🐾 14

17.5K 1.2K 91
                                        

- Sadewa -

🌟🌟🌟

Sepulang dari makan rawon, Papi dan Mami terus membicarakan Bulan. Telingaku sampai gatal rasanya.

"Dek, kamu dengar Mami ngomong nggak sih?" Tanya Mami kesal.

Aku menghela nafas. "Dengar, Mami. Terus aku harus bilang wow gitu?"

Mami tampak cemberut. "Kamu masih kepikiran sama Ayu-Ayu itu?" Cetusnya kesal.

"Mboten, Mami sayang. Tapi kan nggak harus Bulan juga ih." Aku jadi cemberut juga. "Apa sih, Mi, Mas Naku aja Mami tenang-tenang...kok aku repot."

"Ya sudah, terserah. Mami nggak ikut campur lagi. Kalau ada apa-apa jangan cari Mami!" Ultimatum Mami.

Haduuuh...mampus!

"Mamiii...ya nggak gitu juga ih...Mi?" Rayuku.

"Terserah!" Mami sepertinya benar-benar kesal.

"Pi?" Aku menoleh pada Papi yang dari tadi diam saja.

"Mami tuh cuma mau kamu pertimbangkan Bulan. Nggak ada salahnya kan?" Papi angkat suara. "Papa kamu aja bisa, masa kamu enggak?"

"Tapi Pi..." aduh kok jadi begini sih?

Sampai rumah Papa, tempat Papi dan Mami menginap, Mami masih tutup mulut dengan wajah masam. Membuat Papa dan Mama heran.

"Kenapa, Mbak?" Tanya Mama.

Sekarang kami tengah duduk di ruang keluarga.

"Tuh, coba tanya Papa kamu." Saran Papi malah gitu.

Haduuuh...aku kan tidak mau jadi anak durhaka tapi...

"Dek, walaupun Papi dan Mami jauh di Semarang, tapi teman Papi kan banyak." Kata Papi serius. "Papi nggak mau suudzon jadi saat Adek ingin melamar Ayu, Papi sama Mami setuju saja."

"Maksud, Papi?" Tanyaku dengan kening mengernyit.

"AKP teman dekat Ayu."

"Dia kenapa?"

"Sejak awal memang lebih berpotensi mendapatkan Ayu daripada kamu. Dia baik. Tapi yang kurang itu Ayu. Kenapa dia membiarkan dirinya terlalu dekat seperti itu. Secara akhlaq buat Papi dia mines. Tapi jodoh bukan Papi yang kuasa." Terang Papi. "Sedang Bulan, dia blak-blakan tapi dia bisa menjaga dirinya. Itu yang Papi lihat."

"Mami nggak mau batesin Adek suka sama siapa, yang menjalani nanti Adek. Tapi coba pertimbangkan Bulan. Baru kali ini lho Mami langsung suka sama anak perempuan." Kata Mami akhirnya.

Mendengar itu, aku beringsut dan duduk dekat kaki Mami. Kuraih tangannya dan kurebahkan kepalaku di pangkuan Mami.

"Jadi sama Ayu dulu saat Mami pertama ketemu nggak gitu?" Tanyaku lirih.

"Jujur ya, Dek, Mami nggak merasa suka sama Ayu. Benci juga enggak. Biasa aja walaupun Mami tahu dia suka sama kamu." Kurasakan lembut tangan Mami mengelus kepalaku. "Apa ya...hambar? Nggak klik?"

Aku mendongak. "Sama Bulan, Mami merasa klik?"

Mami tersenyum. "Belum sejauh itu. Tapi rasanya suka aja."

"Terus maunya Mami aku gimana? Aku baru patah hati lho, Mi?" Aku menghela nafas.

"Buang-buang energi aja mikirin yang belum halal!" Mami menjewer telingaku.

"Mamiii! Sakit dong, Mi!" Teriakku sambil menggosok kupingku.

Aduh...ini emak-emak kalau jewer sama nyubit sakitnya enggak ketulungan ih!

Sadewa & Rembulan [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang