Love is not about how much you can say "I love you",
but how much you can prove that it's true.
-----
Mereka bertemu Yefta di coffee shop, dan entah bagaimana ceritanya – ya mungkin Ella sudah mengirimkan pesan via whatsapp terlebih dahulu ke Yefta – begitu mereka sampai, Yefta langsung mengangsurkan cup berisi kopi, ke arah Ella.
"Caramel Latte, hot, coffeenya diganti jadi yang Sumatra, extra shot, non fat, tall size." Kata Yefta ketika mengangsurkannya ke Ella, yang dibalas dengan anggukan mantap dari wanita itu, dan jempol yang diangkat, sebelum dia menerima cup nya.
"Kok gue enggak?" tanya Miko protes.
"Lah lo gak nitip." Kata Yefta, tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Lo gak nanya?" kata Miko, masih tidak mau kalah.
"Ella juga gak gue tanyain. Dia yang nanya dulu gue bakal lewat Starbucks apa enggak, jam 8 tadi. Yaudah, karna gue lewat, gue beli." Kata Yefta santai. Miko hanya cemberut, sementara Ella sudah berjalan di depan mereka, mengarah ke tangga.
Karena ini hanya bangunan dua lantai, memang tidak ada lift di gedung ini. Dan kantor 100Durians ada di lantai 2, bersamaan dengan si co-working space. Di bawah ini sebenarnya juga bagian dari co-working space, tapi lebih ke medium area yang tertutup, dan bisa dipakai untuk menampung sekitar 20 sampai 30 orang, di bagian agak belakang. Depannya, memang coffee shop mini tempat tadi Yefta menunggu.
Ella sepertinya tidak mendengar mereka, karena selain agak jauh, Yefta juga berbisik kepada Miko. Yang membuat Miko hampir kelewatan satu anak tangga.
"Gue ralat Ko. Kayaknya kalau nunggu lo make a move ke Ella, kelamaan. Gue udah mulai dari sekarang ya."
Miko beneran hampir skip satu anak tangga, karena sibuk melotot ke arah Yefta yang barusan berkata demikian.
"Gak ada, Yef!"
"Ada! Lo lama banget sih, kagak ada progress!" kata Yefta sambil mempercepat langkahnya dan menyusul Ella.
Dan seolah itu belum cukup buruk – ketika Miko sampai di atas dan terus berjalan ke ruangan yang di ujung, pintu membuka – dan Miko melihat Ella yang terkejut, dan bahkan sedikit memekik girang.
"NO WAY! PETE!"
"MARCELLA LOVE!"
Dan di depan mata Miko, dia melihat Ella berpelukan erat sekali dengan seorang pria bule bermata biru yang cakepnya... ya, gausah dibandingin sama Miko deh, udah pasti kalah juga.
Great. Really great.
Kalau kemarin-kemarin Miko sempat merasa senang karena berhasil bikin Ella cemburu ke Eve dan juga Nada, maka sekarang, rasa senang itu sudah hilang seluruhnya.
Memanglah kesombongan itu, seberapa kecilpun kadarnya, akan langsung membawamu kepada kehancuran, Mikola. Mohon kau camkan baik-baik, agar besok-besok kau tidak lagi berani-berani merasa seperti berada di atas angin.
= MAUKA MAKAI =
Ella benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan Pete.
Dahulu, di awal dia kerja dengan Clement, dia sebenarnya sedikit bersaing dengan Pete. Peter ini, bisa dibilang bawaan Clement dari jaman dia benar-benar memulai karir di dunia VC. Anak buah kesayangan Clement juga, dan Pete sendiri agak mengidolakan Clement. Dan, ketika Clement menyukai pekerjaan Ella, Pete sempat merasa Ella adalah saingannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mauka & Makai
RomanceMauka & Makai (adv.): Hawaiian language, have meaning for the context of direction. Mauka means "on the mountain side of the road" and Makai means "towards the ocean". - Seperti judulnya yang memiliki arti sangat bertolak belakang, Marcella dan Mik...
