- Rembulan -
🌙🌙🌙
Perasaanku campur aduk saat melihat Mami Sadewa terus minta maaf setiap kali ketemu sejak masih di rumah sakit pertama di Sidoarjo sampai RST. Dr. Soepraon ini. Awalnya Papi Sadewa ingin kami dipindah ke RS. Bhayangkara Surabaya tapi atas permintaan Sadewa sendiri kami dipindah ke Soepraoen.
Aku sekeluarga juga merasa sungkan karena sejak awal sampai sekarang aku ditempatkan di ruang VIP bersebelahan dengan Sadewa. Padahal kelas tiga juga cukup. Alasannya agar mudah memantau. Apanya yang dipantau? Mau VIP atau kelas tiga, rumah sakit ya rumah sakit. Yang dinikmati apanya?
"Tante...tolong jangan begitu. Semuanya musibah." Aku tersenyum sambil mengusap tangan Mami Sadewa. "Kenapa saya harus marah? Kan bukan salah Dewa kecelakaan itu terjadi. Sadewa nggak mungkin sengaja mencelakakan saya kan?"
Tante Kartika tersenyum sendu. "Kamu memang seperti yang Tante perkirakan ya? Terima kasih walaupun tetap saja rasa bersalah ini susah hilang."
"Yang penting saya dan Dewa selamat. Itu patut disyukuri."
Ibu pejabat itu cemberut. Ya Allah jadi ingat anaknya. "Tapi kan kamu nggak bisa jalan lama. Kerjaan kamu juga gimana...maaf ya, Nak?"
Ah iya, kecelakaan ini membuatku tahu siapa orang tua Sadewa. Jauh dari perkiraanku. Jauh dari keluarganya yang di Malang. Kupikir karena kecelakaan beruntun yang kami alami sampai ada banyak polisi yang datang dan mendampingi kami. Ternyata...
"Tante, rejeki itu sudah diatur Allah. Ada yang merawat Mungil saja saya terima kasih sekali."
Mami Sadewa menatapku lekat lalu menghela nafas dalam. "Bunda kamu mana?"
"Pulang sebentar ambil baju ganti dan keperluan lain." Jawabku.
"Yanda kerja?"
"Iya."
"Maaf Sadewa belum bisa kesini. Nanti-nanti kalau sudah enakan dia datang katanya."
Aku spontan terkekeh. "Lah ya kan dia juga sakit, Tante. Ada-ada aja deh Tante ini."
Ya, sekalipun aku belum bertemu Sadewa. Hanya dapat kabar dari semua orang.
Tok! Tok! Tok!
Aku dan Tante Kartika menoleh ke arah pintu yang mulai dibuka seseorang. Kemudian masuklah sesosok tubuh yang memunggungi, seperti sedang menarik sesuatu ke dalam. Dan begitu pintu terbuka lebar, masuklah Sadewa di atas kursi roda dan...Papi atau Papanya ya?
"Adek? Papi?" Tante Kartika segera berdiri untuk menyambut orang-orang tercintanya.
Oh...Papinya a?
Kulihat wajah Sadewa serius sekali. Takut deh.
"Kkamu...bbaik-bbaik saja?" Tanya Sadewa gagap. Hah? Gagap? Gugup? Mustahil. Tapi ini...
Aku mengangguk. "Iya. Alhamdulillah." Ngilu sih...gatel juga kakiku.
Begitu kursi roda Sadewa diletakkan di pinggir brankar, aku kaget sekaget-kagetnya untuk ukuran orang sakit saat Sadewa menyentuh pergelanganku yang tertutup lengan baju dan menggenggamnya eh mencengkeram lebih tepat. Selain itu bisa kurasakan tangannya gemetar hebat.
"Terima kasih, Ya Allah, kamu selamat. Aku takut. Takut kamu..." ucapnya dengan nada bergetar.
Eh...lha kok matanya berkaca-kaca. Ini betulan Sadewa? Bukan kembarannya? Ngapusi nanti ternyata...
"Wa, kamu kenapa?" Tanyaku antara khawatir dan takut melihat Sadewa yang tidak biasanya. "Kamu Sadewa kan?" Aku mendongak memandang orangtuanya. "Om? Tante?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sadewa & Rembulan [SUDAH TERBIT]
قصص عامةRank #01 Tentara (13/04/2019) #03 Militer (01/03/2019) #10 Abdi negara (15/09/2019) #22 Fiksi Umum (15/09/2019) #01 Kucing (19/02/2020) #39 Chicklit (22/02/2020) #28 Receh (23/02/2020) #47 Komedi (22/02/2020) Rembulan sangat suka kucing tapi hanya...
![Sadewa & Rembulan [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/171378697-64-k421728.jpg)