🐾 9

18K 1.3K 92
                                        

- Rembulan -

🌙🌙🌙

Hari ini aku dan Savita diajak makan di luar oleh Sadewa. Tentu dia tidak sendirian. Ada Arjuna juga.

Dan jangan salah sangka bahwa Sadewa mengajak makan di suatu tempat yang wow. Atau kafe mungkin? No! Dan aku malah ngeri kalau dia mengajak ke tempat seperti itu. Aku sangat lega saat dia menghentikan mobilnya di parkira kedai rawon. Rawon langgananku juga!

"Maaf ya aku cuma nraktir di warung rawon." Kata Sadewa setelah kami dapat meja dan memesan makanan. "Gajiku nggak bisa buat nongkrong di kafe. Mobil juga minjem Papa."

Aku langsung manyun. "Kamu ini niat ngajakin makan atau berantem sih? Heran! Aku bukan cewek matre ya!"

Sadewa tersenyum. "Maaf. Maaf. Ya...kan pastinya karena aku masih bujang jadi kadang banyak yang ngira duitku banyak."

"Curhat nih?" Sindirku. "Pernah ketemu cewek matre ya?"

"Nggak sih." Sadewa menggeleng. "Kalau aku punya tabungan ya buat persiapan nikah. Hehehe..."

"Situ ngode melamar aku?" Sahutku tajam. Apa coba maksudnya.

Sadewa kembali tertawa sambil menggeleng. "Maaf. Maaf. Sensi amat ya...eh salahku ya? Maaf. Aku nraktir ini juga buat minta maaf yang waktu itu."

"Hem."

"Nggak dimaafin?"

"Iya. Aku maafin."

"Kok kayak nggak ikhlas gitu?"

"Banyak omong deh!"

Savita dan Arjuna yang dari tadi berusaha menahan senyum kali ini tidak mau repot lagi menyembunyikannya.

"Kemarinnya Mas Dewa yang sensi, sekarang Bulan." Celetuk Savita.

"Habisnya dia sih...astaghfirullahal adhiim...padahal waktu sama Bianca manis lho." Gerutuku.

Senyum Arjuna semakin lebar. "Waktu itu jadi ajakin Bianca ke rumah Bulan?"

Mendengar itu, Savita langsung memandangku dan Sadewa bergantian.

Sadewa mengangguk. "Iya. Rewel banget sih. Nggak mau lepas itu Papinya."

"Terus...masih rewel pas di rumahmu?" Tanya Savita.

"Enggak." Aku menggeleng. "Begitu dikasih Mungil langsung anteng. Eh, ajakin lagi dong? Bunda juga pengen ketemu."

"Insya Allah deh kalau ada waktu." Sadewa mengangguk.

"Haduuuh...itu anak lucu dan pinter banget. Gemeeesh!" Aku geregetan sendiri.

Tak lama kemudian nasi rawon dan minuman mereka datang.

"Yuk makan." Ujar Sadewa. "Tenang aja, ini enak kok."

Aku tersenyum. "Tempat ini juga langgananku kok."

Sadewa tampak lega sekali. Eh lho? Aneh!

"Lagian...makan dimana juga itu rejeki. Masa protes? Selama halal, kenapa enggak?" Sambungku.

Sadewa tersenyum. Manis juga. Eh? "Aku tahu sih, minta maaf bisa diucapkan aja tapi karena ada sedikit rejeki...jadi ya aku traktir juga." Katanya tulus. "Aku minta maaf ya udah sinis? Baru kali ini aku sampai dibilang nyinyir."

Arjuna mengangguk. "Mas Dewa tuh baik kok, Lan."

Aku melotot pada Arjuna yang langsung menunduk. "Kamu nih akhir-akhir ini nyambi jadi sales ya? Heran deh..."

Arjuna tersenyum, masih menunduk.

"Jadi kamu nggak mau maafin nih?" Tanya Sadewa.

Aku kembali melotot sebal. "Kalau aku nggak maafin kamu, waktu kamu datang ke rumah biarpun sama Bianca pasti udah aku usir." Jawabku tajam. "Gimana sih?!"

Sadewa & Rembulan [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang