- Rembulan -
🌙🌙🌙
Pagi ini aku dan Savita tengah berboncengan menuju Batu. Kami mau takziyah ke rumah keluarga angkat Arjuna. Eyangnya baru saja meninggal dunia. Tentara juga katanya eh purnawirawan ya...
Savita mengajak kesana bukan karena Arjuna saja tapi lebih karena ia juga mengenal keluarga angkat Arjuna. Pernah diajak bertemu Eyang beberapa kali juga.
Dan saat sampai di tujuan betapa terkejutnya aku mendapati Sadewa tengah duduk di lantai teras memangku seorang batita perempuan lucu yang tampak baru saja menangis sementara di sebelahnya balita laki-laki dan perempuan yang imut tengah menghibur si batita.
"Ih...mereka gemesin ya?" Komentar Savita lirih.
"Iya." Aku mengangguk.
Lalu kami berjalan menuju arah rumah.
"Assalamu'alaikum." Ucapku dan Savita.
"Wa'alaikumsalam." Balas Sadewa dengan senyum tipis. Lalu menunduk ke batita di pangkuannya. "Ayo, Adek jawab dong salamnya Tante. Biar tambah cantik."
"Aikumsayam." Jawab batita itu yang tadinya mengedip dengan mata basahnya memperhatikan kami kini menyembunyikan wajahnya di tubuh Sadewa. Anaknya kah?
Kalau tidak ingat sedang berkabung mungkin bayi itu aku toel-toel deh.
"Mas Abhi? Mbak Garin?" Tegur Sadewa pada pasangan balita yang...eh, mereka kembar ya?
"Wa'alaikumsalam." Balas yang dipanggil Abhi dan Garin serempak dengan aksen balitanya.
Mau tak mau aku tersenyum juga.
"Masuk aja, Arjuna di dalam. Maaf nggak bisa nemenin. Lagi nggak bisa gerak." Kata Sadewa.
"Nggak apa kok." Sahut Savita.
"Eh tapi kok kamu disini?" Tanyaku tercetus juga.
"Kan ini rumah Eyang aku." Jawab Sadewa datar.
Aku menatap Savita minta penjelasan.
"Lho, kamu nggak tau?" Tanya Savita balik. "Orang yang dipanggil Papa sama Juna kan memang Papanya Mas Sadewa."
"Oh. Maaf nggak tau."
Sadewa tersenyum tipis. "It's okay. Masuk aja."
Aku mengangguk dan bersama Savita masuk ke dalam.
Dan di dalam aku dibuat pusing melihat banyak wajah serupa berseliweran. Keluarga kembar?
Aku juga sempat dikenalkan dengan saudara kembar Sadewa. Nakula.
Ternyata betulan ada.
🐾🐾🐾
Dan tiga hari kemudian aku dikejutkan oleh Sadewa yang datang ke rumah setelah minta alamatku pada Arjuna. Dengan masih mengenakan PDLnya tanpa sepatu, hanya sandal. Dia tidak sendirian melainkan bersama batita waktu itu.
Dan lagi-lagi si kecil ini tampak seperti habis menangis. Heran!
"Maaf ya ngerepotin. Pawangnya dia balik hari ini jadinya rewel." Ucap Sadewa tak enak hati
Aku tak menatap Sadewa tapi mataku tertuju pada si kecil yang tengah mengelus-elus Mungil. "Pawang?" Tanyaku.
"Dia itu suka minta ikut kalau ada yang pergi. Dan dia paling dekat sama aku dan sepupuku. Nah, sepupuku dan istrinya pulang hari ini. Rewel deh. Kebetulan aku datang, ya udah aku ajak pergi aja. Dia suka kucing dan aku ingat kamu punya kucing...jadinya aku ajak kesini. Maaf ya?" Jelas Sadewa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sadewa & Rembulan [SUDAH TERBIT]
Fiksi UmumRank #01 Tentara (13/04/2019) #03 Militer (01/03/2019) #10 Abdi negara (15/09/2019) #22 Fiksi Umum (15/09/2019) #01 Kucing (19/02/2020) #39 Chicklit (22/02/2020) #28 Receh (23/02/2020) #47 Komedi (22/02/2020) Rembulan sangat suka kucing tapi hanya...
![Sadewa & Rembulan [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/171378697-64-k421728.jpg)