- Rembulan -
🌙🌙🌙
Sudah tiga bulan sejak pulang dari rumah sakit. Yang artinya empat bulan sejak peristiwa kecelaaan tersebut. Alhamdulillah sudah banyak kemajuan yang kualami.
Hanya saja aku merasa sedikit janggal dengan Sadewa. Dia seperti menjauh walaupun setiap ketemu di rumah sakit untuk kontrol dan fisioterapi tetap ramah seolah tidak ada yang terjadi. Tapi aku yakin, dia tengah menjauh.
Tapi kenapa?
"Lan?" Panggil Bunda.
Aku yang tengah santai nonton TV atau lebih tepatnya mendengarkan TV itu menoleh. "Dalem, Bunda?"
Bunda duduk di sebelahku. "Abhi kapan selesai KKNnya? Kok Mungil belum diambil?"
"Astaghfirulah!" Aku langsung menepuk kening. Harusnya adik sepupu tersayang itu sudah selesai KKN. Kok nggak ada kabar?
"Selain itu kan nggak enak sama keluarganya Sadewa. Masa sampai Mungil nggak pulang-pulang gini? Dan kamu sadar nggak sih selama ini kebutuhan Mungil ditanggung Sadewa? Mana pernah minta dia? Bunda yakin pasti ada beberapa yang sudah habis dan harus beli lagi. Belum lagi harusnya jadwal ke dokter nggak sih?"
"Astaghfirullah!" Kembali aku menepuk keningku. "Kok aku bisa lupa sih?"
"Ya Bunda maklum habis kecelakaan kan fokus kamu pecah. Bunda juga baru ingat kok. Sudah, buruan telepon Adekmu sama Sadewa."
Sama mikirin Sadewa! Ih bodoh!
"Nggeh, Bun." Aku meraih hape yang ada di sampingku dan segera menghubungi sepupuku. Dua kali. Tiga kali. Sampai lima kali gagal. "Nggak bisa dihubungi, Bun. Gagal. Nggak nyambung."
Bunda mengernyitkan kening. "Kenapa ya? Yo wes, nanti aja coba lagi. Kalau nggak bisa telepon Mama-Papanya aja. Jam segini mereka kerja."
Aku mengangguk. "Mungkin Abhi juga sibuk. Kalau sakit atau apa kan Mamanya kasih tahu." Aku ganti menghubungi Sadewa sekarang.
"Assalamu'alaikum, Rembulan." Sapa Sadewa ceria. Kok beda?
"Wa'alaikumsalam." Sahutku canggung dan hati-hati. Ini benar Sadewa kan? Bukan Nakula?
"Ada apakah adinda mencari kakanda? Adakah yang perlu kakanda bantu?" Nah, kalau model ajaib begini fix Sadewa.
"Ehmm...anu...mau..."
"Dilamar?"
"Apa sih?"
"Nikah?"
"Ngaco!" Tapi kok wajahku rasanya memerah ya?
Terdengar tawa menyebalkan khas Sadewa. "Apa? Apa?"
"Mungil apa kabar?" Tanyaku.
"What?" Seru Sadewa mengagetkanku. "Adinda hanya bertanya tentang seekor mackerel tabby cokelat bukan oranye saja? Tidak terbersit menanyakan kabar kakanda?"
"Kamu tuh nggak nyebelin, nggak bisa ta?" Sungutku.
Sadewa terkekeh di seberang. "Hati kakanda terluka dong karena yang adinda tanyakan lebih dulu itu Mungil."
"Yeee...siapa kamu?"
"Kalau calon suami, bagaimana?"
Blush!
Aaaargh! Bundaaa...maksudnya Sadewa apaan coba sampai membuatku tersipu begini?
"Bulan? Bulaaan...lagi gerhana kah kok sepi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sadewa & Rembulan [SUDAH TERBIT]
General FictionRank #01 Tentara (13/04/2019) #03 Militer (01/03/2019) #10 Abdi negara (15/09/2019) #22 Fiksi Umum (15/09/2019) #01 Kucing (19/02/2020) #39 Chicklit (22/02/2020) #28 Receh (23/02/2020) #47 Komedi (22/02/2020) Rembulan sangat suka kucing tapi hanya...
![Sadewa & Rembulan [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/171378697-64-k421728.jpg)