Apa yang akan kalian lakukan saat sweet seventeen-mu malah mendapatkan suatu musibah? Seperti, diperkosa.
Ada tiga pilihan saat musibah itu datang; tetap melanjutkan hidup meski perlahan menghancurkanmu, memilih mengakhiri hidup meski hidupmu pun t...
"Semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang merasa dirinya cacat tetap akan terlihat sempurna dimata seseorang yang menerima dirinya apa adanya." AyshaNH
Setuju?
~
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah beberapa malam Zidna tidur bersama putrinya. Padahal, Ayesha sudah menolak keras untuk satu kamar dengan Bundanya. Karena ulah kedua putranya, ia jadi was-was meninggalkan Ayesha sendirian.
"Bun, udah tiga malam loh Ayah gak dipeluk Bunda. Gak kasian sama Ayah tidur sendirian?" Ayesha berusaha membujuk Bundanya. Ia yakin kalau dirinya sudah baik-baik saja.
"Ayah pasti ngerti kok," jawab Zidna lalu mengulas sebuah senyuman hangat pada putrinya.
"Tapi Echa udah gede', Bun. Masa' ditemenin bobo'. Echa baik-baik aja kok. Bunda temenin Ayah, yah," rengek Ayesha.
Ini sudah kesekian kali gadis itu membujuk Bundanya agar kembali ke kamar. Meskipun wanita paruh baya itu Bundanya, tetap saja ia sudah malu untuk bermanja-manja diumurnya yang sudah berkepala dua.
Zidna memasang wajah sedih, merasa bahwa Ayesha tidak nyaman dengan keberadaannya.
"Kamu gak suka tidur sama Bunda?" Wanita paruh baya itu terdengar lirih.
Dengan cepat Ayesha menggeleng kuat. Ia bangkit dari tidurnya lalu menangkup wajah Bundanya.
"Gak gitu, Ibu Boss. Echa udah sehat kok. Aku gak enak sama Ayah. Kalo Bunda pisah ranjang, Adek Echa kapan jadinya?"
Zidna terbelalak kaget. Ia tidak menyangka bahwa Ayesha bisa mengeluarkan kalimat itu. Darimana saja asal kata itu ia dapatkan?
"Cha, kamu–"
"Kalo Bunda tetep pisah ranjang, Ayah cari yang lain loh buat nemenin Ayah. Mau?" ujar Ayesha menakut-nakuti.
Banyak perempuan diluar sana, bahkan hampir semua perempuan tidak ingin diselingkuhi atau dipoligami. Termasuk dirinya. Tentu, kalimat yang terlontar dari lisan Ayesha berefek kuat untuk Bundanya.
Zidna menyentil dahi putrinya hingga tercetak warna merah disana. "Na'udzubillah, Ayah tetap setia sama Bunda kok, Cha. Gak baik ngomong gitu."
"Makanya, datengin Ayahnya. Kasian sendirian." Sepertinya akan berhasil melihat reaksi Zidna yang sudah merapikan rambutnya dan hendak menuju kamarnya.
Sebelum wanita paruh baya itu menutup pintu, ia berpesan pada Ayesha. Jika ada apa-apa, ia minta pada putrinya untuk berusaha tetap tenang. Jangan melakukan hal yang ceroboh atau melukai diri sendiri.