Bagian Dua Puluh Empat

3.1K 389 15
                                        

You'd be surprise how much you can have in common with someone completely different from you.

-----

"Emang Mbak. Aku juga bilang, ga ada bedanya dia masih di Amrik sama udah pulang."

Ella baru saja kembali ke ruang tamu dari kamarnya, dan kalimat yang pertama dia dengar dari mulut mama, adalah itu.

Tadi, begitu nyampe rumah dan turun dari mobil, mama sudah menunggu di halaman. Dia memeluk Ella cukup lama, tapi terlihat jelas dia lebih excited ngeliat mamanya Miko. Mereka langsung ngobrol padahal belum masuk ke rumah; sementara Ella dan Miko menurunkan barang-barang dari bagasi. Ella kemudian pergi ke kamarnya sebentar, untuk memasukkan tasnya, dan sempat tiduran dulu di kasur – melepas kangen – selama lima menitan, sebelum kembali keluar.

Sementara, Miko ternyata masih ada di luar rumah, dan bukannya duduk di ruang tamu kayak mama dan tante Nana.

"Ngomongin aku?" tanya Ella, yang sudah mengganti bajunya dengan kaos dan celana pendek. Mama menoleh.

"Gak. Ngomongin anak tetangga yang walaupun udah pulang dari luar negeri, tapi baru sebulan kemudian pulang ke rumahnya." Kata Mama, membuat Ella cemberut.

"Mama ih! Kan aku udah bilang aku ada-"

"Anak tetangga kok, La." Kata Mama lagi, sementara Ella makin cemberut, dan memukul bahu mama pelan. Dia memang masih berdiri di sebelah sofa tempat mama dan tante Nana duduk.

Sementara ibu-ibu ini hanya tertawa.

"Ledek aja terus anaknya, ledeeek!" kata Ella. Mama hanya tersenyum.

"Tau gak? Mama sama tante Nana cuma bisa ngeledekin, padahal maunya nikahin."

"Bodo amat, Ma!" kata Ella, dan dengan cepat memutar bola matanya, sambil berjalan ke dapur. Lagi-lagi mama dan tante Nana tertawa.

SIAL! Ella jadi inget kata-kata Bella kapan dulu.

"Sana, ajak Miko masuk dong. Makan atau apa gitu, La."

Ella masih bisa mendengar Mama, tapi dia masih terus berjalan ke dapur. Dia menarik dua gelas, meletakkannya di atas meja, kemudian mengambil kotak orange juice dari kulkas bersamaan dengan wadah ice cube. Memasukkan beberapa ice cube ke gelas, Ella lalu menuangkan orange juice, dan memegang gelasnya sambil berjalan keluar, dan melewati mama dan tante Nana di ruang tengah. Dia sudah melihat cangkir berisi teh hangat di meja tadi, yang pastinya punya mama dan tante Nana. Makanya dia tidak membuatkan mereka.

Ini memang untuk dia dan Miko.

"Wah udah cocok." Kata mama, dan Ella menoleh sedikit.

"Cocok apa? Aku cuma bawain minum."

Mama tidak menjawab, tapi dia dan tante Nana tersenyum penuh arti. Ella hanya menggeleng sambil terus berjalan.

Miko memang masih duduk di luar, di salah satu dari dua kursi rotan yang emang ada di luar. Ella duduk di kursi satunya, yang memang posisinya berdekatan, dan mengulurkan satu gelas ke Miko.

"Kamu gak masuk?"

"Ntar aja. Eh makasih" Kata Miko, menerima gelasnya dari Ella.

Perjalanan mereka memang agak lama, dan Ella terus-terusan merasa gak enak. Ya apalagi kalau bukan karena dia yang telat bangun? Makanya, mereka baru sampai sekitar jam 11, padahal jalan dari apartemen sekitar setengah 7, dan pun tidak lama berhenti di rumah Miko di Bogor.

Tapi, itu pun mereka tetap menghabiskan sekitar 4 jam di jalan. Ya well, mereka berhenti sebentar sih di rest area, karena kasian juga Miko nyetir terus. Sekalian isi bahan bakar mobil, sekalian berhenti dulu beberapa menit. Ella udah bilang kalau dia gak keberatan tukeran buat nyetir, tapi Miko gak mau.

Mauka & MakaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang