🐾 22

16.1K 1.2K 184
                                        

- Sadewa -

🌟🌟🌟

Pulang dari rumah Bulan sebetulnya aku merasa sedikit bersalah. Aku mengatakan maksudku dulu kepadanya bukan Bundanya. Tapi aku sudah minta izin Yandanya sehari sebelumnya.

Flashback on

Aku menghubungi Yandanya untuk meminta waktu bicara sepulang kerja. Dengan ditemani Papa, aku bertemu Om Ahmad di sebuah tempat makan yang tenang dan bisa dijadikan tempat bicara sambil makan malam.

"Bulan sepertinya kepikiran lho, Mas Dewa nggak jengukin dia lagi di rumah." Sebuah pertanyaan tersirat yang dibalut pernyataan manis.

Aku tersenyum. "Maaf, Om. Saya hanya ingin menghindari fitnah. Biasanya saya datang bersama Bianca karena Bianca ingin melihat kucing Bulan..."

"Eh iya, dia sehat? Maaf ya ngerepotin."

"Saya yang minta Mungil jangan diambil dulu." Sahutku tak enak.

"Lho? Jadi?" Ujar Om Ahmad kaget.

Aku mengangguk. "Iya, saya sengaja menghubungi Abhi melalui dokter Sena yang ternyata tetangganya. Waktu itu kebetulan Abhi sudah pulang dari Bojonegoro dan mau ambil. Awalnya keberatan karena sungkan tapi akhirnya dia mau meminjamkan sebentar lagi selagi dia sibuk ngurus kuliahnya. Abhi sudah datang ke rumah juga kok."

Om Ahmad manggut-manggut. "Owalah...Dan Bulan nggak tahu?"

Aku menggeleng. "Tidak, Om."

Om Ahmad mengangguk. "Jadi...Mas Dewa mau ngomong apa?" Tanyanya ramah.

Aku menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Aku semakin yakin saat Papa menepuk bahuku memberi dukungan. "Begini, Om, sebelumnya Saya minta maaf untuk semuanya terutama suka bikin Bulan jengkel."

Om Ahmad spontan terkekeh. "Nggak apa-apa. Nggak apa-apa. Sudah lama Bulan nggak punya teman berantem sejak...Masnya meninggal saat SMA kelas satu dan Bulan SMP kelas dua. Mereka sangat dekat."

"Innalillahi wa innailaihi roji'un." Seruku dan Papa serempak.

"Jadi dia bukan anak tunggal ya?" Tanyaku.

Om Ahmad mengangguk. "Dia tunggal karena keadaan. Kalau Abhi memang anak tunggal. Makanya sejak Masnya meninggal karena sama-sama tunggal dan tinggal sekota apalagi sepupu dari Bundanya nggak ada lagi...mereka jadi dekat. Lebih dekat dari sebelumnya. Kalau sepupu dari Om sih jauh-jauh tinggalnya. Salah satunya Semarang."

Ganti aku yang manggut-manggut. "Ehmm...begini Om, saya mau bilang kalau saya serius dengan Bulan dan ingin menikah dengannya kalau Allah mengizinkan. Jadi sebelum saya bilang ke Bulan, saya minta izin dulu ke Om."

Om Ahmad kembali manggut-manggut sambil tersenyum. "Jadi sudah berapa lama Mas Dewa pacaran dengan Bulan sebetulnya sampai yakin mau menikah sama dia?"

Aku mengernyit kaget dan menoleh pada Papa. "Saya...tidak pacaran dengan Bulan sama sekali, Om. Kami sekeluarga terutama saya pribadi alhamdulillah tidak pernah pacaran dengan siapapun. Kalau kami serius ya langsung menikah."

Ganti Om Ahmad yang mengernyit. "Mas Dewa bisa yakin darimana? Ini Bulan nggak tahu kan niat Mas Dewa?"

"Bulan belum tahu."

"Maaf sebelumnya." Aku mengangguk. "Orang tua pasti bisa melihat siapa saja yang tertarik pada anak mereka. Tapi di antara mereka yang terang-terangan tertarik pada Bulan selama ini justru yang Om sreg itu Mas Dewa dan Arjuna yang malah nggak kelihatan tertarik. Dan sekarang tahu-tahu begini...Alhamdulillah. Hanya saja...kami ini orang biasa, Mas. Sedang Mas Dewa sekeluarga...terutama Papinya Mas Dewa..."

Sadewa & Rembulan [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang