Jangan tunggu waktu yang tepat. Nanti takutnya malah terlambat. Sampaikan jika waktu memberi kesempatan untuk mengutarakan.
________________
Malam itu bintang dilangit Padang menyapa Nami ramah. Suasana nyaman sungguh kental Nami rasakan. Apalgi kini ia tengah berada disebuah rumah besar yang dikelilingi pepohonan hijau. Lingkup rumah Oma Nami jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
"Apa aku harus minta maaf ya sama oma? Tapi aku malu. Kenapa ego ku harus semengerikan ini sih? Arght!" Nami bergumam kesal. Ia tau ia harus minta maaf, tapi ia malu untuk mengutarakannya. Hati kecilnya berkata tunggu saja waktu yang tepat. Tapi Nami tak ingin menunggu waktu yang tepat! Nami takut nanti semua malah terlambat.
"Dasar abang lucknat! Udah tau oma gitu, kerjaannya masih aja jalan jalan ga tentu! Kan bikin aku makin nyesal ih sebel!" Gerutu Nami kini dengan menghentakan kaki. Tak terasa, ternyata pintu kamarnya telah terbuka dan di sana ada.. ABANG?!
"Ngomong apa barusan?" Deg. Nami menelan air ludahnya susah payah.
"Abang ga denger?" Ucap Nami dengan mata menyelidik tapi penuh ketakutan. Abangnya menatap Nami datar.
"Denger." Jawabnya dingin. Mampus Nami, didinginin nih kayanya sampe tiga hari.
Ah iya! Nami memiliki abang bernama Dev. Jika ia marah, ia hanya akan mengabaikan Nami selama tiga hari. Ya hanya tiga hari. Kalau lebih ia takut amal ibadahnya kelak tak di terima. Wkwk.
"Hehe maap bang! Salah abang napa suka main main keluyuran! Sampai malam lagi aku kan jadinya ma--"
"Lo ditunggu oma sama mama dibawah. Makan malam udah siap." Abang Nami menikung kalimat Nami dengan sangat tajam. Menyebalkan. Setelah mengatakan itu, ia keluar dan menutup pintu kamar Nami. Untung dengan lemah lembut ga kaya biasanya. Main dorong pintu keras keras ga tau kasih sayang.
"Itu abang PMS kali ya? Gitu aja ngambek."
"Dek! Udah di tungguin!" Dan dengan keterkejutan yang hqq. Nami melihat kepala abangnya menatap kearahnya dari pintu kamar yang masih terbuka.
MAMPUS NAPA DIA DATANG GA DIUNDANG PERGI TIBA TIBA SIH?!
***
Makan malam berjalan hangat. Namun abang Nami sepertinya masih marah. Nami mah bodo amat ntar juga baik sendiri.
Banyak cerita cerita yang Nami sampaikan. Dari teman teman dan sahabatnya di Jakarta sampai konser manggung cafenya yang memiliki banyak penggemar. Nami menceritakan bagaimana ia merasa seperti aktris yang memiliki banyak fans.
Abang Nami saat mendengar itu malah berdecak dan mengejek Nami.
"Dev" tegur oma.
Lalu abangnya cuma cengar cengir ga nentu.
Oma juga menceritakan banyak hal. Yang diam disini hanyalah mama dan abangnya.
Karakter abangnya itu merupakan turunan papa. Dingin. Nyebelin. Tapi juga kadang suka usil.
Nami kembali kekamar saat jam menunjukan pukul setengah sembilan malam. Setelah nonton acara favorit oma ditelevisi dan mengantar oma kekamar untuk tidur.
"Selamat tidur ya nak." Ucap oma sebelum ia benar benar terlelap.
Nami terharu. Bisa bisanya ia mengabaikan oma yang begitu mencintainya hanya karna sebuah obsesi?
***
Terimakasih sudah membaca cerita ini. Semoga suka dan terus nungguin ya. Wkwk maap aku suka nyuruh kalian nunggu lama bangett pdhl aku tau klw nunggu itu ga enak:v tp mengertilah penantian klian ga kan sia sia.. dih dih apaan coba aku?!
Maaf kalau typo atau ada yg ga sesuai penulisannya. Kritik dan saran sungguh sangat aku butuhkan.
Tinggalin jejak ya:)
Salam Tecamut Amikanda:*

KAMU SEDANG MEMBACA
Nami✔
Teen FictionInti cerita ini adalah tentang Nami. Tentang perjalanan menemukan jati diri. Tentang melody menemukan impian hati. Nami si gadis baik hati, egois, labil, dan penyayang. Bersama sahabatnya akan menyajikan sebuah pertunjukan hebat yang diciptakan seme...