oma mana Ma?"
"Ga tau. Mungkin lagi di taman belakang."
Lalu mereka melanjutkan acara peluk pelukannya.
***
Nami sudah kembali ke kamarnya. Ia tengah menanyakan kondisi terbaru Lara. Semua stabil tak ada yang perlu di cemaskan.
Nami meletakan hp nya. Lalu ia menyusul oma di taman belakang.
"Oma ngapain?" Ujar Nami sembari duduk di sebelah oma. Oma menoleh, tersenyum.
"Mandang langit sore. Indah ya?" Ucap oma.
"Iya. Banget malah oma. Aku suka banget langit sore. Menenangkan." Balas Nami pada oma. Oma tersenyum. Beliau menghela napas dan meminum teh yang ada di meja sebelahnya.
"Tapi sayang ya oma. Moment indah kaya senja ini cuma bisa dinikmati sebentar. Harusnya senja itu lama, biar orang puas nikmatin keindahan langit. Tapi, kalau manusia selalu menikmati mereka pasti bakal lalai. Mungkin karna itu senja di ciptakan sementara oleh allah sama kaya pelangi."
Nami bercerita sebari menatap langit senja. Ia tersenyum. Ada kebahagiaan sendiri saat ia menatap langit senja. Seperti ketenangan menghampirinya. Ketenangan sebelum adanya gelap malam.
"Iya mi. Allah gak pernah salah nata alam semesta. Semua harus kita syukuri." Oma membalas sambil tersenyum. Nami membalas dengan senyum juga.
Perlahan Nami sandarkan kepalanya ke bahu oma. Auto nyaman.
"Aku suka dekat oma. Nenangin." Ucapnya sambil memejamkan mata.
"Semoga kita bisa kaya gini lebih lama ya mi." Balas oma tiba tiba.
Nami terkejut dan menatap heran pada oma. Oma tersenyum.
Ternyata mama Nami juga mendengar obrolan mereka. Maksud oma apa?!
Rasa takut kini mulai menggerogoti aliran darah Nami. Ia tak mau mengerti ucapan oma. Oma harus selalu bersamanya!
***
Terimakasih sudah membaca.
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Kritik dan saran sangat di butuhkan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Nami✔
Teen FictionInti cerita ini adalah tentang Nami. Tentang perjalanan menemukan jati diri. Tentang melody menemukan impian hati. Nami si gadis baik hati, egois, labil, dan penyayang. Bersama sahabatnya akan menyajikan sebuah pertunjukan hebat yang diciptakan seme...