- Rembulan -
🌙🌙🌙
Selama seminggu ini aku bingung. Bunda menyarankanku untuk shalat istikharah tapi aku takut. Takut akan jawaban Allah. Takut jika dilancarkan tapi juga takut jika tidak dilancarkan. Imanku jadi menurun...
"Apa yang kamu takuti?" Tanya Bunda.
Aku menggeleng. "Aku nggak tahu, Bun."
"Bunda lihat, Sadewa itu orang yang bersungguh-sungguh. Agamanya bagus. Apalagi? Kamu nggak siap jadi istri tentara?"
Iya kah? Rasanya bukan itu.
"Yanda bilang...selama agamanya bagus, nggak ada yang harus dipertanyakan lagi." Bunda terdiam. "Tapi...Bunda sendiri takut. Dia...terlalu tinggi. Takut suatu hari nanti..."
"Bunda nggak percaya pada Dewa?"
"Bukan nggak percaya...tapi Bunda terserah kamu. Selama kamu bahagia, Bunda juga bahagia." Bunda mengusap tanganku.
Aku mengerti ketakutan Bunda. Bunda pernah di posisiku. Dulu Bunda pernah pacaran dengan tentara juga dan ternyata tidak direstui pihak keluarga si lelaki dengan alasan tidak selevel. Mereka mengira Bunda hanya lulusan SMA, padahal saat itu Bunda kuliah tapi memang bukan kampus ternama. Lagipula, memangnya kenapa dengan lulusan SMA? Bunda terlanjur sakit hati dan minta pisah. Dan begitu Bunda wisuda, mungkin saat itu pihak si lelaki baru cerita karena kemudian mereka setuju dan berharap Bunda bisa jadi menantu secepatnya. Hanya saja selain Bunda masih sakit hati, posisi Bunda juga sudah tidak sendiri.
Saat itu Bunda sudah dikenalkan dengan Yanda. Tidak dijodohkan. Murni hanya dikenalkan tapi jodoh memang tak ada yang tahu, setahun kemudian Bunda malah menikah dengan Yanda. Dari latar belakang keluarga sama-sama menengah dan Bunda sama Yanda juga merintis segalanya bersama dari bawah.
Ah ya, yang membuatku bimbang juga...aku kesal pada Sadewa! Eh, kapan aku tidak kesal padanya ya? Hanya saja kali ini urusannya sama kucing gembul itu!
Ternyata Sadewa yang sandera si gembul! Ditambah lagi hape Abhi rusak dan lupa kasih tahu aku! Rasanya...uuurgh!
🐾🐾🐾
Kemudian sebulan berlalu. Aku belum tahu harus bagaimana. Aku juga tidak bertemu Sadewa di rumah sakit. Katanya dia mengganti jadwal kontrol dan fisioterapinya.
Apa dia menghindar? Dia tidak serius dengan lamarannya?
"Hei! Melamun aja!" Tiba-tiba terdengar suara Arjuna.
Aku menoleh kaget. "Kamu kok bisa masuk?"
Arjuna duduk di seberangku yang kebetulan tengah duduk di ruang tamu.
"Bunda dong."
"Bunda mana?"
"Kebetulan dipanggil tetangga depan."
"Oh." Aku mengangguk. "Ada apa?"
"Mau kasih ini." Arjuna memberikan undangan warna merah marun yang cantik.
"Kamu betulan jadi menikah?" Kok aku ragu ya?
Arjuna terkekeh. "Alhamdulillah. Dua minggu lagi."
"Hmm...padahal dulu sama sepupu Dewa...itu anaknya Papa kamu...kamunya takut gitu." Godaku.
Arjuna kembali terkekeh. "Mbak Ai itu punya aura yang bikin orang segan. Ditambah Papa saat itu kan Danyonku."
"Bedanya sekarang? Tentara juga kan calon mertuamu itu? Pangkatnya lebih rendah dari Papamu?"
Arjuna tersenyum. Apa karena mau menikah jadi sumringah terus? "Kopassus. Pangkatnya sih sama aja dengan Papa..."
"What? Kopassus?" Pekikku. Aku ini buta tentang pangkat tentara tapi kalau Kopassus...Siapa sih yang tidak tahu Kopassus? "Lha kok kamu yang ini berani maju?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sadewa & Rembulan [SUDAH TERBIT]
General FictionRank #01 Tentara (13/04/2019) #03 Militer (01/03/2019) #10 Abdi negara (15/09/2019) #22 Fiksi Umum (15/09/2019) #01 Kucing (19/02/2020) #39 Chicklit (22/02/2020) #28 Receh (23/02/2020) #47 Komedi (22/02/2020) Rembulan sangat suka kucing tapi hanya...
![Sadewa & Rembulan [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/171378697-64-k421728.jpg)