Apa yang akan kalian lakukan saat sweet seventeen-mu malah mendapatkan suatu musibah? Seperti, diperkosa.
Ada tiga pilihan saat musibah itu datang; tetap melanjutkan hidup meski perlahan menghancurkanmu, memilih mengakhiri hidup meski hidupmu pun t...
"Bahagia itu ketika selalu bersyukur dengan takdir yang bermain dalam hidup, tanpa membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain."
~
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bagaimana rasanya disukai oleh dua pria sekaligus? Rasanya membingungkan, kan? Seperti berada diantara persimpangan jalan dengan hati dilema dan serba salah. Tapi hal itu tidak berlaku untuk Ayesha. Ia terlihat jauh lebih santai seolah perasaan orang itu hanyalah angin lalu untuknya. Meskipun awalnya memang berhasil membuat hadirnya gelenyar aneh di dalam hatinya.
Gadis itu mengunjungi Naila yang sedang terlihat murung di kantin.
"Kok mukanya asem banget, Kak? Ada masalah yah?" Ayesha yang datang, langsung melemparkan pertanyaan dan menarik kursi untuk duduk. Tanpa dipersilahkan.
Naila menghela napas lelah. Sirat matanya menunjukkan bahwa dirinya teramat kecewa dan marah dalam satu waktu. Ia tidak tau harus memulainya dari mana. Ayesha memegang punggung tangan gadis yang tengah memiliki masalah. Mungkin. Namun, dengan cepat gadis itu menariknya hingga menimbulkan tanya untuk Ayesha.
Karena tak ingin bertemu dengan gadis yang sudah menjadi akar kekecewaan di hatinya, ia memilih pergi dari tempat itu namun diikuti Ayesha yang merasa khawatir. Tepat dibelakang mushollah kampus, keduanya berhenti. Tangis Naila pecah seketika, tak ingin melihat Ayesha.
Ayesha yang tidak tahu menahu dengan keadaan ini lantas mendekat lalu memeluk Naila yang masih dalam mode memberontak.
"Kakak kenapa? Cerita sama aku, Kak." Ayesha dibuat khawatir. Ia tidak pernah mendapati Naila yang seperti ini.
"Semua ini karna kamu. Kenapa harus kamu sih, Ca? Kenapa?" teriak Naila yang lepas kendali disela isakan tangisnya.
"Aku? Aku kenapa kak? Aku ada apa salah sama kakak?" Mata Ayesha mulai memanas hebat.
Naila berbalik dan berjalan menghampiri gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya. "Ca, kamu tau Khoiril, kan? Khoiril itu cowok yang selalu kakak tunggu. Cowok yang kakak cintai. Kenapa justru kamu yang dia suka? Kenapa kamu, Ca? Kenapa?"
Semua yang dikatakan Naila berhasil membuat Ayesha tertegun. Ia tidak menyangka cowok yang dimaksud kakaknya itu adalah Khoiril.
"A-aku gak tau tentang dia, Kak. Kakak juga gak pernah cerita nama cowok yang kakak maksud, kan?" Ayesha mencoba meluruskan kesalahpahaman itu. Apakah ia harus disalahkan karena berada dipihak dicintai oleh pria yang juga dicintai oleh orang terdekatnya?
Naila bungkam. Ia terdiam membisu. Namun, matanya tak mampu berbohong dan menutupi rasa sakit dihatinya. Ayesha benar. Tapi tetap saja, akal sehatnya tertutupi karena kekecewaannya pada Khoiril yang menyukai gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.