🐾 26

15.9K 1.2K 182
                                        

- Sadewa -

🌟🌟🌟

Pada hari minggu berikutnya aku diundang makan siang di rumah Bulan. Mungkin Bulan sudah cerita ke Bundanya. Entahlah.

Yang jelas disinilah aku sekarang. Tengah makan bersama Bulan. Apakah aku sendirian? Tidak. Kuseret Arjuna dan Dek Mehreen untuk menemaniku.

Hmm...kejam ya aku? Menyeret pengantin baru yang sedang bahagianya berdua. Masalahnya kan tidak mungkin aku mengajak Bianca atau si kembar. Emak-bapak mereka? Nanti dikira mau apa? Bundanya Bulan kan masih agak-agak...

"Nak Dewa kok ajak-ajak pengantin baru segala? Kan kasihan mereka." Komentar Tante Laras.

"Nggak apa-apa, Bun. Biar Mehreen kenal Bunda sama Yanda. Waktu tasyakuran kan cuma salaman aja." Sahut Arjuna.

"Cantik dan ganteng ya...anaknya pasti gemesin." Kata Tante Laras.

Kurasakan Bulan yang duduk di sebelahku mengusap punggungku yang sepertinya tanpa sepengetahuan orang lain. Aku spontan membelalakan mata tapi segera bersikap biasa lagi, hanya saja aku tak tahu caranya menghentikan Bulan. Aku tahu niatnya baik untuk menghiburku tapi kan bukan mahrom dan...ini nih yang mengundang setan. Jantungku jadi berdetak cepat. Semoga dia tidak menyadarinya.

Arjuna menggeleng. "Kalau kata Papa sih muka ganteng atau cantik, ditonjok juga jadi jelek." Sahut Arjuna.

"Ganteng tapi akhlaqnya nggak ada sama juga jelek, Tante." Sambung Dek Mehreen. "Saya malah curiga sama dia karena terlalu ganteng. Apa akhlaqnya sebaik wajahnya?"

Haiya...good job, Adek!

Ini namanya sekali dayung, dua pulau terlampaui. Bunda kaget dengan pernyataan Dek Mehreen dan usapan Bulan di punggungku berhenti. Sungguh, aku langsung menghembuskan nafas lega.

"Lagipula jadi orang ganteng macam dia," Dek Mehreen menunjuk suaminya. "bukannya gampang cari jodoh, Tante. Malah susah."

"Kok bisa?" Kening Tante Laras mengerut.

Dek Mehreen tersenyum. "Karena dia akan selalu bertanya apakah perempuan yang dekat dengannya dan ingin menjadi istrinya itu tulus mencintai dia karena hatinya dan Allah atau karena sekedar tertarik sama wajahnya. Dan buat perempuan di keluarga besar saya, kami malah cenderung takut atau curiga...apakah agamanya sebaik rupanya."

Love you so much, Dek Mehreen!

Tante Laras manggut-manggut sambil setengah termenung. "Tapi akhirnya direstui kan...wong Arjuna memang oke." Ia memberikan jempolnya.

Dek Mehreen tersenyum. Senyum yang buat orang lain senyuman indah tapi buatku senyum meremehkan. "Itu karena dia sudah melewati uji fit and proper test dari Papa sebelum bertemu Abi."

Spontan Tante Laras tertawa sedang yang lain tersenyum. Hanya aku dan Arjuna yang diam.

"Kayak mau jadi pejabat aja." Komentar Tante Laras.

Dek Mehreen mengangguk tanpa sungkan. "Tentu. Sebagai seorang ayah, tidak mudah untuk melewati benteng yang ada. Para ayah di keluarga saya itu semuanya galak kalau menyangkut jodoh untuk anaknya. Mas Juna saja masih digalakin Abi kok waktu awal bertemu dulu."

"Abinya Kopassus kan?" Tanya Tante Laras.

Arjuna mengangguk. "Ya. Abi Kopassus."

"Wah..." Tante Laras bereaksi wajar saat mendengar korps baret merah itu.

Arjuna tersenyum sambil menggeleng. "Bebannya justru berat, Bunda. Saya ini cuma bintara. Sersan satu. Mertua saya perwira. Letnan Kolonel. Tapi setidaknya saya lega, keluarga Papa dan Abi nggak melihat saya dari tampang. Kebanyakan orang-orang hanya melihat tampang saya, itu menyakitkan dan menyedihkan karena seolah-olah saya ini orang nggak guna yang cuma modal tampang."

Sadewa & Rembulan [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang